Suara langkah sepatu boots membelah tanah basah hutan. Clara berjalan dengan tangan terikat tipis di belakang, meski tidak sekuat borgol, tapi cukup untuk membuatnya tak bisa bebas. Adrian membawa gadis itu ke hutan, alasan yang dikatakannya singkat saja: “Kamu perlu belajar melihat dunia dari mataku.” Clara mendongak, menatap pepohonan yang menjulang. Hatinya masih berdebar setelah perjalanan tadi. “Membawa aku ke hutan? Kamu pikir aku akan berterima kasih karena diberi udara segar?” sindirnya. Adrian menoleh sekilas, matanya abu-abu berkilat dingin. “Udara segar bisa menjadi racun juga, jika kamu tidak tahu cara bernapas dengan benar.” Clara mendengus. “Kamu bicara seperti filsuf gagal.” Marco yang berjalan di belakang hanya terdiam, matanya berganti-ganti menatap Adrian dan Clara. A

