Dita pindah ke Kost-Kostan

870 Words
#Part2 #18+ "Tenang, sayang! Rere sudah tertidur pulas." Sayup kudengar Mas Rama berbisik pada Dita, adikku. "Oh, ya? Aku sudah kangen banget sama kamu, Mas. Semenjak Mbak Rere dirawat di Rumah sakit, waktu kamu nggak ada buat aku." Terdengar suara Dita, manja sekali. Astaghfirullah! Apa yang kudengar ini nyata? Atau cuma halusinasi? Kucubit tanganku untuk membuktikannya. Aw, sakit! Ternyata ini nyata. Kenapa mereka tega? Air mata bergulir deras tanpa dapat kubendung lagi. Ditengah tubuhku yang sedang rapuh, ternyata kenyataan ini jauh lebih menyakitkan. "Sama, sayang! Mas juga kangen dengan kehangatan dan aroma tubuhmu yang menggoda. Mas sudah tak sabar, pengen mengulang keindahan itu." Suara Mas Rama memburu, penuh nafsu. Benar saja. Sejurus kemudian, Hal yang tak seharusnya terjadi itupun sedang berlangsung dikamar sebelah. Rintihan dan erangan kenikmatan dari mulut Dita terdengar jelas dikeheningan malam seperti ini. Aku hanya mampu menangis pilu ditengah pergumulan hangat mereka. Seketika aku teringat dengan pil yang kata Mas Rama biasa diberikannya padaku. Bersusah payah aku bangkit dari tempat tidur, dan berjalan limbung kearah meja rias, tempat dimana pil itu tadi diletakkannya. Tak ada merk yang tertera, mungkin mereka sengaja. Kumasukkan pil itu kedalam tasku. Besok, aku ingin menanyakannya ke Dokter kandunganku. Entah berapa lama, perbuatan dosa itu berlangsung. Aku sudah tak mampu menghitung detik demi detiknya. Yang jelas, seperti singa lapar, Mas Rama dan Dita menumpahkan kerinduan terpendam mereka, disini, dirumahku, dan tepat disebelah kamarku. Sakit sekali! ***** "Dita, kemasi barang-barangmu! Hari ini kamu Mbak pindahkan ke kost-kostan yang dekat dengan kampusmu. Kamu nggak usah mikirin biayanya, untuk bulan ini Mbak sudah membayarkannya. Ntar siang kita berangkat." Ucapku, saat kami bertiga sudah berada di meja makan. "Lho, Re? Kok Dita kamu pindahin dari sini? Nggak enak lah nanti sama Papa." Si b***k nafsu, Rama, yang duluan angkat bicara. "Tenang, Mas! Kamu nggak usah mikirin nggak enak sama Papa. Biar aku sendiri yang bicara dengan orang tuaku." Tukasku. "Emang dia salah apa, sayang? Kasian kan, kalau dia pindah ke tempat baru, tanpa ada orang yang dikenal." Rama tetap ngotot nggak terima dengan keputusanku. "Kamu nggak usah khawatir, Mas. Aku tau yang terbaik untuk adikku. Kamu akan tinggal bersama Zahra, anaknya Bude Nia, Dita! Kebetulan teman sekamarnya baru pindah, jadi dia cuma sendirian." Kualihkan pandanganku ke Dita, adikku. Ada rasa ngilu saat menatapnya, teringat akan pengkhianatan mereka tadi malam. Tapi gimanapun, dia tetap adikku. Papa-Mama menggantungkan harapan mereka ditanganku. Egois kalau aku melemparnya keluar, hanya karena perasaanku sendiri. Jujur, aku sangat sedih melepasnya ditengah kerasnya Ibu kota diluar sana. Tapi aku lebih takut membiarkannya lebih lama lagi dirumah ini. Bukan semata karena Mas Rama suamiku yang diambil pelakor, tapi karena dia adik kandungku. Jangan sampai masa depannya hancur. Cukup aku saja yang hancur. "Kamu nggak ingin menanyakan Kakakmu, kenapa dia mengirimmu, Dit?" Lagi-lagi Mas Rama yang keberatan. "Kenapa Kamu yang ngotot, Mas? Emang Kamu keberatan, Dita pergi dari rumah ini?" Kupandang Mas Rama, penuh selidik. "Oh.. Bukan... Bukan gitu, sayang! Mas hanya bingung alasan kita sama Papa, apa?" Dia gugup, sekilas matanya melirik Dita. Dita hanya tertunduk. Dia sangat paham, keputusan Kakaknya, tak bisa diganggu gugat. Dia berdiri, dan berjalan menuju kamarnya. "Sudah kubilang, bicara sama Papa, biar jadi urusanku. Aku hanya ingin melindungi Dita, dari predator pemangsa wanita!" Ucapku tajam. Mas Rama langsung salah tingkah. ***** Jam satu, kami berangkat dari rumah. Setelah berpikir semalaman, akhirnya aku menemukan solusi. Aku teringat, anaknya Bude Nia juga satu kampus dengan Dita. Namanya Zahra, gadis berjilbab yang taat beribadah. Menempatkan Dita didekatnya, untuk saat ini adalah keputusan terbaik. Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit, akhirnya kami sampai. Zahra sudah menunggu kami di depan pintu, dengan senyumnya yang hangat. "Mbak nggak bisa ngantar masuk kedalam, ya Dit. Mbak masih ada urusan. Sebisa mungkin, Mbak akan sering menjengukmu." Ucapku. Dita hanya mengangguk sembari membuka pintu mobil. "Ingat Dek! Harapan kami berada di pundakmu. Jangan kecewakan kami. Terutama Papa-Mama yang ingin kau berhasil menjadi seorang Dokter handal." Lanjutku. Air mataku menetes. Entah karena sedih berpisah dengannya, atau karena senang telah menyingkirkan seorang pelakor, dari rumah tanggaku. Sekilas kulihat dia pun menyeka pipinya. Dia sebenarnya, termasuk anak yang penurut. Entah setan apa yang membuatnya jadi seganas itu di depan Mas Rama. Perlahan, kupacu mobilku keluar dari Kost-an sederhana itu. Dengan harapan, Dita jadi orang yang lebih baik disamping Zahra. Aku berhenti di depan sebuah klinik. Tempat dimana aku memeriksakan kandunganku, saat hamil. Aku tak kesulitan bertemu dengan Dokter Rudi, karena sebelumnya aku sudah buat janji. "Selamat siang, Bu! Ada yang bisa saya bantu?" Sapanya, ramah. "Siang, Dok. Saya mau menanyakan sama Dokter, ini obat apa ya?" Tanpa basa-basi, kukeluarkan obat yang biasa diberikan Mas Rama padaku setiap malam. Dia menelitinya, beberapa saat lamanya. "Oh, Ini obat tidur dosis tinggi, Bu." Aku terkejut mendengar penjelasannya. "Apa yang terjadi kalau orang hamil meminum ini, Dok?" Spontan, aku bertanya. "Wanita hamil, sangat dilarang keras meminum ini. Karena, paling lama seminggu, wanita tersebut akan mengalami pendarahan hebat, dan langsung keguguran." Penjelasannya membuat langit seakan runtuh. Setelah berpamitan, aku keluar dari klinik, dengan langkah sempoyongan. Kenapa Mas Rama tega melakukan itu padaku? Pada darah dagingnya? Ternyata nafsu lebih penting daripada aku dan anaknya. Lama, aku menangis di parkiran. Setelah agak tenang, kupacu mobilku, kencang. Entah kemana tujuanku. Kembali ke rumah rasanya masih sangat menyakitkan ~Bersambung dulu ya, guy's?~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD