Part 6 : Pulang Malam

1067 Words
Setelah menumpahkan kesedihannya karena ditinggal nikah oleh mantan kekasihnya yang sampai saat ini masih dicintainya itu, Arka pun mengajak Sherly pulang ke rumah karena hari sudah larut. Selain itu Arka juga takut Sherly sakit karena terkena angin malam dan juga ia takut dimarahi oleh Juna karena membawa anak gadis orang main sampai larut malam. “Kok lama? Betah banget di kondangannya?” sindir Juna yang membuat langkah Sherly dan Arka terhenti. Mereka berdua pun menoleh ke belakang dan mendapati Juna tengah duduk di sofa sambil bersedekap d**a. Sherly menelan air salivanya kasar. Ia gugup sekali karena baru saja tertangkap basah oleh Juna—bosnya karena pulang malam. Sementara itu Arka si pelaku utama yang membawa Sherly keluar hingga pulang larut malam hanya cengengesan. “Kok jam segini baru pulang?” tanya Juna kembali. Juna bangkit dari duduknya, lalu menghampiri adik dan pekerja barunya yang tampak diam mematung di sana. “Tumben nanya, biasanya juga Abang enggak peduli Arka pulang larut malam juga,” jawab Arka. Ini Arka nanya enggak pakai nada sinis loh, biasa aja bahkan terdengar seperti sedang mengajak abangnya bercanda. “Abang nanya karena kamu keluar bawa anak gadis orang. Kalau ada apa-apa gimana?” balas Juna. Bukannya ia baru peduli sekarang Arka pulang larut malam, tetapi kali ini Arka bawa anak gadis orang dan biasanya ia tak bertanya karena jika Arka pulang larut malam berarti adiknya itu lembur. Bukannya marah mendengar omelan abangnya, Arka justru cengengesan, karena baginya setiap Juna mengomeli adik-adiknya bukan berarti Juna marah atau benci kepada adik-adiknya, tetapi justru karena peduli. Bagi Arka dan adik-adiknya Juna ini menjadi sosok kakak, ayah, dan ibu bagi mereka. Pokoknya abang Juna paling the best deh. “Hehehe, maaf Bang," ucap Arka. Ia mengakui kesalahannya, seharusnya tadi ia tidak membawa Sherly ke taman komplek dan curhat berjam-jam di sana. Juna menggelengkan kepalanya, ia pun melirik ke arah Sherly yang tengah menundukkan kepalanya. Sepertinya gadis itu merasa bersalah dan ketakutan karena baru saja ia mengomeli Arka di hadapannya. Sungguh, Juna tidak marah kok sama Sherly. “Sher, kamu enggak diapa-apain ‘kan sama adik saya?” tanya Juna dengan lembut, berbeda saat berbicara kepada Arka yang berbicara dengan nada tegas. “E-enggak, Pak,” jawab Sherly dengan gugup. Suaranya terdengar bergetar, seperti orang yang sedang ketakutan. Juna pun mengusap rambut panjang Sherly yang terlihat kusut, berbeda seperti tadi sebelum berangkat rambutnya terlihat rapi. Namun Juna tidak mau ambil pusing persoalan rambut Sherly yang penting gadis itu sampai dengan selamat tanpa lecet atau kekurangan sedikit pun. "Jangan panggil Pak, panggil Abang aja kayak yang lainnya," kata Juna. Jujur ia tidak nyaman dipanggil bapak oleh Sherly, karena jika Sherly memanggilnya seperti itu membuatnya seperti sudah tua. "Baik Pa— eh maksudnya, Bang." Sherly barusan meralat panggilannya kepada Juna. “Ya sudah, kamu istirahat gih di kamar, pasti kamu capek banget,” titah Juna. Pipi Sherly tampak memanas mendapat perlakuan manis dari Juna. Jujur, ini pertama kalinya ia mendapatkan perlakuan manis dan juga skinship dengan lawan jenis, selain dengan papa dan kakaknya. Dan yang melakukannya bukan kekasihnya, tetapi Juna dan adik-adiknya yang notabenennya adalah majikannya. “Yuk, ke kamar,” ajak Arka pada abangnya dan juga Sherly. Mereka bertiga pun menaiki lift untuk sampai di kamar mereka yang terletak di lantai dua dan tiga rumah itu. Yang pertama keluar dari dalam lift adalah Sherly, karena kamar Sherly terletak di lantai dua. *** Pagi-pagi sekali Sherly sudah bangun. Setelah selesai mandi ia langsung pergi ke dapur. Rencananya ia ingin memasak untuk Juna dan adik-adiknya. Namun sesampainya di dapur Sherly sudah menemukan satu orang pelayan dan juga salah satu adik Juna yang diketahui bernama Dio. Mereka tengah berkutat dengan alat dapur dan juga beberapa bahan makanan. “Aduh, kirain belum pada bangun,” batin Sherly. Ia merasa minder dan ketakutan karena merasa bangun terlambat. Dio yang menyadari kehadiran Sherly pun langsung menyapanya dengan ramah seolah gadis itu bukanlah bawahannya. “Selamat pagi, Sherly. Bagaimana semalam, apa bang Arka menyusahkanmu?” Senyuman Dio menular pada Sherly, lalu membalas sapaan pria itu. “Selamat pagi juga, Dio. Enggak kok, bang Arka enggak menyusahkan.” “Iya enggak nyusahin, tapi malu-maluin.” Tentu saja yang dapat Sherly utarakan dalam hati. Sherly masih sangat mengingat jelas kelakuan konyol Arka kemarin malam saat di taman. Jika mengingatnya kembali rasanya Sherly malu. Semalam ia dan Arka menjadi pusat perhatian orang-orang di taman gara-gara tingkah konyol Arka yang sedang merasakan patah hati. Melihat Dio dan pelayan itu sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan, Sherly pun ikut membantu mereka. Walaupun Sherly termasuk orang berada di kotanya dan juga memiliki asisten rumah tangga di rumahnya, sejak ia memasuki bangku SMP ia sudah diajarkan memasak oleh mamanya. “Jangan pakai kol, Sher. Sean sama bang Juna enggak suka,” ujar Dio saat Sherly akan memasukkan potongan kol bersama sayuran lainnya ke dalam panci yang berisi air yang sedang mendidih. “Oh.” Sherly pun memisahkan kol itu ke wadah lainnya, tidak jadi memasukkan ke dalam panci bersama sayuran lainnya. Satu jam kemudian Dio, Sherly, dan pelayanan itu menyelesaikan kegiatan masaknya untuk sarapan. Setelah selesai memasak, Sherly pun bergegas pergi ke lantai tiga untuk membangunkan Arka dan kawan-kawan. “Bang, tolong bantuin Sean!” Sherly dan Dio terkejut begitu mereka sampai di lantai tiga, Sean langsung menyambut mereka dengan wajah paniknya yang terlihat kentara sekali. Sepertinya ada sesuatu tidak beres padanya. “Kenapa?!” tanya Dio ikut panik melihat adiknya juga panik. “I-itu, tadi pas Sean keluar dari kamar mandi tiba-tiba di kamar banyak kecoa!” jawab Sean sedikit heboh. Dio dan Sherly membelakan matanya. Apa, kecoa?! Bagaimana mungkin di kamar Sean ada kecoa coba, sementara seluruh ruangan di rumah itu selalu dibersihkan oleh pelayan terutama ruang kamar. “Ayo Bang, bantu usir kecoa itu!” Sean menarik paksa Dio dan Sherly untuk mengikutinya ke kamar. Sesampainya di kamar Sean, Dio dan Sherly kembali membelakan matanya melihat kecoa beterbangan ke sana-kemari. Astaga, sangat sulit dipercaya, dari mana kecoa-kecoa itu datang? “Tuh ‘kan, ayo bantuin tangkepin tuh kecoanya!” rengek Sean. Dio menghela napasnya. Dengan terpaksa Dio dan Sherly membantu menangkap kecoa-kecoa itu. Sherly sibuk memukuli kecoa-kecoa itu dengan raket milik Sean, sementara itu Sean dan Dio berlari ke sana-kemari berusaha menangkap kecoa-kecoa itu, lalu memasukannya ke dalam keresek. “Arghh!” Sherly membelakan matanya. Sementara itu Dio dan Sean menatap horor ke arah Vian yang sedang meringis kesakitan di lantai. “Mati ‘lah gue!” batin Sherly.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD