"Dia yang mana mas,yang mampu merebut seri kalung cintamu.
Dia yang mana mas,yang mampu mengalihkan rasa setiamu.
Tidak kuduga semua ini harus terjadi,kamu ternyata tidak sepenuh hati mencintaiku.
Lidah siapa yang manis bermadu dulu mengukir janji untuk saling setia sampai maut memisahkan.
Kini engkau telah ingkar,menyakitiku begitu dalam,hingga dadaku sangat sesak,hatiku remuk redam dan jantungku tak sanggup lagi berdetak seperti biasanya.
Asaku kini jauh melayang,mimpi yang indah kini telah hilang"gumamku dalam tangis.
Tepat jam tiga pagi aku terbangun,saat otakku traveling ingat kembali apa yang terjadi semalam membuat aku menangis lagi.
Kulangkahkan kaki ke kamar mandi,kuambil wudhu.
Kuhadapkan diri pada Rabbku,meminta ketenangan hati.
Banyak sekali yang ingin ku diskusikan padanya.
Meminta petunjuk supaya aku kuat.
Karena aku tak ingin menjadi lemah.
Seusai menghadap sang ilahi,aku membersihkan tempat tidur lalu berkutat di dapur.
Walaupun aku sakit hati dengan mas Ilham namun bukan bearti aku melupakan kewajibanku sebagai istri.
Setelah memasak aku membersihkan diri lalu bersolek tipis.
Rencananya aku memang ingin ketaman kompleks untuk joging sekaligus untuk melupakan sejenak sakit hatiku.
Kutaruh ponsel di saku dengan memutar music kesayanganku.
Aku pun joging mengitari taman kompleks.
Sebenarnya aku memiliki tubuh yang sexy,padat berisi dengan tinggi rata-rata kaum hawa.
Wajah cantik natural,bibir yang merah,bulu mata yang panjang serta terbalik,mata yang bulat,hidung mungil namun mancung itulah anugrah yang aku miliki.Namun ternyata kelebihan yang aku miliki masih saja membuat mas Ilham berpaling.
Memang kekuranganku yang masih belum memberinya keturunan,namun kami oleh dokter dinyatakan sama sama subur,ntah mengapa aku belum juga hamil.
Karena capek aku pun kembali ke rumah,saat masuk rumah aku melihat mas Ilham sudha duduk menikmati sarapannya.
Tanpa menyapa, aku melewatinya lalu membuka kulkas untuk mengambil air.
Dia hanya diam melihatku,mas Ilham pun serba canggung terhadapku.
Karena lapar aku pun menarik kursiku lalu mengambil makanan.
Ilham terus saja menatapku tanpa bertanya begitu pula denganku yang malas berbicara padanya.
Akhirnya Ilham menyerah dengan kediamannya,
"Ra,kamu masih marah sama aku???"tanyanya dengan menatapku.
Aku yang mendengarkan musik dengan headset pun tak mendengar pertanyaan,aku pun hanya terdiam.
Ilhma menghela nafas dia pun beranjak lalu melepas headset yang menempel di telingaku.
Sontak aku marah
"Apa apaan sih kamu mas"gerutuku dengan tangan yang memegangi telingaku.
"Kamu yang apa apan Ra,setidaknya hargai aku,lepas headsetmu ketika kita bersama."sautnya dengan nada agak tinggi.
Mendengar kata katanya membuatku tertawa lepas.
"Menghargai???jangan bicara soal harga menghargai mas,mengacalah dahulu,apakah kamu juga mengahargai aku sebagia seorang istri???"kataku sinis lalu pergi begitu saja.
Aku menutup pintu dengan keras,lalu duduk bersimpuh di lantai dengan bersandar pintu.
"Kenapa jadi begini pernikahan hamba ya Rabb,ibu ayah maafkan Rara"ujarku dengan airmata yang meleleh.
Dengan frustasi mas Ilham kembali ke kamar untuk bersiap siap ke kantor.
Hari ini aku tak melayaninya.
Dia memilih bajunya sendiri.
Setelah ready dia berpamitan padaku di balik pintu.
"Aku berangkat Ra"katanya lalu berlalu meninggalkan rumah untuk mengais rejeki.