Sebuah penutup minggu yang sangat sempurna. Setelah beberapa Minggu kuhabiskan dalam kebetean karena perubahan sikap gadis incaranku. Perlahan kelegaan menghampiri. Seperti melihat garis finish di ujung lomba lari maraton jarak jauh, sedangkan langkahku sudah terseok-seok. Begitu berpamitan dengan rekan lainnya di halaman sekolah, aku menyempatkan diri mengantar Keyla ke alun-alun kota. Disana tempat ia mengambil angkot kedua menuju rumahnya. Setelah sebelumnya menghabiskan beberapa menit denganku di kursi taman. Menikmati sebuah es krim di tangan, juga sajian wajahnya dalam pandangan. Aku lega, meskipun Key mengatakan dirinya tak bisa ataupun tak ingin pacaran, tapi gadis itu tidak lantas memutuskan diri untuk menjauh dariku. Aku bisa menerima prinsipnya, tapi aku tidak bisa menerima

