Dunia tidak pernah berakhir dengan satu dentuman besar; ia berakhir dengan serangkaian retakan yang tak terhitung jumlahnya. Di perbatasan Desa Liang, langit malam yang tadinya kelabu kini berubah semu merah, memantulkan api yang mulai menjilat gubuk-gubuk jerami.
A-Ning berdiri di tengah kekacauan, napasnya pendek dan beruap. Jubahnya bukan lagi putih atau abu-abu, melainkan merah gelap yang mengering. Tangannya yang gemetar masih menggenggam potongan zirah besi, namun kali ini besinya terasa sangat berat. Di depannya, barisan bandit bukan lagi ancaman utama. Masalah sesungguhnya telah tiba: Pecahnya keseimbangan.
Kekacauan Sang Jenderal dan Sang Pangeran
Di ibu kota, Li Jian merasa dunianya runtuh. Laporan tentang kaburnya A-Ning bersama seorang siluman musuh (Mo Yu) telah sampai ke telinga Kaisar. Selir Mei Lian memanfaatkan momen ini untuk menuduh Li Jian bersekongkol dengan pengkhianat. Li Jian tidak hanya kehilangan A-Ning; ia sedang kehilangan takhtanya. Dalam kemarahan yang dingin, ia menebas meja jati di aula pertemuan.
"Cari dia," geramnya pada para pengawal. "Jika ada yang menghalangi, bunuh. Termasuk para siluman itu."
Sementara itu, Feng Yan sedang bertarung di garis depan tembok kota yang tiba-tiba diserang oleh pasukan siluman liar yang terprovokasi oleh aroma darah A-Ning. Ia kelelahan. Bahunya berdarah, namun ia tetap mengayunkan pedangnya. Pikirannya pecah: loyalitasnya pada negara atau instingnya untuk menyusul gadis yang selalu ia jaga tangannya agar tidak jatuh. "A-Ning... bertahanlah sebentar lagi," bisiknya di tengah denting senjata.
Darah di Desa Liang
Di Desa Liang, Mo Yu sedang dikepung. Identitasnya sebagai siluman gagak terbongkar oleh para bandit yang ternyata membawa jimat penekan siluman milik Yan Xiu. Bulu-bulu hitamnya berguguran, tercabut paksa oleh kekuatan magis yang menyakitkan.
"Nona, lari!" teriak Mo Yu, suaranya parau.
A-Ning tidak lari. Insting bertarungnya mengambil alih seluruh kesadarannya. Ia menerjang maju, menembus barisan pria bersenjata hanya dengan insting predator. Ia tidak peduli jika bahunya disabet atau kakinya terkilir. Ia hanya tahu satu hal: Mo Yu adalah "ayah" yang tidak pernah bicara, dan Ling’er adalah "suara" yang membuatnya merasa tidak sendirian.
"Berisik!" teriak A-Ning saat sebuah tombak hampir menembus d**a Ling’er. Ia menangkap ujung tombak itu dengan tangan kosong—kulitnya terkoyak, ototnya terlihat—dan dengan kekuatan murni dari kemarahan yang tak bernama, ia mematahkan tangkai kayu itu.
Ia bertarung membabi buta. Tidak ada taktik. Hanya darah yang muncrat ke wajahnya yang pucat. Setiap kali ia menjatuhkan satu lawan, luka baru muncul di tubuhnya.
Tabrakan Wilayah
Kehancuran mencapai puncaknya saat Shen Wei dan Lan Zhao tiba di waktu yang hampir bersamaan. Namun, mereka tidak datang untuk membantu. Tekanan dari obsesi mereka membuat wilayah magis mereka bertabrakan secara brutal.
Hawa dingin laut Lan Zhao membekukan tanah Desa Liang, sementara aura serigala Shen Wei membakar udara dengan kemarahan primal. Mereka tidak lagi melihat satu sama lain sebagai sekutu. Di mata mereka, satu sama lain adalah penghalang untuk memiliki A-Ning.
"Dia terluka karena kau terlambat, Serigala!" raung Lan Zhao, memanggil tombak air yang tajam.
"Kau yang membiarkannya merasa tidak aman di istana, Duyung!" balas Shen Wei, wujud serigalanya hampir sempurna, matanya kuning menyala penuh kegilaan.
Di tengah mereka, A-Ning terduduk lemas di samping Ling’er yang pingsan. Darah mengalir dari perutnya—luka dalam yang didapat saat ia melindungi Mo Yu tadi. Ia melihat mereka semua bertarung, saling membantai, saling menyalahkan. Ia melihat desa yang ia coba perbaiki kini terbakar habis oleh kekuatan magis para pria yang mengaku "mencintainya".
A-Ning menunduk, menatap potongan zirah di tangannya yang kini berlumuran darahnya sendiri.
"Sudah habis," gumamnya pelan.
Darahnya terus menetes ke tanah, diserap oleh debu desa yang miskin. Ia tidak menangis, tapi matanya menunjukkan sesuatu yang lebih mengerikan dari kesedihan: Kekosongan yang telah menang. Malam itu, Tembok Tang tidak hanya retak secara politik; ia runtuh secara moral. Di tengah salju yang mulai turun bercampur abu pembakaran, A-Ning memejamkan matanya, membiarkan kegelapan mengambil alih saat suara pertempuran di sekelilingnya perlahan-lahan menjadi sunyi yang mematikan.
Pada akhirnya zirah ayahnya terlepas dari genggamannya, berdenting satu kali di atas batu, lalu diam. Ditinggalkan.