Minggu Bersama Steve

1610 Words
Aku duduk di bangku sambli melototin Steve yang ternyata bikin skenerio ala drama di TV. Kata Steve, ia ingin cari perhatian dariku lalu ide pura-pura sakit tercetus di kepalanya. “Sorry, Bunga. I just need to know your feeling to me. And now i know, i have a chance to be your boy friend.” Sekali lagi Steve tersenyum. “Artinya apa?” tanyaku, males ngartiin omongannya yang campur-campur gak jelas. “Aku cinta kamu.” Jawaban Steve bikin aku sebal. Ku ambil tumpukan buku paket dan ku angkat di depannya. “Ampun, Honey.” Steve menangkup dua tangan dan tersenyum sok imut. Aku gak tahu Steve makhluk terbuat dari apa, dia tuh bebal banget. Sudah jelas-jelas aku jatuh hati sama Hengky eh si Steve gak tahu diri dengan gampangnya bilang kalo aku dan dia pacaran. Parahnya lagi, sekarang kemana-mana selalu bersama Steve. pokoknya dimana ada aku, disitu pasti ada Steve. *** Pagi yang cerah di hari minggu yang indah. Aku menjemur baju di belakang rumah sambil memandang Ki Mengkis yang lagi mempelajari ilmu kanuragan. Ia duduk bersila, bersemedi dengan khusyuk. Aku tersenyum, Ki Mengkis memang keren sekali apalagi saat mempelajari ilmu yang kini juga ku pelajari. “Hallo Honey...” Minggu yang indah ini rusak seketika oleh kehadiran Steve. Aku menoleh, memandang Steve yang berdiri sambil membawa seikat bunga mawar merah. Ia menyerahkannya kepadaku, suka sih tapi berhubung yang ngasih si Steve jadi males menerimanya. “Dikira aku kuda lumping dikasih bunga.” Aku mengambil ember kosong dan membawanya masuk ke dalam rumah. Steve berdiri di ambang pintu dan meletakkan bunga itu di dipan bambu. Aku membuka lemari es kecil yang ada di ruang makan, mengambil daging dan kembali membawanya ke dapur. Duduk sambil mengiris daging kecil-kecil. Steve memandangku gak berkedip, sesekali aku meliriknya dan senyum tengil muncul seketika. “Apa kamu gak punya kerjaan lain selain ngekorin aku?” tanyaku. “Pekerjaanku, menemanimu setiap waktu,” gombalnya. Aku mendecak, ini bocah ada aja kelakuannya. Aku melanjutkan pekerjaan mengiris daging. Hari ini aku ingin memasak semur daging kesukaan Ki Mengkis. Berhubung ada teman masak, jadi bocah ini bisa ku manfaatkan tenaganya. “Daripada bengong, tuh nyalain kompor!” Aku menunjuk tungku dari bahan batu bata. “Wow. Cool man.” Steve memandang tungku seakan melihat benda langka. Aku geleng-geleng kepala, Steve benar-benar ajaib. “Ambil kayu bakar di belakang terus nyalain pake cara yang pernah diajari di Pramuka. Kamu tahu kan? Itu skot...” “You mean scout?” Steve membenarkan bahasa inggrisku. “Nah itu dia skot. Pramuka. Udah sana ambil!” perintahku. Steve keluar dapur, aku cekikikan membayangkan Steve menggosok kayu demi menyalakan kayu bakar. Tapi ternyata aku salah, si bocah tengil itu ternyata membawa korek api. Dia bilang korek api itu ia dapat dari Ki Mengkis. Gagal sudah ngisengin bocah satu ini. “Masak air tuh!” perintahku. Steve menurut kayak kebo. Ia mengambil panci besar yang ku tempelin di dinding dan mengisinya dengan air dari gentong. Steve duduk kembali di depanku, memandangku sambil tersenyum gak jelas. Aku lagi meracik bumbu di atas cobek. Setelah bumbu jadi, aku mendorong cobek mendekati badan Steve. “Uleg yang lembut!” perintahku. “Oke. Madam.” Steve langsung beraksi, aku lagi-lagi senang melihatnya menurut padaku. Kami berdua akhirnya memasak bersama, ku akui selain caranya yang agresif. Steve itu manis sekali tapi kalo sudah kambuh, Steve jadi bocah paling nyebelin di dunia apalagi kalo lagi ada Hengky. Makin parah dah. Selesai memasak, aku meletakkan hasil masakanku dan Steve di atas meja makan. Makanan yang lumayan mewah karena ada daging sapi. Aku jarang sekali masak daging sapi karena selain mahal, Ki Mengkis sebenarnya gak terlalu suka tapi khusus hari ini aku ingin memakannya dan Ki Mengkis membolehkan aku memakan makanan ini. Ki Mengkis sudah selesai meditasi, ia memandang meja makan sambil duduk di tepi meja. Aku pun ikut duduk di sebelahnya dan Steve sudah duduk di sebelahku. “Bagaimana pekerjaan kalian?” tanya Ki Mengkis. Ia menyendok nasi dan meletakkannya di piring lalu mengambil sesendok daging. “Lumayan Ki. Untung ada Steve dan Hengky yang bantu,” ucapku. “Buku itu bagaimana? Sudah kamu kuasai isinya?” tanya Ki Mengkis. Aku mengangkat jempol kanan. “Aku belajar dengan cepat, Ki. Bahkan sudah bisa ku kuasai.” Aku menyombongkan diri. “Bunga sangat hebat. Saya bangga sama dia,” puji Steve. Kami menikmati sarapan yang sangat enak, sesekali melirik Steve yang mulai membual. Sampai akhirnya sarapan selesai dan aku harus kembali membersihkan meja makan. Steve dengan setia membantu, bikin pekerjaan jadi ringan. Duduk di teras rumah, aku membuka buku karya Ki Mengkis sambil mempelajari ilmu baru. Steve sedang asyik bermain game dengan handphonenya. Begitu serius sampai terkadang marah-marah gak jelas, aku jengkel dengannya. Ku rebut handphone-nya dan ku letakkan di meja. “Mainan aja pake marah-marah segala. Sebel dengernya,” dengusku. Steve tersenyum. “Maafkan aku. Kalo main game aku suka lupa sekitar,” akunya. Aku cuma geleng-geleng kepala dan melanjutkan mempelajari ilmu baru. Buku yang ku genggam tiba-tiba direbut Steve, bikin aku melotot kepadanya. “Balikin!” ucapku. “Engga,” katanya. Steve berdiri, ia menyembunyikan buku di belakang punggungnya, aku berusaha merebut buku itu dari tangannya tapi Steve malah menghindar. Aku terus berusaha merebut buku itu dan Steve terus berusaha menghindar. *** Malam ini perburuan kembali dimulai. Aku dan Steve lagi menunggu Hengky di rumah Ki Mengkis tapi Hengky belum datang juga. Botol jin tiba-tiba keluar dari dalam tas selempangku. Ia berputar-putar lalu berhenti dengan mulut botol menunjuk ke arah kanan. “Gimana ini Steve?” tanyaku. “Kita lakukan berdua saja.” Steve mengambil botol dan mengembalikannya kepadaku. Ku rasa sebaiknya aku dan Steve berangkat berdua daripada menunggu Hengky yang entah kapan datangnya. Berjalan di kampung yang sudah sepi, aku mengira-ngira kemana Hengky pergi atau jangan-jangan dia sakit. Tapi sabtu kemarin kulihat dia baik-baik saja. “Kira-kira Hengky kenapa ya?” gumamku. “Paling lagi jalan sama Sekar. Anak kelas sepuluh yang lagi dikejar Hengky,” celetuk Steve. Aku menghentikan langkah, memandang Steve dengan rasa ingin tahu. Tapi gak mungkin Hengky jalan sama cewek karena jelas-jelas Hengky suka sama aku. “Semua anak sekolah tahu. Kecuali kamu. Tapi tak apa-apa, yang penting kamu tahu perasaanku kepadamu.” Steve merangkul pundakku. “Masa iya? Gak mungkin. Hengky itu...” “Hengky itu play boy. Seperti anak populer pada umumnya,” sahut Steve. “Gak mungkin,” sanggahku. “Kalo tak percaya. Itu buktinya.” Steve menunjuk ke arah sebuah warung. Disana Hengky sedang duduk bersama cewek cantik memakai kaos merah muda dan rok selutut. Cewek itu memang benar-benar dari kelas sepuluh. Hengky terlihat mesra dengan memeluk pinggang cewek itu. Tiba-tiba hatiku sakit sekali melihatnya. Ku pikir Hengky bukan cowok play boy karena setahuku di sekolah dia lebih suka bergaul sama cowok tapi gak tahunya... “Ayo Steve!” Aku gak mau terlalu lama melihat adegan itu. Terlalu menyakitkan. Tapi Steve gak menggubrisku, ia menarik tanganku mendekati warung. Aku menarik lengan Steve tapi Steve terus menarikku hingga akhirnya aku dan Steve berdiri di depan Hengky. “Kita menemukan buruan baru. Ayo berangkat!” ajak Steve, datar. Sekar memandang Steve beberapa lama, ia berdiri lalu tersenyum gak jelas. “Kak Steve...” ucapnya. Steve melihat gadis itu sekilas, tanpa ekspresi. Terus terang, melihat gaya Steve bikin aku ingin ketawa. Sama Sekar, dia sok cool tapi sama aku dia kayak gak punya harga diri. “Pergi denganku atau aku hajar disini!” Steve memandang tajam ke arah Hengky. Hengky mendesah, ia memandang Sekar lalu berpamitan kepada ceweknya. Steve menarik tanganku, mengajakku meninggalkan warung itu bersama Hengky yang berjalan lunglai di belakang kami, meninggalkan Sekar yang masih berdiri termangu. “Kamu nyeremin amat, Steve. Kayak bukan Steve yang ku kenal,” bisikku. “Maaf membuatmu takut. Tapi aku tak ingin membahayakanmu karena kehilangan satu anggota.” Steve tiba-tiba jadi sangat manis sekali. Bikin aku tersenyum memandangnya. “Aku memang ganteng sekali. Kamu pasti senang jadi pacarku.” Steve kambuh lagi deh, bikin aku menghela napas. “Terserah kamu deh Steve. Pegel aku.” Kami melanjutkan perjalanan. Melewati pasar dan akhirnya kami melewati sawah yang gelap gulita lalu masuk ke dalam hutan yang sebenarnya bisa ditembus dengan cepat kalo lewat belakang rumah Ki Mengkis. Botol terus menunjuk ke dalam hutan, jalan setapak naik dan turun. Harus hati-hati karena jalan setapak ini berupa batu kerikil yang ditata di sepanjang jalanan. Tiba di depan sebuah gua, botol bersinar semakin terang. Pertanda di dalam gua inilah jin bersembunyi. Aku dan Hengky saling memandang. Semua orang tahu kalo di dalam gua ini terdapat jin raksasa kolor ijo penunggu harta karun yang bisa bikin semua orang yang ingin berburu harta karun tersesat di dalamnya dan gak akan keluar selamanya. “Kamu sudah tahu kan?” tanya Hengky. Aku mengangguk, ku pandangi gua yang masih jarang dijamah manusia. “Ayo kita masuk!” ajak Steve. Aku masih bergeming. Masih mikir-mikir masuk ke dalamnya. “Disini ada penunggu yang bisa bikin kita kesasar dan gak bakal keluar lagi, Steve,” terangku. “It’s a bull s**t. Kamu tak perlu memercayainya.” Steve gak tahu sih. Aku melirik Steve, Steve memandang gua sebentar lalu masuk ke dalamnya. Aku menarik napas berat, Steve benar-benar pemberani apa sok pemberani atau karena dia gak tahu kalo bahaya besar akan kami hadapi. Steve menghentikan langkahnya, ia memutar badan dan memandangku sambil melambaikan tangan. “Come on!” ajaknya. Dengan langkah berat, aku masuk ke dalam gua. Aku harus menghadapinya karena jika aku lari maka aku yang akan dikejar sama jin yang ingin balas dendam. Aku, Steve dan Hengky berdiri di mulut gua yang sangat pengap. Kami memakai kacamata khusus lalu kami bertiga melangkah masuk ke dalamnya. Bersiap menghadapi jin apapun di dalam gua misterius ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD