Musik yang dilantunkan diruangan berubah menjadi nada-nada melankolia. Aku melirik kearah panggung dimana diatas sana sudah ada Dira dan juga perempuan yang sejak tadi berada disisinya. Pria itu meraih michrophone yang ada dihadapannya. Untuk sesaat mata kami bertemu. Tapi aku mengabaikannya secepat mungkin. Aku tidak ingin memperbanyak kebetulan yang tidak perlu diantara kami. Tapi melihatnya seperti ini kurasa aku bisa sedikit menyetujui perkataan Farell. Perempuan itu tidak terlalu cantik, meskipun dia masih masuk dalam kategori itu. Tingginya semapai seperti seorang model papan atas padahal dia berprofesi sebagai dokter. Tingginya nyaris sejajar dengan Dira. Tidak sepertiku yang bertubuh sedikit lebih mungil. Caranya berjalan benar-benar tertata dan terdidik aku nyaris tidak percaya

