Arwah Penasaran Sialan

1705 Words
Bu Yanti memandangku dengan senyum ramahnya, membuatku merasa gak nyaman karena beberapa kali aku dihadapkan dalam situasi gak enak dengannya. Ah, tapi dia kan bukan Bu Yanti. Mengingatnya, aku merasa kecewa. Tiba-tiba kok jadi kangen sama Bu Yanti ya? “Kamu suka sekali duduk disini. Ibu rasa, tempat ini memang tempat terbaik. Kamu bisa melihat taman dan kantin dalam satu lapang pandang.” Bu Yanti memerhatikan taman. Aku suka duduk disini karena dekat kantin, bisa melihat Hengky. Cowok cinta pertamaku, tapi aku gak pernah sekalipun melihat taman dari sini, sekalipun itu bisa ku lakukan. “Bu Yanti. Boleh nanya?” Aku memandang Bu Yanti, rada deg-degan tapi aku memberanikan diri juga. “Tanya apa? Selama Ibu bisa menjawabnya. Sudah pasti akan Ibu jawab.” Bu Yanti bersikap sangat baik sekali. “Ehm ... anu, Bu. Ehm ... apa ada hal yang membahagiakan Ibu sampai ... Ibu jadi seperti sekarang.” Aku terbata-bata, takut kalo salah bicara. Bu Yanti tertawa terbahak-bahak, suaranya begitu enak di telinga. “Jadi karena inikah kamu dan Steve datang ke rumah Ibu semalam?” Bu Yanti kembali tertawa. Kedua alisku terangkat, gak menyangka kalo Bu Yanti tahu soal kedatanganku dan Steve, semalam. “Jadi Ibu tahu? Ehm ... maafkan saya Bu. Semalam ... ehm...” Nahlo, jadi gelagapan deh. “Jadi benarkah kalian datang karena alasan ini?” Bu Yanti menunggu jawabanku. Aku Cuma bisa tersenyum. “Sekali lagi maafkan kami, Bu. Tapi saya benar-benar penasaran. Karena saya masih ingat bagaimana Ibu meng ... hu ... kum...” Aku menghentikan ucapan, memandang Bu Yanti sekali lagi. “Oh soal itu ... maafkan Ibu yang keterlaluan. Hanya saja saat itu...” Bu Yanti menghentikan ucapannya. “Saya tahu. Pasti Ibu mengira saya nakal jadi harus dihukum biar jera. Tapi sekarang Ibu jadi sangat baik. Membiarkan murid laki dan perempuan berduaan, rasanya bukan seperti Bu Yanti...” Aku keceplosan, membuang muka ke kantin yang masih sanagt ramai. Aku memjamkan mata, mengutuk mulut yang seenaknya bicara. “Lalu apakah kamu berpikir bahwa Ibu adalah orang lain? Apa mungkin Ibu kerasukan begitu?” Bu Yanti menyelaku dengan kalimat yang membuatku sulit menelan ludah. Aku kembali memandang Bu Yanti, ia tersenyum dengan senyum yang sangat aneh dan gak enak dipandang. Membuat bulu kudukku berdiri hanya dengan melihatnya. “Kenapa Ibu bilang begitu? Saya ndak bermaksud begitu, Bu. Hanya saja...” “Bunga. Ibu tahu kamu murid dukun terkenal. Tapi sekarang kamu adalah murid biasa dan istri salah satu siswa juga. Kamu tahu peraturan sekolah melarang orang yang sudah menikah melanjutkan sekolah. Tapi Ibu memberi pengecualian kepadamu,” Wah, Bu Yanti mengancamku ini. Aku memandang taman dimana ada sepasang murid lagi b******u. Seorang cowok merangkul cewek dan menciumi pipinya. Persis sama seperti yang pernah aku lakukan bersama Steve. Tapi bedanya, arwah sialan ini membiarkan saja mereka. “Bu Yanti yang saya kenal sangat disiplin tapi punya hati. Itulah kenapa Ibu membiarkan saya dan Steve bertahan disini sampai lulus. Walaupun kami harus menghadapi hukuman yang cukup berat untuk kami lakukan. Tapi itulah cara Bu Yanti menunjukkan kebaikannya,” Emosiku meningkat drastis. Gak peduli dengan peraturan demon hunter dimana harus bertugas tanpa mencurigakan. Lebih baik aku menggali informasi secara terang-terangan seperti ini. “Bunga. Apa yang sedang ingin kamu katakan?” Bu Yanti berdiri, menunggu jawabanku. Aku ikut berdiri, menatap ke dalam matanya yang gak bersinar layaknya orang hidup. “Yang ingin saya katakan adalah ... kembalikan Bu Yanti kepada kami,” “Aku tidak tahu apa maksudmu tapi aku Bu Yanti kalian. Aku memang berubah karena aku tahu kalian tidak menyukai Bu Yanti yang dulu.” Bu Yanti kembali tersenyum, kali ini kepalanya sedikit miring ke kiri. Aku yakin arwah ini tahu maksudku tapi dia memilih pura-pura gak tahu. Aku menahan geram dengan mengepalkan kedua tangan.  “Semua murid dan guru suka dengan Ibu yang sekarang. Bukankah seharusnya kamu juga seperti itu?” Bu Yanti menunggu jawabanku, ia melipat dua tangannya di depan d**a. “Saya suka Bu. Tapi ... saya lebih suka Bu Yanti yang dulu. Lebih sesuai dengan fisik Ibu sekarang.” Aku memutar badan, males membuang energi. Males marah apalagi ke arwah penasaran seperti dia. Aku gak peduli sama alasannya merasuki raga Bu Yanti tapi arwah itu harus secepatnya keluar dari raga Bu Yanti. *** Aku membuka kulkas dan mengambil sebotol air, menuangkannya ke dalam gelas dan meneguk isinya hingga tandas. Aku masih kesal dengan arwah yang menyusup dalam raga Bu Yanti. Kesal bukan main karena dia sudah membuat keadaan seperti sekarang. “Mukanya memang baik tapi setan itu sudah memperburuk keadaan. Sial bener dia.” Sekali lagi aku menuang air dan meneguknya tanpa sisa. Steve datang dan merebut gelasku, menuang isinya dan meneguknya. Ia meletakkan gelas ke atas meja. “Dari kemarin bawaanmu marah terus. Ada apa Honey?” Steve menarik kursi, duduk di atasnya sambil memandangku. Aku duduk di atas kursi, membuang napas kesal ke udara. “Kita harus bisa mengeluarkan arwah sialan itu dan mengembalikan Bu Yanti secepatnya,” Steve mengangkat dua alisnya. “Ku pikir kamu lebih suka Bu Yanti yang sekarang,” Aku melongo, terus terang aku sempat suka dengan arwah itu. Tapi apa yang dia lakukan padaku tadi siang, gak bisa dimaafkan.  “Kamu lebih suka dia kan?” Steve memainkan dua alisnya, senyumnya mengembang sempurna.  “Ingatkan aku untuk memotong tangannya saat dia berhasil ditangkap!” “Wow. Are you kidding me! Honey, kamu menyeramkan sekali.” Steve terkikik sebelum ia tertawa terbahak-bahak. Aku sangat menikmati tawa lebarnya, Steve yang seperti ini adalah Steve yang aku cintai. Bukan Steve yang tiba-tiba jadi super serius seperti saat di demon hunter. Melihatnya, senyumku mengembang.  “Kenapa?” Steve menopang dagu dengan dua tangannya, menatapku dengan saksama. “Sudah lama aku gak melihat tawamu. Ku pikir jiwa Steve-ku pergi seperti Bu Yanti,” Sekali lagi Steve tertawa keras. “Maafkan aku, Honey. Tapi jiwa Steve-mu ada disini.” Steve menepuk dadanya. “Aku memang serius saat bekerja. Sulit menjaga image itu saat ada kamu di sisiku,” Oh, jadi ini toh masalahnya. Ah, aku gak kepikiran sama sekali. Ku pikir ada masalah penting kenapa Steve jadi berubah. Gak tahunya, Steve sulit jaga image kalo ada aku di sisinya. Aduh, senangnya... “Tadi kamu bicara dengan Bu Yanti. Apa yang kalian bicarakan?”  “Oh, jangan sebut Bu Yanti. Aku bicara sama arwah sialan itu. Sial bener aku. Muka baiknya gak bisa menutupi keburukannya.” Aku jadi balik kesal karena mengingat arwah itu. “Memangnya apa yang dia katakan?” Steve kembali menopang dagu. “Dia tahu kita menyelidikinya semalam,” Senyum Steve menghilang, ia duduk tegap dengan tatapan tajam dan wajah seriusnya kembali. “Apalagi yang ia katakan?”  “Aku kesal sekali sama dia. Awalnya aku hanya ingin basa-basi biasa tapi orang itu sudah membuatku marah.” “Apa maksudmu?” “Aku minta dia untuk mengembalikan Bu Yanti ke tempatnya,” “WHAT?” Steve melotot, ia menjambak rambutnya sendiri. “Apa mereka sudah menemukan jiwa Bu Yanti?” Aku harus secepatnya menemukan jiwa Bu Yanti dan membuat perhitungan dengan arwah sialan itu. “Belum,” “Apa yang mereka lakukan? Kenapa belum bisa menemukannya. Katanya punya alat canggih, tapi mencari satu jiwa aja gak bisa,”  “Honey. Relax! Apakah kamu perlu dilayani untuk melepas ... amarahmu?” Steve memainkan dua alisnya. Membuatku tersenyum sesaat karena ulahnya. “Setidaknya Steve-ku sudah kembali. Aku merasa tenang. Tapi sekarang waktunya kita perang dengan arwah penasaran itu. Gak usah pake penyelidikan segala! Kita masukkan saja dia ke dalam botol....” “Penjara khusus,” “Apapun itu,” Steve meraih tanganku dan meremasnya. “Bunga. Demon hunter punya prosedur dalam melakukan tugas. Aku tidak mau arwah itu semakin brutal jika kita salah langkah,” “Brutal apa? Memangnya apa yang dia bisa lakukan? Dia hanya rwah penasaran. Bukan jin yang memiliki kekuatan tertentu.” Aku cemberut. Steve bangkit, ia berdiri di belakangku dan memijat pundakku. Rasanya sangat nyaman sekali tapi pikiranku masih kepada Bu Yanti. Steve membungkuk, wajah kami sejajar. Ia mengecup bibirku lalu berlutut di hadapanku. “Jika aku tahu kamu punya temperamen buruk dalam bekerja. Aku tidak akan membiarkanmu bekerja disana,” “Temperamen apaan? Kenapa gaya bicaramu jadi tua banget sih Steve. Jangan-jangan kamu lebih tua dari yang ku bayangkan,” Steve tersenyum, ia menggenggam dua tanganku. “Kamu ikuti perintahku! Jangan berinteraksi dengan arwah itu. Aku tidak mau kamu dalam bahaya,” “Apa maksudmu?”  “Restu, Ilham dan Slamet belum menemukan jiwa Bu Yanti. Mereka menyelidiki kediaman Bu Yanti dan jiwa itu tidak ada. Di sekolah pun tidak ada. Jiwa itu kemungkinan disembunyikan di tempat persembunyian yang hanya arwah itu yang tahu. Tadi aku sudah menyelidikinya langsung ke arwah itu. Ku pikir, aku tahu dimana tempatnya,” “Dimana?” Aku penasaran sekali tempatnya. “Di kawah gunung Welirang,” Aku menelan ludah susah payah. Jauh amat arwah itu menyimpan jiwa Bu Yanti. “Lalu apa mereka mencarinya?” “Butuh beberapa hari untuk bisa sampai kesana. Sampai selama itu, kita berdua harus bersikap baik dan pura-pura tidak tahu soal arwah penasaran itu. Aku menghela napas berat, jadi maksudnya aku harus pura-pura gak tahu dan pura-pura gak lihat apa saja hal yang terjadi di sekolah. Berandalan makin menggila, kemesuman dimana-mana dan aku gak bisa ngapa-ngapain. “Bunga. Kamu harus menuruti perintahku! Kita harus hati-hati,” “Iya-iya. Lagian bisa apa arwah itu? Pokoknya kalo dia bikin ulah tinggal aku keluarkan dia dari raga Bu Yanti dan aku masukkan ke dalam botol. Beres deh,” Steve tertawa, ia manarik kepalaku dan membenturkan bibirnya ke bibirku. Aku memeluknya erat, menikmati ciuman yang sangat enak sekali. Membiarkannya menuntunku ke taman surga di atas meja makan. Untung rumah ini lagi sepi banget, jadi aman dah. *** Berjalan di lorong sekolah, Bu Yanti baru saja keluar dari ruangannya. Melihatku dan Steve, ia tersenyum. “Selamat pagi anak-anak,” Geram, langsung ku rasakan. Apalagi sewaktu melihat sepasang murid sedang duduk di bangku dekat kelasku sedang asyik pacaran sambil sesekali ciuman. Murid-murid jadi seenaknya sendiri dan semua itu karena ulah arwah penasaran. Arwah itu sedang merusak mental anak bangsa dan itu gak bisa ku biarkan.  Steve menarik tanganku, tapi aku memilih bertahan. Persetan dengan demon hunter atau apalah itu. Aku harus secepatnya meringkus arwah itu atau semuanya akan menjadi lebih runyam lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD