DI sisi lain ibukota, seorang pria turun dari mobil rolls-royce miliknya dan berjalan memasuki rumahnya. Seorang wanita telah menunggunya dengan sebuah senyuman tenang dan segera mendekatinya. Rudolf menyerahkan jasnya ke tangan Mia—istrinya—kemudian berjalan mendahului wanita tersebut.
"Jadi bagaimana?"
"Ada perubahan rencana," tutur Rudolf tenang.
Mia menyeringitkan dahinya. "Jadi kabar tentang Max akan menikah itu benar?"
"Iya. Anak itu semakin tidak bisa diatur," terdengar kertakan gigi diakhir perkataan Rudolf, "aku penasaran dengan apa yang sebenarnya direncanakan anak itu."
Rudolf duduk di sofa diikuti Mia yang segera duduk disampingnya, ia memijat lengan Rudolf penuh pengertian. "Bagaimana kalau ia menghambat rencana yang sudah kamu rencanakan?"
Rudolf menoleh, ia memberikan seulas senyuman licik. "Tenang saja, ketika waktunya tiba aku akan menghancurkan bocah sialan itu." Rudolf meraih jemari Mia dan menggenggamnya erat. "Kamu sudah menderita selama ini, aku akan membuktikan ke wanita tua dan bocah sialan itu siapa pemenang sesungguhnya. Yang perlu kamu lakukan saat ini hanya bersabar hingga saat itu tiba, dan ketika saat itu tiba kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan."
Dari bola mata Mia, terpancar kobaran api penuh kebencian. Ia menggigit bibir bagian bawahnya dan mengangguk, "Kita sudah menderita selama ini, kita tidak boleh gagal."
Rudolf mengangguk. "Semuanya akan jauh lebih mudah kalau anak kita sedikit memiliki kelebihan yang dimiliki bocah sialan itu, tetapi sudahlah, anak kita jauh lebih baik dibanding anak b******n itu."
Mia menundukkan kepalanya, bagaimana pun juga memang benar bahwa Max jauh lebih baik dari anaknya sendiri tetapi sebagai ibu yang mengasuh dan mendidik anaknya sejak kecil, di mata Mia anaknya tetaplah nomor satu.
"Jangan khawatir Mia, segala penderitaan yang kita alami akan membuahkan hasil yang baik."
***
Waktu bergulir dengan cepat, setiap hari Radha selalu ditemani Sylvia untuk belajar mengenai dasar bisnis dan mengolah keuangan. Radha bukanlah gadis yang sangat cerdas sehingga ia mengalami kesulitan ketika belajar, tetapi Sylvia selalu dengan sabar mengajarinya hingga ia mengerti. Sylvia juga selalu memberitahu Radha dan meminta persetujuan gadis itu segala sesuatu tentang pernikahan antara Max dan Radha.
Setiap pagi Radha dijemput pukul delapan pagi dan pulang ke rumah pukul enam sore. Selama itu pula ia tidak pernah bertemu Max, ketika Radha menanyai tentang Max kepada Sylvia, wanita itu menjawab bahwa Max selalu berangkat ke kantor pukul delapan pagi dan baru pulang pukul Sembilan malam.
Sylvia juga memberitahu Radha sebagian besar tempramen Max yang tentu saja sudah bisa Radha perkirakan; irit bicara, to the point, dingin, dan selalu berpikir rasional. Sylvia termasuk bawahan yang kompeten, meskipun Radha berusaha mengorek-ngorek tentang keburukan Max, Sylvia bisa mengunci mulutnya rapat-rapat dan tidak menggosipi Max. Sepertinya Max mendidik bawahannya dengan sangat baik.
Tetapi khusus hari ini, Radha terkejut melihat kehadiran Max di rumahnya. Pria itu mengenakan turtleneck berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam tengah bersantai di rumahnya, ia mengangkat kedua kakinya diatas sofa panjang dengan laptop di pahanya. Sylvia tersenyum sopan begitu Radha menatapnya dengan tatapan bingung.
"Hari ini anda akan belajar bersama Pak Max sekaligus membicarakan pertemuan anda dengan keluarga besarnya."
Radha melengos di dalam hatinya, kenapa Sylvia tidak bilang daritadi? Atau malah bilang dari kemarin, sih? Radha memalingkan wajahnya tetapi Sylvia sudah menghilang dari sisinya sehingga ia hanya berdiri dengan canggung di tengah ruangan.
"Sampai kapan anda mau berdiri disana?"
Dengan canggung Radha berjalan mendekat ke arah sofa yang tengah Max duduki, Radha duduk di sisi yang berlawanan dari Max dan menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu dan tidak berminat untuk membuka pembicaraan dengan Max, dan pria itu tampaknya juga tidak berminat untuk memulai pembicaraan.
"Apa anda mau selama 10 jam kita berdiam diri seperti ini?"
Oh, baiklah, Radha salah untuk pemikirannya yang terakhir.
Radha mengangkat wajahnya, ternyata Max telah menyingkirkan laptopnya dan kini pria itu menatap Radha dengan tatapan datar dan tajamnya. "Enggak..." Radha mengerjapkan matanya beberapa kali, "...kok," tambahnya ragu.
Max mengalihkan pandangannya kearah lain, ia menyilangkan kakinya dan mengatupkan kedua tangannya diatas lutut kanannya. "Bagaimana dengan pelajaran bersama Sylvia? Sudah sampai mana?"
"Emm... Masih di bab satu..." jawab Radha sangsi.
Tanpa Radha duga, Max menghela nafas panjang dan mengangguk, "Ya sudah."
Ya sudah? Radha menyeringitkan dahinya, diam-diam ia memerhatikan ekspresi wajah Max yang tetap tidak bisa ia tebak. Rasanya perkataan pria itu terdengar seperti keluhan, tapi Radha juga tidak tahu pasti.
Berbicara dengan Max membutuhkan ketelitian yang tinggi, ia juga selalu merasa waspada ketika berada di sekitar pria itu. Radha tidak pernah tahu kapan Max akan meledak, baginya sikap pria itu seperti orang bipolar saja, bisa marah, bisa tenang, bisa menyebalkan, dan semua itu terjadi secara tiba-tiba. Jadi hal yang paling penting adalah, melakukan persiapan menghadapi perubahan sikap Max.
"Besok kita akan bertemu keluarga besar saya." Radha menyimak dengan serius. "Tidak perlu terlalu khawatir, jangan tegang dan rileks saja. Anda tidak perlu berusaha terlalu keras untuk menyenangkan hati mereka, cukup bersikap formal, sopan, dan bicara apa adanya."
"Tapi..." Radha teringat akan drama korea yang ia tonton, mengingat keluarga besar Max yang merupakan orang terpandang bukankah ia harus menunjukan imej sebagai menantu yang menyenangkan, bisa diandalkan, dan membantu suaminya?
"Ada apa?"
"Bukannya sebagai calon istri anda... saya harus bisa menyenangkan keluarga anda? Kalau tidak, maka pernikahan ini akan mereka tentang 'kan?"
Max mengernyitkan dahinya. "Anda akan menikahi saya, bukan keluarga saya. Yang seharusnya anda senangkan itu saya, bukan mereka."
"Tapi ada pepatah berkata, apabila seorang wanita telah menikah, ia tidak hanya menikahi suaminya saja melainkan seluruh keluarga suaminya. Itu sebabnya sang wanita akan dibilang meninggalkan keluarganya sendiri demi menikahi keluarga suaminya."
"Itu hanyalah pepatah yang tidak berlaku apabila anda menikahi saya." Radha menatap Max tidak mengerti. "Saya sudah memilih anda. Dan anda menyetujuinya. Mau orang lain menentang atau berkata apa, tidak ada yang bisa menggoyahkan pernikahan kita. Kita yang memulai pernikahan ini dan apabila ada orang yang mau mengakhirinya, itu adalah diri kita sendiri."
Radha tertegun. Max kembali melanjutkan perkataannya, "Anda tidak perlu pusing memikirkan pendapat orang lain, baik dari pihak keluarga saya maupun orang-orang luar. Itu sebabnya saya selalu menandaskan bahwa kita harus saling memercayai satu sama lain tanpa menginterverensi hal-hal yang menyangkut ranah pribadi. Saya tidak akan mengganggu urusan anda, begitu pula dengan anda. Apabila saya mengijinkan anda, barulah anda bisa menginterverensi. Berlaku pula sebaliknya."