Part 4 - Meet Again

897 Words
Sudah lima hari sejak Yunhee dan Baekho menemui Taehoon. Namun hingga kini belum ada kabar apapun dari pria itu. Yunhee merasa cemas. Bukan karena takut ia tidak bisa bekerja di PCY Corporation. Tapi karena takut Baekho akan semakin cerewet kalau ia tidak bekerja di sana. "Mau bagaimana lagi? Bukankah sudah kubilang akan sulit bagiku untuk bekerja di sana dengan ijazah SMAku." gerutu Yunhee. Ia kesal karena Baekho terus bertanya apakah Taehoon menghubunginya. "Ck, kau tidak tahu bagaimana Taehoon saja. Hal ini hal yang mudah baginya. Ia bisa membuatmu bekerja di PCY Corporation hanya dengan menjentikkan jari." *** Sementara itu, Taehoon terus menerus membujuk sahabatnya, Changbin. "Ayolah, bantu aku sekali lagi." rengek Taehoon. "Tidak mau. Sudah berapa simpananmu yang harus kupekerjakan di perusahaanku? Mengapa kau tidak memperkerjakan mereka di perusahaanmu sendiri?" Changbin berucap tak acuh. Fokusnya masih terpaku pada berkas-berkas yang ada di mejanya. "Tapi gadis ini istimewa. Kau takkan menyesal mempekerjakannya di perusahaanmu." bujuk Taehoon. Woojin mengabaikan bujukan Taehoon dan bersikap seolah-olah Taehoon tak ada. Karena tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, Taehoon mencoba plan B. "Kalau kau tidak mau membantuku, aku akan menghasut Bibi Park untuk menjodohkanmu dengan Hana. Bagaimana? Kau tahu kan Bibi Park selalu mendengarkan perkataanku semenjak Baekho meninggal?" Tubuh Woojin menegang. Taehoon pun tersadar ia telah menyebutkan nama yang tabu bagi Changbin. Ia memandang Changbin meminta maaf. "Maaf, aku lupa kalau—" "Sudahlah. Kau boleh membawa gadis itu kemari. Lakukan sesukamu. Aku sudah tidak peduli. Sekarang keluar dari ruanganku!" usir Changbin. Taehoon tersenyum sumrigah. Ia tidak membantah dan keluar dari ruangan Changbin. Changbin memijat pangkal hidungnya. Matanya menerawang mengingat wajah Baekho yang tersenyum padanya. "Baekho-ya." Di luar ruangan Changbin, Taehoon mengambil ponselnya dan menghubungi Yunhee. "Kalau bukan karena Baekho, aku takkan tega memanfaatkan kelemahan Changbin seperti ini." *** Yunhee merapikan pakaiannya. Memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya di depan cermin. Ia keluar dari kamar mandi dengan tidak percaya diri. Ini pertama kalinya ia memakai rok untuk sekian lama. "Wuaa." Satu kata itu yang keluar dari bibir Baekho melihat penampilan Yunhee. Yunhee tampak berbeda dengan kemeja biru muda dan rok span selututnya. Membuat ia terlihat lebih ... Cantik. "Bagaimana?" Yunhee memutar-mutar tubuhnya. "Ikat rambutmu!" perintah Baekho. "Ha?" "Aku tahu rencanamu. Kau akan menyembunyikan wajahmu dengan rambutmu itu kan?" cibir Baekho. Yunhee mendengus dan mengambil ikat rambut lalu mengikat rambutnya. Menyisakan sedikit poni yang dirapikannya. "Selesai." Yunhee mengambil blazer dan juga tasnya. Baekho berucap dengan ekspresi sombong "Kau harus benar-benar berterimakasih padaku. Berkatku kau bisa bekerja di perusahaan terkenal seperti PCY Corporation." "Ya ya... Terimakasih banyak Baekho-ssi!" cibir Yunhee. Baekho mengabaikan cibiran Yunhe, "Ayo!" *** Yunhee memasuki PCY Corporation. Ia diantar langsung oleh Taehoon jadi tidak ada hambatan baginya untuk menemui pimpinan perusahaan itu. "Begitu kau di dalam, tidak usah gugup. Mungkin kau akan terkejut. Tapi usahakan untuk tetap tenang, mengerti?" ucap Baeho misterius. Yunhee mengangguk. Taehoon yang mengerti kalau Yunhee sedang berbicara pada Baekho pun hanya tersenyum. Taehoon mengetuk pintu ruangan Changbin. Setelah Changbin bergumam 'masuk' Taehoon pun memasuki ruangan tersebut bersama Yunhee. Yunhee terkejut melihat Changbin. Tapi mengingat pesan Baekho, gadis itu berusaha untuk tetap tenang. Baekho sendiri menghilang entah kemana. Dan itu sukses membuat Yunhee semakin gugup. "Yo, Changbin-ah. Ini gadis yang kuceritakan kemarin." ucap Taehoon, "Kau ingatkan? Dia Oh Yunhee, junior kita di SMA." "Aku tidak ingat." ucap Changbin singkat. Yunhee hanya tersenyum. Apa yang ia harapkan? Changbin tidak mungkin mengenalnya. Lagipula di sekolah ia hanya dikenal sebagai gadis aneh yang sering berteriak histeris tanpa alasan yang jelas. Taehoon mendelik pada Changbin. Kesal karena pria itu bertingkah dingin pada Yunhee. Changbin mempersilahkan mereka berdua untuk duduk. "Baiklah karena sekertarisku mengundurkan diri, kau akan menjadi sekertarisku Nona Oh. Aku tidak menyukai orang yang tidak cekatan. Jika kau melakukan kesalahan aku tak akan segan-segan memecatmu, kau mengerti?" ucap Changbin. Taehoon menyeringai dalam hati. Changbin pasti tak tahu kalau sekertarisnya mengundurkan diri karena Taehoon. Taehoon sudah mempersiapkan segalanya untuk membantu Yunhee dan Baekho. Yunhee masih sibuk mencari-cari Baekho yang menghilang sejak mereka memasuki ruangan Changbin. Ia baru tersadar saat Taehoon menepuk bahunya. "Kerja yang giat, oke? Semangat! Kalau ada apa-apa telpon aku." pamit Taehoon sebelum pergi. *** Yunhee menyenderkan kepalanya di atas meja. Ini hari pertamanya bekerja, tapi ia sudah merasa lelah sekali. Changbin tak memberinya waktu istirahat sedikitpun. Sejak tadi ia terus menerima telpon, menyiapkan berkas dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Ia tak tahu kalau pekerjaan seorang sekertaris seberat ini. "Kau lelah?" Yunhee bangun dengan cepat. Tapi langsung mengehela nafas lega karena menyadari itu adalah Baekho. "Kau! Kau menghilang lagi tadi! Kau kemana saja?!" protes Yunhee. Baekho meringis. Merasa bersalah, "Maaf. Aku tak bisa memberitahumu kemana aku pergi." "Tapi, kenapa kau tak bilang kalau direktur perusahaan ini adalah Park Changbin?" protes Yunhee. Baekho memasang wajah menggodanya. "Kalau kuberi tahu kau akan langsung kabur. Lagipula menyenangkan bukan bisa berdekatan dengan pria yang kau sukai." goda Baekho. Yunhee menggigiti bibirnya dan tersipu malu. Membuat Baekho makin bersemangat menggodanya. "Ck, hentikan! Jangan ganggu aku. Aku harus kembali mengerjakan laporan!" "Park Changbin ... Park Changbin ..." ejek Baekho. "Hei!" *** Changbin mengambil jasnya dan berniat untuk istirahat makan siang. Saat keluar ia melihat Yunhee yang sedang malu-malu dan juga berteriak kesal sendirian. Ruangannya dan meja Yunhee memang hanya dibatasi dengan dinding kaca jadi Changbin bisa melihat apa yang dilakukan oleh Yunhee. "Gadis itu ... Benar-benar aneh." gumam Changbin. Ia menggelengkan kepalanya heran lalu melangkah pergi. *** Makassar, 15 Januari 2016
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD