Bzzzt! Bzzzt!
Kirana menampar alarm jam 6:30 pagi dengan mata masih setengah tertutup. "Siapa juga yang mau bangun jam segini buat kerja?!" Otaknya masih berkabut saat mencoba mengingat mengapa hari ini harus bangun lebih awal—
"BESOK PAGI KITA LANJUTKAN. JAM 7."
Suara dingin Daryandra tiba-tiba terngiang di kepalanya.
"SH—!"
Dia langsung terduduk, jantung berdebar kencang. "Jam berapa sekarang?!"
6:47 AM
"TIDAKKKK—!"
Kirana melompat dari kasur seperti kesetrum, langsung menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
---
"Cepetan, Bang! Ngebut dikit gak apa-apa!" Kirana memohon pada sopir taksi sambil terus memandangi jam tangan.
Sopir taksi menghela napas. "Neng, ini bukan Fast & Furious. Kalo ditilang, siapa yang bayar?"
Kirana menggerutu, jari-jarinya mengetuk-ngetuk dashboard dengan gugup. "Dasar Daryandra! Kenapa juga harus jam 7?! Manusia normal aja baru bangun jam segini!"
Tapi dalam hati, dia tahu—CEO itu tidak pernah bercanda soal waktu.
---
Lift bergerak naik pelan, seolah sengaja menyiksa Kirana. Dia memandangi pantulan dirinya di kaca lift—"Setidaknya penampilan gue sempurna hari ini. Blazer hitam, high-waist pants, rambut dikuncir rapi... walaupun eyeliner kanan agak miring karena ditarik buru-buru."
Ding!
Pintu lift terbuka.
Dan di sana—
Daryandra Zaynar Wira Pradipta.
Berdiri tepat di depan lift, tangan disilangkan di d**a, wajahnya lebih dingin dari AC kantor. Matanya menyorot tajam, seolah bisa membakar Kirana hidup-hidup.
"Oh Tuhan... dia benar-benar sudah menunggu dari tadi."
Kirana menghela napas dalam-dalam, lalu... "Hai, Boss Tampan~! Pagi yang cerah ya?"
Suaranya dibuat manis, tapi senyumnya terpaksa seperti sedang disandera.
Dian tidak bergeming. "Anda terlambat 41 menit."
"Ehehe... macet?"
"Saya tiba jam 6:30."
"DASAR WORKAHOLIC!"
Kirana berusaha tetap tenang. "Maafkan saya, Pak. Besok pasti tidak terulang."
Dian memandanginya sejenak, lalu berbalik. "Ikut saya. Kita lanjutkan laporan."
---
Begitu masuk, Kirana langsung melihat dua cangkir kopi di meja—satu sudah setengah habis, satunya masih penuh.
"Dia... siapin kopi buat gue?"
Tapi pikirannya langsung buyar saat Dian melempar dokumen ke depannya.
"Halaman 3 sampai 7 harus direvisi ulang. Data yang Anda masukkan kemarin tidak akurat."
Kirana membuka dokumen itu, matanya langsung berkedip-kedip melihat coretan merah di mana-mana. "Astaga... ini lebih parah dari ujian skripsi!"
"Masih ada yang tidak jelas?" tanya Dian sambil menyeruput kopinya.
Kirana mengatupkan gigi. "Yang tidak jelas adalah kenapa gue harus melalui ini semua!"
Tapi yang keluar dari mulutnya adalah: "Tidak, Pak. Semua jelas."
Dian mengangguk, lalu tiba-tiba...
"Kopi itu untuk Anda."
Kirana terkejut. "Eh?"
"Saya lihat Anda suka kopi hitam. Itu tanpa gula."
"..."
"Dia... perhatikan kebiasaan gue?"
Perasaan aneh tiba-tiba menyergapnya. Tapi sebelum bisa berterima kasih—
"Sekarang kerja. Jangan buang waktu lagi."
"Ah, iya. Tentu saja. Mana mungkin si setan ini bisa bersikap baik."
---
Matahari baru saja terbenam ketika mobil Rolls-Royce Daryandra meluncur pelan memasuki gerbang rumah megahnya di kawasan Menteng. Biasanya ia pulang larut malam, tapi hari ini kepalanya terasa berat—sejak pagi tadi, bayangan Kirana yang tersipu malu melihat kopi yang ia siapkan terus mengganggu konsentrasinya.
"Sial. Aku harus istirahat," gumamnya sambil mengusap pelipisnya.
Tapi alam semesta punya rencana lain.
"Ayah Ibu?"
Matanya menyiput melihat mobil Mercedes putih terparkir rapi—kendaraan kesayangan ibunya. "Tidak sekarang..."
Dengan langkah berat, Dian memasuki rumah. Begitu pintu terbuka, aroma lavender dan teh melati langsung menyambutnya—aromanya selalu dibawa ibunya kemana-mana.
"Dian! Akhirnya pulang juga kamu!"
Sosok ramping Nyonya Wira berdiri di depan tangga, tangan terkuping di pinggang. Wajahnya masih cantik bak wanita 40-an meski usianya sudah 60 tahun.
"Ibu tidak bilang mau datang," ujar Dian sambil meletakkan koper kerjanya.
"Kalau bilang dulu, kamu pasti kabur lagi," sergah sang ibu.
Dari ruang tamu, suara berat ayahnya menggema. "Daryandra, masuk sini. Ada yang perlu kita bicarakan."
"Ini tidak akan baik," duga Dian.
---
Dian duduk di hadapan orang tuanya dengan ekspresi datar, sementara pembantu menghidangkan teh herbal khusus.
"Kamu sudah 30 tahun, Dian," mulai Ayah Wira dengan suara berat. "Waktunya memikirkan kelanjutan perusahaan ini. Pamanmu sudah menanyakan soal penerus—"
"Ayah," potong Dian. "Kita sudah membahas ini. Wira Group aman."
Ibundanya segera menyambar. "Tapi tidak dengan garis keturunan kita! Lihat teman-teman Ibu, sudah pada punya cucu—"
"Ibu..."
"Kamu pacaran sama siapa sekarang? Itu artis lagi?!" tanya ibunya dengan mata berkilat.
Dian meneguk tehnya perlahan. "Clara. Pacarku selama 2 tahun terakhir." Tapi yang ia ucapkan adalah: "Itu urusanku."
Ayahnya menghela napas. "Kami sudah pilihkan beberapa calon yang cocok—"
"TIDAK."
Suara Dian memecah ruangan. "Aku tidak mau dijodohkan."
Ibunya tiba-tiba mengeluarkan senjata pamungkas—"Kalau kamu tidak memilih dalam seminggu, kami yang akan menikahkanmu. Titik."
---
Di Ruang Kerja Pribadi
Dian menatap gelas wiski di tangannya. Bayangan wajah Kirana tiba-tiba muncul lagi.
"Dia... tidak seperti wanita lain."
Tiba-tiba, ide gila muncul di kepalanya.
"Bagaimana jika... aku menikahi Kirana?"
"Gila. Dia pasti membenciku."
Tapi senyum tipis mengembang di bibirnya.
"Tapi justru itu yang membuatnya sempurna."
---
Keesokan harinya kirana melamun di depan komputer dan memikirkan masalah rumah yang tidak pernah selesai.
"Bangsat... kenapa hidup gue selalu begini?"
Kirana menatap layar komputernya dengan pandangan kosong. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme tidak sabar, seolah mencoba mengusir bayangan preman berbadan kekar yang kemarin datang ke kos-kosannya.
"Dasar ayah! Udah gue bilang berapa kali, jangan main judi! Sekarang gue yang harus tanggung jawab!"
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Tapi bayangan ancaman si preman tadi pagi masih terngiang jelas di telinganya.
"Besok, uangnya harus lunas. Kalau enggak, kita selesaikan dengan cara lain."
"Cara lain apaan, n*****t?! Masa gue harus bayar pake badan?!"
Kirana menggelengkan kepala, mencoba fokus pada laporan di depannya. Tapi pikiran terus melayang ke mimpi-mimpinya—
"Andaikan gue lahir di zaman kerajaan. Jadi putri yang punya pengawal pribadi. Atau mungkin jadi dewi yang bisa ngutuk orang seenak jidat!"
Dia tersenyum sendiri membayangkan dirinya mengenakan gaun mewah, duduk di singgasana emas, sementara Daryandra—
"Eh, kok malah muncul si Raja Dingin di lamunan gue?!"
Dia mengusap wajahnya. "Astaga, Kirana. Lo udah mulai gila ya? Sampe bayangin dia jadi pangeran atau apalah itu?"
Tapi lamunannya terputus ketika—
Klik.
Suara pintu terkunci.
Kirana menoleh, dan—
"Dian?!"
CEO itu berdiri di depan pintu, tangan masih memegang kunci yang baru saja diputar. Wajahnya lebih serius dari biasanya, bahkan lebih tegang dari saat meeting dengan investor besar.
"Kita perlu bicara." Suaranya rendah, tapi penuh tekanan.
Kirana mengerutkan kening. "Ini apaan? Kok rasanya kayak adegan di film thriller?"
"Bicara tentang apa, Pak?" tanyanya, berusaha tetap tenang.
Dian melangkah mendekat. Setiap langkahnya seperti menggetarkan lantai. "Tentang masa depan Anda."
"Masa depan gue?" Kirana nyaris tertawa. "Masa depan gue sekarang cuma satu: cari duit buat bayar utang ayah gue sebelum preman itu beneran ngebakar kos-kosan!"
Tapi yang keluar dari mulutnya adalah: "Maksud Bapak?"
Dian berhenti tepat di depan mejanya. Matanya menatap langsung ke wajah Kirana, seolah mencoba membaca setiap ekspresi yang mungkin terlewat.
"Saya punya proposal untuk Anda."
Kirana mengangkat alis. "Proposal? Ini perusahaan atau acara lamaran?!"
"Proposal apa, Pak?"
Dian menarik napas dalam-dalam, lalu—
"Menikah dengan saya."
"..."
"..."
"APA?!"
Kirana nyaris terjatuh dari kursinya. "B-Bapak bercanda?!"
Dian tidak tersenyum. "Saya tidak pernah bercanda tentang pernikahan."
Kirana berdiri, jantungnya berdebar kencang. "Ini mimpi, ya? Pasti mimpi. Gue kebanyakan mikirin utang sampe halusinasi."
Tapi dinginnya lantai di bawah kakinya membuktikan ini nyata.
"Kenapa... kenapa gue?" tanyanya, suaranya hampir bergetar.
Dian mengeluarkan dokumen dari dalam map. "Karena Anda sempurna untuk situasi saya."
"Sempurna? Sempurna apanya?!" batin Kirana. "Gue cuma karyawan biasa yang tiap hari hampir dimaki-maki elu!"
Dian meletakkan dokumen itu di meja. "Ini kontrak pernikahan. Semua syarat ada di sini."
Kirana melihat sekilas—angka-angka dengan banyak nol membuat matanya berkedip.
"Gila... nominalnya aja bisa buat lunasin utang ayah gue sepuluh kali lipat!"
"Anda akan mendapatkan semua yang tercantum di sini," lanjut Dian. "Rumah, tunjangan bulanan, bahkan posisi di perusahaan."
Kirana menatapnya tak percaya. "Tapi... kenapa? Kenapa tiba-tiba Bapak mau nikah sama saya?"
Dian akhirnya duduk di kursi di seberangnya. "Orang tua saya menuntut saya menikah. Saya butuh istri yang tidak akan benar-benar mengganggu hidup saya."
"Oh. Jadi gue cuma 'tumbal' buat dia?"
Perasaan aneh menyergap d**a Kirana. Sebagian dari dirinya marah, tapi bagian lain—yang sedang terdesak utang—mulai berpikir rasional.
"Dan... hubungan kita? Maksud saya, setelah menikah?"
Dian menatapnya tajam. "Anda bebas melakukan apapun, asal tidak mempermalukan nama keluarga. Tidak ada ikatan emosional."
"Jadi marriage of convenience gini?"
Kirana melihat dokumen lagi. "Duitnya banyak... bisa buat bayar utang, bahkan buat modal usaha..."
Tapi kemudian—
"Apa ada syarat lain?" tanyanya curiga.
Dian diam sejenak. "Satu. Anda harus tinggal bersama saya. Untuk menjaga penampilan di depan orang tua."
"Tinggal... bersama Daryandra? Setiap hari? Setiap malam?!"
Kirana tiba-tiba membayangkan dirinya harus sarapan dengan pria itu setiap pagi. "Gue bisa gila beneran!"
Tapi saat itu juga, teleponnya bergetar. Pesan masuk dari si preman:
"Besok jam 5 sore, uang harus ada. Atau kita main kasar."
Dian melihat perubahan ekspresi Kirana. "Ada masalah?"
Kirana menggigit bibirnya. "Ini kesempatan gue... satu-satunya cara..."
Dengan napas berat, dia menatap Dian.
"Kalau... kalau saya bilang iya, kapan kita mulai?"
Senyum tipis muncul di wajah Dian untuk pertama kalinya. "Besok. Kita temui orang tua saya."
"BESOK?! CEPAT BANGET SIH!"
Tapi Kirana sudah tidak punya pilihan.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu—
"Deal."