Sebuah Potret

1015 Words

Sophia merawat luka pemuda itu dengan sangat hati-hati. Setelah selesai, ia memandang wajahnya dengan penuh makna. Melihat sang adik begitu terpesona pada pria itu, ia pun menutup mata Sophia. “Jika kau terus memandangnya seperti itu, aku khawatir kau ingin membawanya pulang. Jadi, ayo pergi!” Sophia pun menyingkirkan tangan Enora. “Kita tidak bisa meninggalkannya disini! Hari akan semakin gelap, mungkin akan ada binatang buas yang memakannya.” “Itu berarti takdirnya memang mati,” “Enora!” “Aku sudah tahu ini akan terjadi. Sophia, kita harus pulang ke rumah sebelum mereka menyadari kita tidak ada. Jadi, ayo pergi! Kau sudah menyelamatkannya sebisamu.” “Enora!” Sophia menatap mata saudarinya dengan penuh harap. Alhasil, Enora tidak punya pilihan lain selain membantu pemuda itu. “A

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD