Buwek!Suara Burhan aka burung hantu mulai kedengeran. Di depan api unggun, gue masih kebingungan. Gimana sekarang?
"Jadi sampai di mana pembicaraan kita tadi?" tanya pak Suk tiba-tiba.
Tadi yang mana nih?
"Grim reaper!" seru seseorang di antara kumpulan orang-orang yang duduk.
"Oh, ya. Grim reaper. Begitulah orang-orang menyebutnya. Dengan jubah hitam, pergerakannya sangat cepat. Ada yang melihat dia bisa memotong kepala seorang pendekar pedang suci dengan satu kali tebasan. Mengerikan sekali ya? Keberadaannya ada di sekitar sini, di lapisan terluar kerajaan. Itulah kenapa, aku meminta bantuan Anda untuk melindungi kami." Lah, kok dejavu ya sama kalimatnya.
"Oke, aku mengerti." Gue masih mikirin kalimat yang dia ucapin tadi cuma pengulangan dari kalimat yang dia ucapin sebelumnya. Jirlah kenapa jadi belibet.
"Mungkin jika Anda bertemu dengan iblis yang kedua, Anda tidak akan menyadari bahwa dia adalah iblis. Karena dia terlihat seperti seorang anak kecil yang imut dan menggemaskan. Tapi jangan harap Anda bisa menyentuhnya.
"Bahkan saat melawan beberapa pe-pe-es—"
"Pe-pe-es?" potong gue. Enggak ngerti dah sama singkatannya.
"Pahlawan pedang suci," jawab pak Sukardi. Rada kesel kayaknya omongannya gue pending tadi. "Sampe mana tadi?"
"Pepes!" Dia kebingungan dong. "Pe-pe-es," ralat gue.
"Saat iblis itu melawan beberapa pe-pe-es. Tak ada satu pun dari mereka yang berhasil melukainya, menyentuhnya saja tak bisa." Wow! Serius tuh? "Iblis itu adalah summoner, dia memanggil monster bayangan dan bisa mengendalikannya. Karena kekuatannya itu, orang-orang memanggilnya Zehrow. Iblis pengendali bayangan."
Orang-orang sini memang suka asal ngasih nama dah. Apa sebutan dari mereka buat gue ya? Kan gue juga iblis.
"Iblis ketiga mungkin adalah iblis terkuat." Lah? Jadi yang tadi belum kuat ya? Enggak bisa disentuh tadi enggak kuat? Gila dah. "Namanya adalah Adruid, iblis pengendali alam. Dia bisa mengendalikan tumbuhan, hewan, bahkan cuaca."
Ngeri!
"Katanya, dia sekarang berada di istana!" Entah siapa yang ngomong, tapi suaranya sama kayak orang yang dari tadi teriak-teriak.
"Mungkin, memang benar," lirih pak Sukardi ngomong. Bikin suasana jadi sunyi.
"Lalu kenapa kalian malah ingin pergi ke kota? Bukankah itu dekat dengan kerajaan? Bisa bahaya 'kan?" Gue angkat bicara. Aneh emang, udah tahu ada iblis, malah disamperin. Eh, iya, gue juga iblis.
"Tak ada pilihan. Lagi pula itu lebih baik daripada harus melawan monster di luar sana."
"Ya, itu benar. Walaupun penghalang sihirnya mulai melemah, tapi tak banyak monster mendekat ke sini. Karena mereka takut pada iblis."
Yang tadi diem, mulai pada ngomong.
"Kami dengar, iblis tidak menyerang sembarang orang."
Oh, berarti emang enggak sebar-bar yang gue bayangin.
Obrolan pun berlanjut ke hal-hal yang berkaitan dengan iblis. Gue cuma nyimak, sedangkan si Sally udah tidur, meluk core naga yang namanya Londok tadi.
Pas tangan gue nyentuh tuh benda. Ada kilasan masa lalu yang dipaksa masuk ke dalem otak gue. Ingatan tentang gue sama tuh makhluk, jelas banget.
Di ruang yang gelap, sepasang mata merah menyala, napas berat jelas banget kedengeran, berpadu sama kerincing bunyi rante.
"Kau lemah! Itulah sebabnya kau lelah." Suara gue, walaupun beda. Gue yakin itu suara gue.
Sementara yang punya mata merah, cuma ngeliat ke arah gue. Entah deh apa dia marah?
"Akan kuberikan sedikit kekuatanku. Jika tubuhmu kuat, kau akan selamat. Jika tidak, kau akan sekarat. Atau mungkin langsung mati." Gue bisa ngomong kayak gitu ya? Serem amat.
Bukan cuma matanya yang nyala, dari mulutnya juga keluar napas api.
Dalam ingatan itu, gue jentikin jari. Seluruh ruangan yang gelap gulita. Langsung terang tiba-tiba. Gue lagi ada di tengah-tengah sebuah arena, sama seekor naga yang tubuhnya dirantai. Mulai dari leher, sampe ekornya.
Terus, cahaya warna ijo melayang di atas telapak tangan gue. Sekejap kemudian, melesat, nembus d**a si naga. Otomatis tuh makhluk meronta-ronta.
Gwah!
Teriakan si naga kenceng banget. Api warna ijo ngebakar seluruh badannya, sampe rantai yang ngiket dia pada meleleh.
Gue yang ada di dalam ingatan itu, langsung pergi ninggalin naga yang kayaknya bentar lagi bakalan mati. Tapi tiba-tiba tuh naga langsung melesat ke arah gue yang baru pergi beberapa langkah.
Tangannya yang gede, ceritanya sih mau nepok gue kayak nepok lalet. Seketika tangannya berhenti pas beberapa senti lagi nyentuh kepala gue. Lantai yang gue pijak pada retak kena anginnya.
"Kau pikir bisa menyentuhku dengan kekuatan seperti itu?"
Napas api ijo langsung nyembur ke arah gue. Tapi tuh api enggak ngebakar sama sekali. Detik itu juga naganya langsung sujud, minta maaf, sama manggil gue TUAN.
Dalam ingatan itu, beberapa kali gue naek di atas punggungnya. Sampai ingatan terakhir sebelum gue tebas lehernya, dia bilang, "Terima kasih, Tuan."
"Kita kaya!" teriak orang yang tiba-tiba dateng. Temen-temennya yang lain langsung ngejitakin tuh anak.
"Maaf atas kelancangan teman saya." Pas udah deket orang yang rambutnya gondrong nundukin badan ke gue. "Jadi apa yang akan Anda lakukan pada kadal terbang itu?"
Lah, gue harus apa?
"Apakah Anda akan membagi hasilnya dengan kami? Atau Anda mau menjualnya? Tentu kami s**l membeli." Nih orang negosiator kayaknya. "Jumlahnya terlalu banyak, Anda akan kesulitan jika berniat menjualnya sendiri ke kota." Tuh kan bener. Dia pengen dapet hasil dari mayat naga tadi. Dasar pedagang.
"Ya, terserah. Aku ikut saja." Bingung juga sih. Mau gue bawa ke mana coba?
"Terima kasih, kami akan bagi hasilnya secara adil." Kelihatan banget muka mereka pada seneng. "Tapi kita tidak bisa mengangkutnya sekaligus, terlalu banyak."
Semuanya pada ngeliat ke arah pak Suk. Tuh bapak lagi mikir, sambil belai-belai kumis baplangnya.
"Besok kita bagi dua rombongan. Satu rombongan membawa dagangan ke kota, satu lagi menunggu barang bawaan yang belum bisa dibawa. Setuju?"
Sontak semuanya ngejawab, "Setuju!"
"Kami akan rapihkan bagian kadal terbang tadi." Rombongan si gondrong pergi lagi.
"Karena sudah larut malam, sebaiknya yang tidak mendapat tugas jaga, tidur. Besok kita harus kerja keras."
Orang-orang yang lagi ngobrol, satu demi satu mulai molor. Dan, gue enggak ngantuk dong. Kayaknya iblis emang enggak tidur, eh. Tapi kok si Sally bisa?
"Kakak!" Tiba-tiba ada yang manggil. Loh, kom pada tidur semua? Ke mana yang jaga?
"Kakak!" Lagi suara itu.
Gue langsung siaga, aktifin skill deteksi.
"Master!?" Njirr ngagetin aja nih anak.
"Kenapa, Sally?"
"Saat aku sudah tidak berguna, apakah Master juga akan membunuhku?"
Ngomong apa sih?
"Tentu saja tidak akan," jawab gue sambil senyum dipaksa.
Si Sally malah megangin tangan gue sambil tidur lagi. Enggak sengaja, tuh batu ijo kesentuh. Ingatan lain masuk ke kepala gue. Ingatan tentang .... Gue?
Siapa sih sebenarnya gue?
Buwek!
Sial! Pertanyaan itu malah dijawab sama si Burhan.
~oOo~
Bersambung . . . . .. . . . . . . . . . .