“Girang amat lu Ron! Kenapa?” Adit terheran-heran melihatku melewatinya yang tengah asyik menonton televisi di ruang tengah. Ia sampai menyikut Parmin, berharap ada penjelasan. Sepertinya aura wajahku saat ini memang berbeda. “Rahasia!” sahutku, terus berlalu. “Ron, jadi gak?” Parmin berteriak. “Apa?” kuputar sedikit tubuh. Menatap Parmin yang sudah senyum-senyum kambing. “Katanya minta dianter ke Mang Dani.” Euh dasar! Kebelet ketemu si Lidya pasti! “Oia, gue ganti baju dulu ya!” Setelah mengganti pakaian, aku mengumpulkan pakaian kotor yang mulai menumpuk dan minta perhatian. Duh, tangan masih sakit. Untung di depan sana ada laundry. Tidak ada salahnya memakai jasa laundry saat ini. “Jadi nggak?” Parmin muncul dari balik pintu. Masuk lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Untung su

