Cle membuka matanya dengan sesekali menguap lebar, ia masih di sini di kastil tua yang megah.
Daun jendela ia buka lebar dan mendapati hamparan rerumputan dan berbagai macam bunga yang indah. Udara sejuk sehabis hujan kemarin membuatnya menghirup napas panjang.
"Ah, nyaman sekali udaranya."
Cle merentangkan kedua tangannya dan menghela napas panjang.
"Anda sudah bangun, Nona?" Elieda menghampiri Cle yang sedang menikmati udara pagi.
"Bibi Elieda, apa itu semua milik tuan yang tinggal di sini?" tanya Cle menunjuk taman bunga. Ia memang menyukai bunga terutama lavender.
"Iya semuanya milik tuan Elgio," jawab Elieda singkat.
"Tuan Elgio? Apa itu nama pemilik kastil ini?"
Elieda menggangguk sambil menyerahkan pakaian ganti. Pakaian itu dulunya milik sang kakak yang meninggal di usia yang sama dengan Cle.
"Cepatlah mandi, Nona. Tuan sedang menunggu anda di bawah."
Cle segera mengambil pakaian tersebut dan bersiap untuk membersihkan diri.
"Jangan lama-lama, Nona. Tuan tidak menyukainya."
Cle hanya berdehem saja di dalam kamar mandi. Ia betah di sini, karena bisa mandi dengan air hangat. Jika di rumahnya, ia harus merebus dulu.
*****
Elgio memandang layar laptop yang menampilkan Cle sedang berdandan. Tak ada tawa atau senyum dari bibirnya. Ekspresinya masih tetap sama.
"Tuan, apa anda ingin sarapan di meja makan atau di sini?" Walkens yang berdiri seraya menunduk tak berani menatap Elgio.
"Aku akan turun."
"Baik, Tuan. Nona Clementine akan saya panggil."
Walkens hendak melangkah dan membuka pintu ketika Elgio memanggilnya.
"Siapa nama gadis itu?"
"Nona Clementine. Ia lebih suka dipanggil Cle, Tuan."
Elgio menggangguk tanda mengerti dan mempersilakan Walkens melakukan tugasnya kembali.
"El, ayah tahu kau pasti membaca pesan ayah. Ibumu sudah berangkat menuju ke sana. Sambut ibumu dengan baik, Nak."
Elgio membaca dan meletakkan kembali ponselnya tanpa berniat membalasnya.
Ia ingin segera turun dan melihat gadis yang semalam tersesat di kastilnya.
Elgio yang tak memiliki perasaan emosi tidak menyadari jika ia ada ketertarikan dengan gadis itu. Namun, ia belum bisa memahami artinya.
****
Cle yang sudah berpakaian rapi menuruni anak tangga menuju meja makan. Ia gugup bertemu pemilik kastil ini dan beranggapan jika tuan Elgio yang dimaksud Elieda tadi adalah seorang pria tua yang baik.
"Apa tuan Elgio itu seumuran dengan ayah?" batin Cle yang gugup seraya berjalan pelan.
Pintu besar itu dibuka oleh dua lelaki berpakaian seragam dan mempersilakan Cle masuk.
Sekali lagi Cle berdecak, karena ini bukanlah tempat makan melainkan menyerupai
"Silakan, Nona."
Elieda menunjukkan salah satu kursi dan menyuruhnya duduk.
Di sampingnya ada seorang pria yang sedang membaca koran. Cle tak bisa melihat wajahnya.
"Terima kasih sudah menolong saya, Tuan." Cle berujar dengan mengucapkan rasa terima kasihnya.
Tak ada jawaban, Cle takut jika perkataannya menyinggung perasaan.
"Sebentar lagi saya akan pulang. Maaf merepotkan kalian semua."
Elgio menutup korannya dan melempar ke sembarangan tempat. Cle terkejut sekaligus terpana melihat pemilik kastil bukanlah pria tua melainkan seorang pria bermata biru dengan tatapan yang dalam.
"Kata siapa kau boleh pulang?"
"Heh? Apa maksud anda, Tuan?"
Cle gemetar melihat iris mata Elgio. Ada sesuatu yang gelap di sana, Cle tak tahu apa itu. Ia merasa harus segera pergi dari sini.
"Sekali kau berada di sini maka selamanya kau harus di sini, Clementine Clarence Adalwaf."
Cle membeliak, ia tak percaya jika pria yang ada di hadapannya sekarang mengetahui nama panjangnya. Padahal mereka tak bertemu tadi malam.
"Jangan biarkan matamu keluar. Aku tak ingin kau merusak makanku pagi ini," sindir Elgio dengan tajamnya.
"Tapi aku harus pulang, Tuan. Ayah akan memarahiku nanti." Cle mau beranjak dari tempat duduk, ia tak peduli jika perutnya minta diisi.
Namun, tangan kekar Elgio memegangnya dan membuat Cle kembali jatuh terduduk.
"Orang suruhanku sudah kuperintahkan memberi kabar untuk ayahmu," ucap Elgio pelan.
"Aku tidak mau. Aku ingin pulang!"
Usaha Cle sia-sia. Semua akses pintu atau jendela sudah tertutup sejak tadi. Ia hanya berlarian di sekitar ruangan makan sedangkan Elgio dengan tenangnya menyantap sarapan.
"Sebenarnya aku bisa mengantarmu pulang asal kau memenuhi syaratnya."
Cle yang sudah capek belarian, memilih duduk di lantai dengan kaki yang direnggangkan. Ia tak peduli tatapan yang ditunjukkan Elgio padanya.
"Apa syaratnya, Tuan Elgio?"
Masih dengan santainya sambil mengambil napas, Cle bertanya.
"Apa kau tidak lapar, Cle?"
Cle menggeram kesal, bukannya menjawab pertanyaannya, Elgio malah memberinya pertanyaan.
"Tentu saja aku lapar karena belarian," ucapnya kesal sampai ke ubun-ubun.
Cle yang memang bandel, ia malah menuju meja makan, duduk dengan santainya tanpa memikirkan etika lalu mengambil beberapa makanan yang sudah tersedia di meja.
Elgio memandangnya tak suka. Gadis yang baru dikenalnya berbuat tak sopan di meja makan.
"Apa? Anda tidak suka melihat cara aku makan?"
Cle memang sengaja melakukannya. Ia beranggapan jika dirinya berbuat yang tak disukai Elgio maka ia bisa dibebaskan.
Cle tidak bodoh, ia tahu tata krama makan yang baik dan sopan. Namun, ia tak ingin pria itu menahannya.
"Makanlah. Ambil semua yang kau sukai. Pasti kau kelaparan."
Perut Cle sudah tak muat lagi. Ia menghabiskan separuh sop krim dan daging sapi yang jarang dimakannya.
"Anda tahu, Tuan? Aku mengucapkan terima kasih, karena semalam anda menolongku. Tapi menahanku di sini sebagai tamu itu sebuah kesalahan. Anda pasti dihukum," jelasnya sambil meneguk segelas air putih.
"Tidak ada yang berani membawaku ke jalur hukum."
"Pria menyebalkan."
Cle ingin sekali memanah pria ini, diajak bicara malah menunjukkan ekspresi datar. Bukannya marah atau emosi. Sikap Elgio membuat Cle bingung sekaligus kesal.
"Memang anda Tuhan?" tanya Cle balik dengan nada sarkasm.
"Bisa dikatakan begitu."
Cle menghela napas dan matanya melihat langit-langit. Ia merasa Elgio itu adalah pria yang aneh. Selama ia kenal dengan orang-orang, mereka selalu menunjukkan ekspresi.
Sejak tadi tak ada senyum, tawa atau wajah terkejut yang ditunjukkan Elgio.
"Mengapa anda menahanku di sini? Padahal di kastil ini ada begitu banyak pelayan. Apa anda tidak punya teman?"
Elgio yang sedari tadi hanya melihat Cle, tidak menyukai pertanyaan itu. Ia memiliki sahabat yaitu Otto.
"Lebih baik kau diam daripada pisau ini menusuk lehermu," ucap Elgio tajam.
"Aku cuma bertanya. Dasar pria aneh."
*****
"Apa kau menemukan adikmu, Ever?"
"Belum, Yah. Aku tidak tahu Cle di mana."
Everhart terlihat putus asa tak menemukan adiknya yang hilang dari rombongan kemarin malam. Semua desa sudah ia jelajahi, tetapi sang adik tak menampakkan diri. Ia sempat berpikir jika Cle ada di kastil tua itu. Namun, ia tepis dugaannya. Tak mungkin Cle ada di sana, karena kastil itu dimiliki oleh seorang pria yang kejam. Semua rumor mengenai kastil itu sudah terdengar sejak dulu.
"Apa ada yang bernama Valdemart di sini?"
Valdemart yang berdiri di depan pintu terkejut melihat kedatangan beberapa orang di rumahnya.
"Iya saya sendiri. Ada apa?"
"Nona Clementine sekarang ada di kediamaan tuan kami."
Ada guratan lega, setidaknya Cle baik-baik saja.
"Biar saya yang menjemputnya," sahut Everhart sembari membawa anak panahnya.
Namun, utusan Elgio itu menghalangi jalannya.
"Ada apa?" tanya Everhart bingung.
"Maaf tuan. Putri anda sudah menjadi milik tuan kami. Elgio Stein Glasdtone."
Baik Everhart dan Valdemart terpaku. Bagaimana bisa Cle menyelinap di kastil itu?
Semua warga di sini begitu takut jika nama Glasdtone disebut. Bahkan pihak kepolisian enggan berurusan dengan keluarga itu terutama Elgio.
"Tapi kalian tidak bisa seenak mengambil orang bagai barang!" Amarah Everhart meledak.
Langkahnya dihalangi oleh pria bertubuh besar dan mendorongnya hingga terjatuh.
"Kalau anda bersikeras maka jangan salahkan kami jika tempat ini akan musnah."
Valdemart tahu ia tak boleh mencari masalah dengan keluarga itu terlebih lagi anak bungsu dari klan Glasdtone. Ia harus mencari cara yang baik.
=Bersambung=
A ’Chiad Bheachd = Kesan pertama