Tujuh

1074 Words
Seketika gue pengen makan bakso. Walaupun tampilan makanan di sini menggugah selera. Di lidah gue, enggak ada rasanya. Macam ngunyah permen karet yang udah enggak manis.Tapi si Sally lahap banget makannya, yang lain juga sama. Kayaknya cuma gue yang enggak menikmati. Terpaksa deh, gue pura-pura lupa sama rasanya. "Hmm oishi!" Si Sally pake acara nguyup kuah di mangkoknya. Gue jadi kebut makannya, tanpa dikunyah, biar cepet abis. Gue sampe meringis nahan nyeri di perut. Kebanyakan makan kayaknya sih. Kok bisa ya? Padahal kan ini cuma mimpi. Ibu-ibu yang ngeliat gue ngelus-ngelus perut, langsung ngasih segelas air. "Diminum," pinta dia, suaranya lembut banget. Mirip suara emak. Jirrr, gue jadi keinget emak gue. Gimana kalau gue enggak bisa bangun lagi? "Silakan, diminum." Si ibu ngomong lagi, gara-gara gue bengong aja dari tadi. Wait .... Perut gue udah buncit, apa enggak bakal nambah sakit diisi air lagi? "Diminum." Tiga kali. Udah tiga kali gue disuruh minum. Masa iya gue tolak. Tanpa pikir panjang, langsung gue tenggak. Airnya dingin, sejuk, ada manis-manisnya gitu. Dan rasa sakit di perut gue seketika reda. Mujarab nih air. Tangan gue ngebolak-balik gelasnya, nyariin merek. Tapi enggak ketemu, karena emang enggak ada. "Air apa ini, Bu?" Penasaran, gue tanyain aja langsung. "Itu air biasa." Masa iya? "Sihir ini yang membuatnya berubah jadi obat." Seketika tangan si ibu bersinar. "Kami para pendukung, diberkati sihir penyembuh," lanjutnya lagi ngasih penjelasan. Terus dia pergi, ngebantu ibu-ibu yang lain ngeberesin perkakas bekas makan tadi. Tikar yang tadi, diganti pake semacam kasur berbulu. Ukurannya lumayan gede, jumlahnya ada empat. Digelar ngelilingi api unggun. "Kita tidur di luar?" tanya gue sama pak Suk, pas acara ampar-ampar kasur tadi selesai. "Oh, iya. Tenda dipakai untuk kaum perempuan dan beberapa orang yang terluka. Apa Tuan tidak biasa tidur di tempat terbuka? Kalau begitu kami akan siapkan satu tenda lagi." "Jangan! Jangan! Itu tidak perlu." Malu gue kalau disamain sama ibu-ibu, gue juga enggak terluka. Cuma rada bingung doang. "Kita lanjutkan obrolan yang tertunda?" Oh iya, gue hampir lupa tentang iblis tadi. Gue jawab pake anggukan. Semua orang yang hadir duduk bersila, ngadep api unggun. Menurut informasi dari si Sally. Jumlah mereka ada seratus enam orang, lima di antaranya kaum perempuan, alias ibu-ibu, enggak ada yang masih muda soalnya. Kaum prianya sih, dari pengamatan gue sendiri. Ada beberapa yang masih muda. Mereka misah sendiri, ngebuat kelompok. Jumlahnya sekitar sepuluh sampe lima belas orang. Jumlah gerobak kuda mereka ada dua puluh, yang setiap gerobaknya ditarik dua ekor kuda, dan bisa dinaikin lima orang, empat penumpang sama satu kusirnya. Oh iya hampir lupa, ada enam kuda yang dipake para pengawal. Komplit banget kan info dari si Sally. Ajaib emang tuh anak. "Sebelumnya saya sebagai ketua rombongan, mengucapkan terima kasih kepada Anda, karena telah sudi bergabung dengan rombongan pedagang seperti kami." Pak Suk diam bentar, matanya natap semua orang yang hadir di sini. "Saya juga minta maaf, ada beberapa dari kami yang tidak setuju dengan kehadiran Anda. Mohon agar Anda mengabaikannya ya." Udah dikasih tahu gini, mana bisa gue abaiin. Pantesan aja ada beberapa orang yang tatapannya rada sinis. "Apa gerangan yang membuat mereka tidak menginginkan kehadiran saya?" Gue nanya sambil nyari-nyari orang yang kemungkinan enggak suka sama gue. Di samping gue, si Sally udah ngeluarin hawa membunuhnya. Padahal gue enggak pake skill penglihatan, tapi bisa kelihatan gitu ya? Pasti kesel banget nih dia. Langsung gue elus-elus kepalanya biar dia tenang. Semoga aja cuma gue yang bisa lihat auranya. "Tidak-tidak. Tidak usah dipikirkan." Mana bisa gitu! Gue langsung berdiri terus ngomong, "Siapa yang tidak ingin saya ada di sini?" Semua yang hadir cuma diem. "Berdiri! Kita selesaikan ini seperti pria sejati!" a***y kosakata gue, kayaj di film-film. Gue kira enggak bakalan ada yang ngerespon. Tapi tiba-tiba, di sudut paling ujung, di antara kerumunan anak muda, ada satu yang berdiri. "Saya!" Dia teriak lantang banget. Temen-temennya nyoba buat nenangin, tapi enggak bisa. Dia udah terlanjur emosi. "Saya tidak suka kehadiran Anda di sini! Kenapa? Karena, bukan sekali dua kali ada orang yang mengaku-ngaku sebagai pendekar pedang suci. Nyatanya, mereka semua penipu. Jika memang Anda pendekar pedang suci. Mari kita berduel, apa Anda berani?" Njirrr, gue ditantangin gelud. "Maaf, sebaiknya Anda hiraukan saja. Dia masih anak kecil," kata pak Suk, mendamaikan. "Jangan panggil aku anak kecil! Namaku Shiva! Aku Shiva!" Gue kira lagi parodi, ternyata emang serius. "Oke, Shiva. Mari kita berduel." Ya, walaupun gue enggak pernah berantem sebelumnya. Baik di dunia nyata atau pun dunia ini. Pas banget kan ya buat nyoba-nyoba kekuatan gue. "Yang kalah harus menuruti perintah pemenang!" Si Shiva ngerapal mantra, di atas telapak tangannya muncul semacam hologram gitu, bentuknya simbol-simbol yang rumit. "Masukkan tanganmu! Ini adalah perjanjian sihir, siapa yang melanggar akan mendapat hukuman yang mengerikan." Oke, gue ikutin aja maunya gimana. Panggungnya langsung pindah, bukan lagi deket api unggun. Selain sempit, baku hantam nanti bisa juga ngerusak tenda sama bikin kuda-kuda ketakutan. Kami semua, eh. Enggak semuanya sih. Pergi agak jauhan, nyari tempat yang agak luas. Dan, di sinilah. Di pinggir tebing yang gundul tanpa pepohonan. "Kau boleh memakai pedang!" saran gue pas ngeliat dia ngasihin pedang ke temennya. "Aku bukan pecundang! Kita duel tangan kosong." b**o! Status gue di tempat ini itu iblis, sementara elu? Cuma NPC. Statistiknya pasti beda jauh. Tapi, bodo amatlah. Si Shiva pasang kuda-kuda bentuk siaga. Gue cuma berdiri sambil merhatiin kakinya. "Yang penting dalam pertarungan melawan manusia adalah mengamati gerak kaki mereka.'" Gitu sih kata karakter dari novel yang gue baca. Shiva mulai ganti kuda-kuda. Entah deh dia pake bela diri apa, gerakannya rada aneh, kaku macam robot. Kaki kiri sama kanannya gantian maju mundur, dua tangannya mengepal. Ini kick boxing bukan sih? Selebet! Tiga kali tendangan berputar, bisa gue hindari tanpa perlu buka skill penglihatan. Wush! Pukulan beruntunnya bisa gue hindari juga. Gitu aja terus sampe dia capek, gue cuma ngehindar. "Hah! Apa kau cuma bisa menghindar?!" Tuh bocah nyoba profokasi gue. Tenang ... tenang. Gue belum bisa ngendaliin kekuatan gue, jangan sampe nanti salah-salah tuh anak malah mati. Bisa berabe. Fokus mana gue di telapak kaki. Sekali gerakan sama dengan teleportasi. Seketika gue udah ada di belakang si Shiva pas dia nyoba ngasih pukulan telak ke muka gue. Sadar gue ngilang, dia langsung balik badan. Gue udah nyiapin serangan buat dia. Jari tengah dilipet, gue tahan pake ibu jari. Tanpa dikasih mana, gue sentil jidatnya sekuat tenaga. Bum! Anjir kaget sendiri gue, suaranya kayak ledakan. Tanpa gue sadari, si Shiva udah mental jauh. Jatuh ke jurang. Waduh gimana nih? - Bersambung -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD