Perubahan Cinta

1471 Words
Gemuruh kenalpot sepedah motor membangunkan tidurku di pagi hari. Hati cukup jengkel kenapa ada orang yang menyalakan motor sekencang ini? aku mencoba membuka dan baru tersadar bahwa ternyata aku tidur tidak di kamarku yang di kampung, dimana jarak jalan yang biasa dilewati kendaraan bermotor hampir 100 meter lebih, jadi suara kenalpot sekeras apapun tidak akan membangunkan aku. Kecuali temanku sendiri. Sedangkan di sini tepat di jendela yang jaraknya hanya 3 meter sudah lalu-lalang motor berjalan. Aku bangun dan mencari Agus. Karena saat aku periksa di seluruh ruangan kos tidak aku temukan panampakan Agus. Akhirnya aku pergi mandi. Yang keren dari kos ku ini dia pakai shower jadi aku berasa hujan-hujanan apabila mandi. Tidak seperti di kampung yang harus menimba air dulu untuk mandi. Setelah aku selesai mandi aku bersiap untuk keluar mencari sarapan. Sepertinya tidak terlalu jauh karena kemaren aku melihat sepanjang jalan banyak warung berjejer jadi aku memutuskan tidak mengunci kamar, karena takut nanti kalau sampai Agus pulang aku tidak di kamar. “Maann.. mau kemana?” Teriak Agus tiba-tiba dari belakang yang membuatku terkejut. Ternyata Agus sedang duduk di teras ditemani secangkir kopi. “Loh.. dari kapan kamu di sini Gus?” Tanyaku balik ke Agus. “Dari jam 7 aku sudah duduk di sini man..” Jawab Agus santai. “Ngapain Gus..?” Tanyaku lagi. “Ngopi Man, sambil lihat-lihat jalan.. hehehe..” Jawab Agus sambil tersenyum. “Bilang aja lihat-lihat cewek Gus..” Ucapku sambil beranjak pergi. “Mau kemana Man?” Teriak Agus. “Cari sarapan Gus buat kita berdua..” Jawabku singkat. “Oke Man sippp…!!!” Ucap Agus sambil mengacungkan jempolnya. Aku baru tahu tempat aku tinggal sangat padat bangunanya. Bahkan di depan kos kami sangat ramai, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang lalu-lalang untuk aktivitas. Bahkan untuk membeli makanan saja aku hanya tinggal melangkah kurang lebih 20 meter. Aku melihat Agus sangat antusias dengan keramaian tempat ini ditambah lagi dia terbebas dari tugasnya untuk ke sawah dan mencari rumput. Setelah sarapan rencanaku akan mengajak Agus untuk jalan-jalan ke beberapa kampus di kota Malang, sambil mencari-cari lowongan pekerjaan. Saat kami akan berangkat tiba-tiba Devi datang ke tempat kami. “Mau kemana Man?” Tanya Devi Antusias. “Mau jalan-jalan Dev sambil cari pekerjaan..” Jawabku santai. “Agus juga mau cari kerja?” Tanya Devi ke Agus. “Eee.. eee.. engg.. gak.” Jawab Agus terbata-bata. “Yaudah Agus ikut aku aja, nemenin nyari buku..” Ucap Devi sambil menarik Agus. Di sana Agus hanya cengengesan tanpa ada perlawanan, seolah-olah setuju dengan ajakan Devi. Aku juga tidak mau memaksa Agus untuk ikut denganku, karena aku mengajak Agus karena dari pada dia berdiam diri di kos sendiri. Kampus yang aku datangi pertama adalah Universitas Brawijaya atau biasa disingkat UB. Aku berkeliling santai sambil menengok kanan kiri, berharap apa yang aku cari aku temukan di sana. Iya Sari yang aku cari di sini. Sebenarnya dalam pikiranku sudah tidak terlalu peduli dengan itu semua, tetapi hati ini seakan mengajaku bernostalgia melihat dia dari kejauhan. Semudah itu bagi hati ini menepis rindu terhadap orang yang tidak pernah bertamu. Aku berhenti di gedung fakultas manajemen. Aku tahu itu karena tulisan manajemen tertempel jelas di atas gedung. Aku memarkir motorku dan mulai berjalan kaki menyusuri lorong-lorong dan jalan-jalan di sana, menengok ke kanan dan ke kiri. “Kereenn banget ini kampus..” Gumanku dalam hati. Aku tidak tahu Sari jurusan apa, karena saat Agus aku tanya dia juga tidak tahu apa-apa tentang itu. bBrbekal informasi dari Devi, paling sering cewek kuliah ambil jurusan Administrasi, Manajemen dan sejenisnya. Akhirnya aku berkeliling di gedung ini. Aku melihat kanan kiri hanya terlihat cewek-cewek cantik dan cowok-cowok ganteng yang berpenampilan modern. Mereka terlihat sangat pintar menurutku dengan gayanya yang sangat gaul. “Beruntung sekali cowok-cowok di sini yang bisa dekat dengan Sari..” Gumanku dalam hati. “Ahh.. sudahi halusinasimu, kembali ke duniamu Man” Gumanku sendiri sembari berhenti berkhayal. Hampir 2 jam aku di kampus ini, aku tidak menemukan apa yang aku cari. Mungkin memang belum rezekiku. Disini aku melihat banyak sekali cewek yang jauh lebih cantik dari Sari, tapi nyatanya bagi mataku yang sudah nyaman melihat kesederhanaan Sari membuat wanita lain tidak terlihat begitu menarik. Akhirnya aku memutuskan kembali ke tempat kos. Aku sampai divtempat kos dan tidak melihat Agus di sana. Aku biarkan saja tanpa menanyakan posisi Agus. Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan Devi. Aku membaringkan badanku sembari melihat lowongan pekerjaan di media social. Sangat banyak pekerjaan yang tersedia di kota ini ternyata, membuatku bingung sendiri. Akhirnya aku memutuskan membuat lamaran yang banyak agar bisa aku taruh di banyak tempat kerja. Di tengah-tengah aku menulis lamaran, tiba-tiba aku terkejut dengan kedatangan Agus yang masuk kamar tanpa mengetuk pintu dan tanpa basa-basi dia langsung tidur di kasur. “Kenapa Gus?” Tanyaku sambil melihatnya. “Oke man…” Jawab dia sambil cengengesan. Aku berfikir apa Agus kesurupan jin di eskalator? karena aku perhatikan dia hanya senyum-senyum sendiri dan tidak nyambung saat ditanya. Ahh.. aku tidak mau berfikir aneh-aneh, aku mau fokus menulis lamaran saja biar cepat selesai. “Assalamuallaikum Bu..” Tiba-tiba suara keras Agus menelphone ibunya. “Bu aku tidak jadi pulang besok, Giman sakit sekarang, kasihan kalau ditinggal sendiri…” Ucap Agus saat telephone dengan ibunya. “Yaudah bu salam sama bapak, Assalamuallaikum..” Ucap Agus sembari menutup telephone. Aku cukup terkejut mendengar Agus yang bercerita ke ibunya kalau aku sakit. Padahal kondisiku sehat-sehat saja. Yang aku takut kalau sampai Ibu Agus memberi kabar ke Ibuku kalau aku sakit, pasti orang-orang rumah akan panik dan bisa-bisa juga menyuruhku untuk pulang. “Heh.. Gus.. yang bener aja..!!! Kenapa bilang kalau aku sakit ke ibumu?” Tanyaku sembari melempar bantal. “Ya gak apa-apa Man, biar aku bisa dibolehin lama di sini, kan sama nemenin kamu Man..” Jawab Agus cengengesan. Baru 2 hari di Malang Agus sudah menujukkan perubahan yang aneh, aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya. “Man kalau orang kayak aku kuliah bisa gak ya?” Tanya Agus tiba-tiba ke Aku. “Ya Bisa Gus, semua orang bisa kuliah..” Jawabku singkat. “Tapi aku males mikir berat Man..” Ucap Agus sambil menggaruk kepalanya. “Gampang Gus, kamu tinggal cari jurusan yang mudah, kayak pertanian atau peternakan itukan sesuai buat kamu, kayak kegiatanmu di kampung.” Jawabku sambil menulis lamaran. “Owalah ada ya kayak gitu Man, Devi itu jurusan apa ya Man?” Tanya Agus antusias. “Dia jurusan Desain Gus.” Jawabku singkat. Obrolan tentang kuliah dengan Agus masih terus berjalan, mulai dari berapa lama kuliah, jurusan apa saja yang ada di kampus sampai berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk kuliah. Aku hanya menjawab sesuai dengan apa yang aku tahu sambil menunjukan browsur-browsur kampus yang aku miliki. Tapi yang bikin aku kaget, dia sangat ingin kuliah, sampai-sampai dia ingin daftar saat ini juga saat aku kasih tahu browsur biaya kuliah jurusan pertanian, yaa mungkin setelah melihat itu Agus berfikir biaya kuliah ternyata tidak terlalu mahal, bisa dijualkan 1 sapi di kampung, tapi aku yakin orang tua Agus tidak akan mengizinkan Agus kuliah. “Kenapa Gus tiba-tiba pengen kuliah?” Tanyaku penasaran. “Hehehe.. Biar pinter aja man.” Jawab Agus cengengesan “Gara-gara Devi ya?” Tanyaku lagi. “Hehehe enggak man…” Jawab Agus. “Yang bener Gus..?” Tanyaku lagi untuk memastikan. “Hehehe.. sebenernya iya Man..” Jawab Agus malu. “Waduh Gus baru kenal mahasiswi udah mau kuliah aja Gus.” Ucapku sambil menggelengkan kepala. “Kenapa Man? Katamu harus berfikir maju kan.” Jawab Agus dengan yakin. “Iya Gus aku dukung, jhoosss pokonya kamu!!!” Jawabku sambil mengacungkan jempol. “Iyo Man, kita harus berubah..” Ucap Agus yang tiba-tiba terlihat cerdas. “Tapi bagaiman kamu izin ke bapak ibumu Gus?” Tanyaku singkat ke Agus. “Waduh.. iya gimana ya man..” Jawab Agus bingung. Agus bercerita tentang bagaimana pertama kali melihat Devi, Agus berkata langsung suka saat itu, baik dari wajah maupun dari pembawaanya Devi yang menurut Agus menyenangkan, Agus juga menceritakan setelah tadi dia mengantar Devi ke toko buku, Agus merasa Devi sangat pandai dan dewasa, Agus sempat bertemu dengan teman-teman Devi di toko buku dan dia bilang kalau semua temen-temen Devi sangat ramah kepada dia. Mendengar cerita panjang Agus, akhirnya aku menyimpulkan yang pertama Agus ingin kuliah karena ingin mengimbangi wawasan Devi agar bisa lebih dekat dengan Devi dan yang kedua agar bisa memiliki karakter seperti Devi dan teman-temanya. Aku menjelaskan ke Agus bahwa untuk tahun ini semua pendaftaran kuliah sudah selesai, kita baru bisa daftar kuliah tahun ajaran selanjutnya yaitu 1 tahun lagi. Agus pun mulai memikirkan sama seperti apa yang aku pikirkan yaitu mencari pekerjaan dulu. Ternyata cinta bisa merubah pola pikir Agus menjadi jauh berbeda, untungnya berubah kepada positif. Karena sejatinya perubahan cinta tidak mengenal positif atau negative tapi yang ada adalah bagimana cara kita mengarahkanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD