Perpustakaan kecil di sayap kiri istana adalah satu-satunya tempat yang tidak berbau dupa berat. Di sini, udara berbau kertas tua dan debu yang menari di bawah seleret cahaya matahari yang menembus jendela tinggi.
Feng Yan berdiri di dekat rak buku, tangannya yang kapalan karena gagang pedang tampak terlalu besar saat memegang kuas kayu tipis. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, ia sudah memikul pangkat Jenderal Muda, namun di depan A-Ning, aura panglimanya luruh, menyisakan sosok abang tetangga yang hangat.
"Genggamnya jangan terlalu kencang, Ning. Ini kuas, bukan belati," suara Feng Yan pelan, jauh lebih lembut dibanding bentakan yang biasa ia lontarkan di barak militer.
A-Ning duduk di bangku kayu, menatap kertas kosong di depannya. Ia mencoba mengikuti gerakan tangan Feng Yan, tapi garis yang ia buat selalu tajam dan putus-putus. "Terlalu lembek. Aku tidak suka benda yang tidak punya suara saat bergesekan."
Feng Yan terkekeh, suara tawanya rendah dan jujur—suatu kelangkaan di Chang'an yang penuh kepalsuan. Ia berlutut di samping bangku A-Ning agar tinggi mereka sejajar. "Tinta memang tidak bersuara, tapi dia bisa bicara lebih keras dari teriakan kalau kau tahu cara menggoresnya."
A-Ning menoleh, menatap wajah Feng Yan yang sedikit gelap terbakar matahari. Ada bekas luka kecil di dekat alisnya, luka lama dari latihan di kediaman Jiang bertahun-tahun lalu. Bagi A-Ning, Feng Yan adalah jembatan menuju masa lalu yang terbakar. Dia bukan Putra Mahkota yang bicara soal hukum, bukan pula siluman yang bicara soal wilayah.
"Kau berumur sembilan belas, tapi bicara seperti kakek-kakek di perbatasan," gumam A-Ning, jari-jarinya tanpa sadar mengetuk meja kayu mengikuti irama detak jantung Feng Yan yang tenang.
"Dan kau baru sebelas tahun, tapi tatapanmu seperti orang yang sudah hidup seratus tahun," balas Feng Yan sambil mengacak rambut A-Ning yang selalu berantakan. Ia tidak melihat A-Ning sebagai "Utang Darah Kekaisaran" atau "Anak Ajaib yang Kosong". Baginya, A-Ning tetaplah bocah kecil yang dulu sering tertidur di atas tumpukan jerami barak ayahnya.
Feng Yan mengambil alih kuas itu, lalu menggambar sebuah jendela kecil di pojok kertas. "Lihat. Istana ini punya banyak tembok, tapi kau selalu bisa memilih untuk melihat lewat jendela. Kalau kau bosan dengan Taizi-gege yang kaku itu, datang saja ke halaman latihan belakang. Aku akan mengajarimu cara membedakan arah angin tanpa perlu melihat langit."
A-Ning terdiam. Ia memperhatikan gambar jendela itu. Sederhana, kasar, tapi nyata. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di istana, ia tidak merasa perlu "mengukur" orang di depannya. Ia hanya mengikuti gerakan tangan Feng Yan, membiarkan dirinya terhanyut dalam ketenangan yang tidak menuntut apa pun.
"Feng Yan," panggil A-Ning pelan.
"Hm?"
"Kenapa kau tidak pernah menyuruhku menangis?"
Feng Yan berhenti bergerak. Ia menatap A-Ning dengan mata yang penuh proteksi, jenis kasih sayang yang paling murni namun paling berbahaya di tempat seperti ini. "Karena aku tahu kau tidak butuh air mata untuk menjadi kuat. Kau hanya butuh seseorang yang tidak akan pergi saat duniamu kembali sunyi."
A-Ning menarik kertas itu, melipatnya asal dan menyelipkannya ke dalam lengan bajunya bersama kepingan zirah ayahnya. Ia tidak paham apa itu kasih sayang, tapi ia tahu bahwa di dekat Feng Yan, aroma asap di paru-parunya terasa sedikit lebih ringan.
Di ambang pintu perpustakaan, sesosok bayangan berjubah hitam mengamati dalam diam. Mo Yu berdiri di sana, matanya yang setajam gagak memperhatikan dinamika itu. Ia mencatat dalam benaknya: sang Jenderal Muda adalah titik lemah sekaligus kekuatan terbesar bagi gadis kecil yang sedang ia jaga.
"Waktunya kembali, Nona," suara Mo Yu dingin dan datar, memutus kehangatan sesaat di ruangan itu.
A-Ning berdiri, menatap Feng Yan sekali lagi sebelum melangkah keluar. "Besok ajari aku cara mematahkan leher merpati tanpa suara, Jenderal Muda."
Feng Yan hanya bisa menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. "Bocah ini... benar-benar rusak dengan cara yang cantik."