Rahasia Sang Putri

1141 Words
Ketika mereka melangkah menyusuri lorong, Sirius tak berhenti menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan sang putri. Apa rahasia yang ingin Ratu sembunyikan dari Raja. Tiba di depan kamar Ratu dan putri kecilnya, Alessandro membuka pintu pelan-pelan, khawatir sang putri tengah tidur. Namun, begitu pintu terbuka, suara tawa renyah sang putri membuat mereka bergegas menghampiri. “Putri cantikku sudah bangun,” ucap Alessandro seraya menghampiri sang putri. Alessandro lekas menggendong putrinya, memeluk lalu mencium pipi chubby-nya. Disaat berikutnya, Sirius menghampiri. Begitu melihat wajah putri Lisanna, ia langsung tahu apa alasan Ratu menghadang jalannya tadi. Ia langsung tahu apa rahasia sang putri. “Putriku cantik, bukan?” tanya Alessandro sambil menunjukkan wajah putri dalam pelukannya. Sirius mengangguk sebagai jawaban. Ia tak ingin membuat Alessandro sedih. “Apa kau tidak akan mengatakan sesuatu?” Sirius menyadari bahwa Raja menginginkan pujian untuk putrinya. Ia tak akan puas sebelum putrinya di puji dengan sangat baik. “Maafkan aku, Yang Mulia. Kecantikan putrimu membuatku terpesona. Aku sampai tak bisa berbicara.” “Baiklah, aku mengerti. Dia adalah hal terindah yang pernah ada di dunia ini.” April mengangkat salah satu alisnya sambil menatap tajam Alessandro. Melihat itu, Alessandro menelan ludah, serta berusaha meluruskan ucapannya. “Kau juga sangat indah, Sayang. Kau adalah wanita tercantik di dunia ini.” April mengabaikan kata-kata itu dan menyapa Sirius. “Lama tidak berjumpa, Sirius. Apa kabar denganmu?” “Baik, Yang Mulia. Sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu lagi.” “Terima kasih banyak sudah datang. Silakan duduk!” Sirius duduk di hadapan sang ratu. Keduanya saling bertatap di udara, sementara Alessandro masih bermain dengan putrinya. “Aku kira Alessandro sudah mengatakan semuanya.” “Entahlah, tapi dia memintaku untuk menemanimu sebagai pengawal saat perjalanan ke kerajaan Laios.” “Benar. Aku harus menambal keretakan dengan Hades. Aku sudah berjanji pada saudaraku. Sekarang aku harus menepatinya.” “Bagaimana jika itu hanya jebakan? Meski dia saudaramu, tapi mereka adalah musuh.” April mengingatkan tentang perjanjian di antara mereka. “Aku sadar itu. Tapi jika dia mengkhianatiku, dia juga akan mati. Perjanjian kami bukan cuma sekadar ucapan, melainkan ikatan darah. Jika dia mengkhianatiku, dia juga akan mati.” “Aku mengerti.” Tak lama kemudian, Gabriel masuk ke dalam ruangan. “Yang Mulia, ada beberapa dokumen yang perlu disetujui secepatnya. Ku harap kau bisa kembali ke kantor.” Alessandro benci dengan hal itu. Tapi ia sadar bahwa kata-kata Gabriel bukan sekadar isapan jempol semata. Masih banyak dokumen yang memang perlu tanda tangannya. Jadi, Alessandro menyerahkan anak itu pada April, menciumnya di dahi, lalu bergegas pergi dengan berat hati. “Aku harus pergi. Kita akan bertemu lagi nanti.” Setelah mereka tinggal berdua saja, Sirius mendekati putri kecil itu dan merasa khawatir. “Sekarang aku paham kenapa kau menghalangi jalanku tadi pagi. Meski baru berusia enam bulan, kemampuannya sudah muncul.” April mengelus pipi Chubby bayinya. “Itu mengapa aku sangat khawatir tentang Lisanna.” “Aku paham kecemasanmu. Kekuatan yang dia miliki terlalu besar untuk anak sekecil ini. Kau tahu itu bisa sangat berbahaya, bukan?” “Ya, aku tahu itu bisa menyebabkan kelebihan beban sihir. Aku sudah menggunakan kemampuanku untuk menstabilkan kekuatan yang dia miliki. Tapi tidak begitu berpengaruh. Kadang-kadang, dia tanpa sengaja melawannya.” Sirius menatap bayi itu dengan seksama. Lisanna itu diberkahi dengan kekuatan. April adalah orang yang sangat kuat dan memiliki ilmu sihir yang tak terbatas. Namun, gadis kecil ini tampaknya bukan hanya sekadar mewarisi ilmu April, tapi juga kekuatan Alessandro. “Kekuatan apa saja yang sudah dia tunjukkan?” “Saat ini—dia memiliki elemen kekuatan api, angin, dan kadang cahaya.” “Apa?” “Ya, aku juga awalnya terkejut.” “Biasanya seseorang hanya bisa mengendalikan satu elemen. Meski dalam kasus mu berbeda, kau bisa menguasai dua elemen, meki elemen api-mu tak akan membakar.” “Sekarang elemen api-ku sudah bisa membakar. Sejak aku menghancurkan segel terakhir, aku mulai mengendalikan sihir dengan baik. Dan melakukan apapun yang sebelumnya tidak bisa kulakukan.” “Yang ingin kukatakan adalah … mengendalikan begitu banyak elemen bisa sangat berbahaya untuknya.” “Aku tahu.” “Putri Lisanna bisa mati.” April membeku, tampak sedikit shock. “Aku rasa dia sudah merasakannya. Itu mengapa, dia menyembunyikan kekuatannya.” April mengelus kepala sang bayi. “Aku sadar kekuatannya. Dan jujur itu sangat menakutkan bagiku. Tapi itu bukan satu-satunya alasan aku menyembunyikan kekuatannya.” “Aku rasa kau punya pertanyaan lain berkaitan dengan itu.” “Ya, ibuku telah mengorbankan nyawa untuk menyembunyikan kekuatanku. Tapi sekarang, aku rasa dia melakukan itu bukan hanya karena ayah melainkan untuk seluruh keluarganya.” “Maksudmu, untuk pada Elf (makhluk mitologis sejenis siluman)?” “Maya pernah bilang kalau anak-anak lahir dari hubungan manusia dan siluman cahaya dianggap sebagai sesuatu yang keji. Jika hubungan itu terjadi dan lahir seorang bayi, para Elf akan membawa anak-anak itu ke kerajaan mereka—menjauhkannya dari dunia manusia. Sebab, mereka adalah makhluk tak pasti, tidak sepenuhnya memiliki sisi terang dan juga gelap. Oleh sebab itu, kekuatan mereka akan lebih besar dari Elf bisa atau manusia. Jika aku dianggap orang keji karena manusia campuran, lalu bagaimana dengan Lisanna jika diketahui keberadaannya?” “Aku rasa ini tidak akan baik.” “Benar, itu sebabnya aku takut dengan masa depan putri ku. Aku takut nanti mereka akan mencoba memisahkannya dariku.” “Aku menghormati keputusan untuk menyembunyikan kekuatan putrimu, Ratu. Tapi jika kau meminta pendapatku, aku rasa Alessandro berhak tahu apa yang terjadi dengan putrinya.” “Aku akan mengatakannya nanti. Tapi, ini bukan saat yang tepat untuk membicarakannya. Jadi, bisakah kau menjaga rahasia ini?” “Aku sudah bilang, aku pasti akan menjaganya. Aku tidak akan mengingkari janjiku.” “Terima kasih, Sirius.” “Kembali ke topik semula, kapan kau berencana berangkat ke kerajaan Laios?” “Jika memungkinkan, aku ingin berangkat besok. Tapi, aku masih harus menunggu Cassian.” “Ada beberapa hal yang harus diurus sebelum pergi, jadi aku rasa tidak mungkin berangkat besok.” “Aku mengerti. Jadi aku akan menunggumu kembali. Kita akan berangkat setelah urusan selesai.” “Baiklah. Aku akan kembali secepatnya. Mungkin tidak lebih dari dua hari.” “Baik.” “Aku pergi dulu agar bisa berangkat secepatnya,” ucap Sirius setelah beranjak. “Terima kasih banyak, Sirius.” “Sama-sama, Ratu. Sampai jumpa.” Setelah Sirius keluar, Lisanna menggunakan kekuatan angin untuk mengangkat tirai kamar, namun April langsung membatalkan sihir putrinya. Yang membuat April sangat khawatir tentang perjalanan ini, karena dirinya harus berpisah dengan sang putri. Ia takut Lisanna tak terkendali saat tidak ada didekatnya. April mengusap pipi sang bayi seraya mengafirmasi positif. “Sayang, kau harus baik-baik selama Ibu tidak ada.” April memiliki begitu banyak pertanyaan tentang kekuatan sang putri. Bagaimana caranya agar bisa melindungi putrinya? Namun tidak ada seorang pun yang bisa memberi jawaban. Dia menghela napas panjang. “Aku ingin sekali Ibu ada disini.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD