“Mannn.. bangun Maaaann, menurutmu ini bagus gak?” tanya Agus membangunkan tidurku.
“Apa sih Gus masih pagi berisik banget,” jawabku dengan jengkel.
“Pagi apa Man..!!! Udah sore ini!!!” balas Agus dengan nyolot.
Aku melihat jam dinding dan ternyata memang sudah sekitar jam 3 sore, tidurku benar-benar pulas hari ini. Mungkin karena terlalu lelah, semalam warung bener-bener ramai sampai tidak sempat untuk duduk. Agus membangunkan aku dengan menujukkan kotak kecil yang aku sendiri tidak begitu jelas apa itu.
“Apa itu Gus?” tanyaku ke Agus.
“Lihat Man, ini cicin buat Devi,” jawab Agus sambil menunjukkan cicin emas yang dia bawa.
“Hahh.. Emas asli Gus?” tanyaku dengan ragu.
“Iya dong Man tapi Cuma 2 gram,” jawab Agus dengan bangga.
“Serius Gus mau ngasi itu?” tanyaku dengan tegas ke Agus.
“Iya Man, doain aku diterima ya nanti,” jawab Agus dengan bangganya.
“Semahal itu Gus untuk Devi?” ucapku memperjelas.
“Iya Man, cewek seperti Devi itu harus kita hargai lebih mahal, bahkan dia lebih berharga dari cicin ini,” jawab Agus dengan puitis.
Agus tidak tahu bahwa sebentar lagi dia akan terluka, bukan terluka karena ditolak, tapi terluka karena harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Agus begitu yakin kalau Devi juga suka dengan dia. Sampai Agus rela mebelikan kado ulang tahun Devi perhiasan yang harganya 2 bulan kos kita. Aku tidak menanyakan dari mana uang itu. Karena aku tahu pasti mudah bagi orang tua Agus memberi uang dengan nilai segitu. Yang aku pertanyakan untuk apa memberikan orang perhiasan semahal itu. Sepertinya Agus serius ingin menyampaikan perasaanya ke Devi di hari ulang tahunnya.
“Maan.. aku punya rencana sewa atap café buat nembak Devi biar romantis,” ucap Agus sambil tersenyum.
“Berapa Gus biayanya?” tanyaku ke Agus.
“200.000 katanya Man,” jawab Agus dengan mudahnya.
“Gilaa 1.200.000 Gus buat Devi? Yakin?” tanyaku memastikan lagi.
“Iya Man yakin sekali aku,” jawab Agus santai.
“Kapan rencanamu Gus?” tanyaku lagi.
“Besok Man, jadi kamu wajib bantu aku ya!” seru Agus dengan semangat.
“Oh.. iya Gus,” jawabku singkat.
Aku tidak berani melarang Agus. Karena memang aku bukan orang yang suka melarang orang untuk melakukan sesuatu. Aku hanya khawatir saja apabila ternyata Agus sudah mengeluarkan uang sebanyak itu tapi malah sakit hati setelah ditolak oleh Devi. Aku pengen sekali menyampaikan ke Agus bahwa sebenarnya Devi sudah punya pasangan, tapi aku juga ragu mau menyampaikan itu. Karena siapa tahu informasi yang aku dapat tidak benar, karena hanya bermodal cerita temannya aja. Akhirnya saat Agus tidur siang aku mencoba ke tempat Devi. Aku ingin menanyakan terkait perasaan Devi ke Agus. Aku tidak ingin sampai Agus ditolak oleh Devi. Sebagai seorang teman aku hanya bisa memastikan bahwa Agus jangan sampai patah hati.
“Ada apa Man?” tanya Devi keluar dari ruang tamu kosnya.
“Ada yang mau aku tanyakan Dev,” jawabku sembari duduk.
“Apa?” tanya Devi singkat.
“Kamu punya pacar?” ucapku tanpa basa-basi.
“Hahh… kenapa tanya itu?” tanya Devi heran.
“Iya tanya aja, punya gak?” ucapku ke Devi.
“Haduuh.. gimana ya Man,” jawab Devi dengan bingung.
Ternyata benar apa yang disampaikan oleh Cindy. Kalau Devi sudah memiliki pasangan. Devi bercerita bahwa dia sekarang menjalin hubungan jarak jauh dengan seorang cowok yang tinggal di Surabaya. Mereka sudah berpacaran sejak SMA, jadi kurang lebih sudah 2 tahun. Sang kekasih memilih kuliah di Surabaya sedangkan Devi memilih kuliah di Kota Malang. Awal LDR semuanya berjalan dengan baik. Hubungan mereka tidak ada masalah sama sekali, bahkan sang kekasih sering berkunjung ke Kota Malang dan sebaliknya. Hubungan mereka mulai bermasalah saat hampir 10 bulan mereka menjalani LDR. Mereka mulai sering adu argument, saling memaki sampai sering tidak memberi kabar berhari-hari karena sama-sama marah. Devi bercerita bahwa akhir-akhir ini memang sang kekasih tidak begitu perhatian dengan dia. Sehingga membuat Devi befikir bahwa sang kekasih memiliki pasangan baru di sana. Saling curiga itu yang membuat mereka sering berdebat sampai marah-marah.
“Kamu masih sayang?” tanyaku ke Devi.
“Iya masih,” jawab Devi sambil mata berkaca-kaca.
“Kenapa tidak memperbaiki hubungan kalian?” tanyaku lagi.
“Hubungan kita sudah terlalu buruk Man, antara melepas dan melanjutkan sama-sama sakit Man,” jawab Devi.
Aku tidak memberikan solusi yang baik dalam masalah ini. Karena aku tidak pernah merasakan itu. Aku hanya ingin memastikan andai saja besok Agus mengungkapkan perasaan apakah diterima oleh Devi.
“Kenapa Man tiba-tiba tanya itu?” tanya Devi.
“Ada yang suka sama kamu Dev,” jawabku dengan singkat.
“Siapa? Kamu ya?” ucap Devi sambil tersenyum.
“Bukan aku Dev,” jawabku.
“Yaahhh… terus siapa?” ucap Devi dengan cemberut.
“Agus suka sama kamu Dev,” jawabku dengan singkat.
“Hah.. masak?” tanya Devi tidak yakin.
“Iya dia menyiapkan kejutan buat kamu besok di hari ulang tahunmu,” ucapku menjelaskan.
“Kejutan apa?” tanya Devi dengan penasaran.
“Dia mengungkapkan perasaannya ke kamu,” jawabku ke Devi.
“Mmmm.. Tapi gimana ya Man,” jawab Devi bingung.
“Kamu suka apa tidak sama Agus?” tanyaku tanpa basa-basi.
Aku melihat Devi seolah-olah tidak percaya dengan apa yang aku sampaikan. Devi tampak terkejut ketika tahu bahwa Agus suka dengan dia. Devi menceritakan bahwa sebenarnya tidak ada yang special dari hubungan dia sama Agus. Devi mengganggap bahwa hubungan dia dengan Agus ya sama seperti teman-teman cowok yang lainnya.
“Berarti nanti Agus bakal kamu tolak?” tanyaku memotong cerita Devi.
“Ya.. belum tentu juga Man,” jawab Devi bingung.
“Hahh.. maksudnya?” tanyaku kaget.
Devi menceritakan pertama bertemu dengan Agus memang biasa saja sama seperti dengan teman-teman cowok yang lainnya. Tetapi semakin lama kenal Agus, Devi mulai suka dengan cara Agus memperlakukan dia. Devi merasa Agus sangat dewasa dan mengayomi dia, tidak seperti pasangan yang sekarang, terkesan cuek dan dingin.
“Berarti nanti kamu terima ya?” tanyaku memastikan.
“Mungkin,” jawab Devi sembari tersenyum kecil.
“Terus pasanganmu sekarang?” tanyaku ke Devi.
“Iya nanti aku putusin,” jawab Devi.
Sebenarnya Devi sudah sangat lelah dengan hubungan yang mereka jalanin. Devi bertahan bukan karena perasaan saling cinta terhadap hubungan, tetapi saling sayang terhadap waktu yang sudah lama mereka jalani bersama. Setelah memastikan bahwa Agus besok tidak akan patah hati aku pamit pulang ke Devi dan kembali ke kos seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Waktu sudah menujukkan pukul 18.00, yang artinya aku harus mulai bekerja lagi berjualan nasi goreng. Warung Pak Sholeh semakin hari semakin ramai, kami sekarang membangun tenda kecil agar orang-orang saat makan tidak terkena hujan. Aku yang biasanya pulang jam 1 atau 2 malam, sekarang mulai pulang lebih awal karena ramainya pembeli.
Sepulang dari berjualan aku melihat Agus di ruang TV.
“Gus…!!!” sapaku dari belakang.
“Ow Man,” jawab Agus dengan suara yang aneh.
“Ini Gus nasi goreng,” ucapku sambil mendekat memberikan nasi goreng.
“Oke Man,” jawab Agus sambil menoleh.
“Astagfirwoh…!!!” ucapku kaget.
Aku melihat sesosok hantu dengan wajah putih dan bola mata hitam menoleh ke arahku. Kaki seketika lemas dan mulut seolah membisu.
“Woii.. kenapa Man? Ini Agus!” ucap Agus dengan santainya.
Ternyata Agus menggunakan masker di wajah. Saat aku tanya alasanya kenapa dia melakukan itu. Agus menjelaskan agar ketika besok bertemu dengan Devi dia terlihat lebih ganteng. Agus mengetahui cara itu dari sinetron yang sering dia lihat. Walaupun menurutku tidak akan merubah apapun masker yang dia pakai.
Akhirnya hari ulang tahun Devi tiba, yang artinya Agus akan menyelesaikan misinya untuk mengungkapkan cinta ke Devi. Aku terpaksa izin tidak bekerja hanya untuk membantu Agus agar rencanya berhasil. Agus sudah menyewa sebuah café yang akan dia gunakan untuk makan malam bersama Devi.
“Gimana Man aku sudah keren?” tanya Agus sambil memamerkan baju barunya.
“Oke sih,” jawabku singkat.
“Yaudah ayo cepet kamu jemput Devi,” seru Agus dengan belagunya.
Aku menjemput Devi untuk aku arahkan ke café. Sebenarnya rencana Agus adalah memastikan bahwa di café nanti Devi tidak tahu kalau ada Agus supaya terkesan romantis, itu kata Agus dengan belagunya. Tapi kenyataanya Devi sudah tahu akan rencana itu. Karena aku yang memberi tahu. Bukan bermaksud merusak rencana Agus, aku hanya ingin memastikan bahwa jangan sampai Agus sakit hati. Makanya aku ceritakan semuanya ke Devi. Saat perjalanan ke cafe aku terus bertanya tentang keseriusan Devi. Dan Devi juga sudah meyakinkan aku kalau dia akan menerima Agus.
“Kenapa sih Man, kok takut banget kalau Agus aku tolak?” tanya Devi.
“Setelah mengenal kamu Agus jadi berubah Dev, dia jadi ikutan pengen kuliah,” jawabku menjelaskan.
“Yang bener?” tanya Devi yang masih ragu.
“Iya Dev, Agus pengen mengimbangi pemikiranmu, Agus pengen setara denganmu.” jawabku.
“Terus kalau aku tolak gimana?” tanya Devi lagi.
“Aku takut kalau kamu tolak dia sakit hati dan milih pulang ke kampung, akhirnya tidak jadi kuliah” jawabku.
“Owalah.. gitu ya,” ucap Devi sambil mengangguk.
Kami ngobrol panjang lebar sepanjang jalan tentang Agus. Tidak terasa akhirnya sudah sampai di cafe dan aku menyuruh Devi ke lantai atas café karena di sana Agus sudah menunggu, saat Devi mulai masuk, aku mencoba menghubungi Agus untuk memberi tahu bahwa Devi sudah sampai. Aku memilih pulang kembali ke kos dan tidak tahu apa yang terjadi dengan Agus dan Devi, karena yang cukup aku tahu Agus akan pulang dengan kabar gembira.