Di sebuah Pasar Traditional di Kota Jakarta…
Tampak seorang pemuda dengan pakaian lusuh dan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya. Kulitnya tampak menghitam karena terbakar sinar matahari. Ia terduduk di sebuah pos sambil meminum sebuah minuman dingin dalam kemasan gelas. Nafasnya yang tak teratur, adalah bukti bahwa ia sedang kelelahan. Lelaki itu adalah Sadam.
“Woy! Mobil datang!” Teriak seseorang kepada Sadam yang masih terduduk sambil mengatur kembali nafasnya.
Sadam menarik nafas dengan dalam, setelah mendengar teriakan orang tersebut dan segera membuang sisa kemasan minumannya ke sebuah tempat sampah di dekatnya. Sadam berjalan menuju sebuah mobil box berwarna putih yang baru saja datang dan terparkir di sebelah utara Pasar itu. Supir dari mobil itu segera membuka kunci pintu box belakang. Sementara Sadam dan bebeerapa orang lainnya sudah berbaris dengan rapi menunggu sang supir untuk segera membuka box mobil itu.
Setelah pintu dibuka oleh sang supir, tampak beberapa makanan dan barang-barang lainnya terbaring menunggu untuk diangkut ke sebuah toko.
“Hop!” Sadam menggendong 2 karung beras diatas punggungnya untuk segera diantarkan ke sebuah toko yang letaknya tak begitu jauh dari tempat parkir.
Ia mengambil langkah dengan perlahan dan sangat hati-hati karena ia tak ingin beras dan tubuhnya sampai ambruk keatas tanah. Ketika sampai di toko, ada seseorang yang sudah menunggu untuk membantu menurunkan barang-barang dari para kuli panggul termasuk Sadam.
Sadam kembali menuju mobil itu untuk mengambil beberapa barang lagi yang harus diturunkan dan ia angkut
2 jam kemudian…
Tugasnya telah selesai karena tidak ada lagi muatan yang harus diturunkan. Kini ia hanya menunggu upah dari pemilik toko, untuk ia belikan minuman sebagai pelepas dahaganya dan juga makanan untuk mengganjal rasa laparnya. Sambil menunggu, Sadam melihat kearah jam yang terpajang di dinding toko tersebut sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang ia keluarkan dari dalam saku celananya. Rupanya waktu telah menunjukkan pukul 2 siang.
“Sadam. Ini upah lu hari ini.” Kata pemilik toko sambil memberikan selembar uang 50 ribu. Sadam mengambil uang itu dan tersenyum.
“Terima kasih, pak !” ucap Sadam lalu pergi meninggalkan toko itu.
Sambil berjalan, Sadam terus memandangi uang 50 ribu itu.
“Ternyata keringat gua yang dikuras dari subuh, cuma di hargai 50 ribu.” keluh Sadam dalam hati.
Hari ini adalah hari pertama Sadam bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Sebelumnya, Sadam bekerja sebagai seorang tukang parkir di sebuah minimarket yang letaknya sangat jauh dari pasar ini. Menjadi seorang tukang parkir, memiliki penghasilan lebih dibandingkan menjadi kuli panggul. Namun, ia harus berurusan dengan banyak preman yang suka memalak dan berakhir dengan perkelahian. Akhirnya Sadam memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut dan beralih menjadi seorang kuli panggul di pasar ini.
“Weitsss! Mau kemana bos?” Kata seorang preman sambil mencegat Sadam.
Preman itu adalah orang yang mengusai pasar yang dikenal dengan nama Bos Jaka. Dibelakangnya terdapat 2 orang yang sepertinya adalah anak buahnya Yang dikenal dengan nama Iwan dan Dani. Dari perawakannya, Iwan terlihat seperti pria berusia 27 tahun dengan kulit hitam terbakar matahari dan selalu memakai celana pendek selutut. Sedangkan Dani, bertubuh gemuk, bergigi tonggos, dengan potongan rambut cepak tantara, dan juga sering memakai kaos berloreng seperti tentara. Sadam yakin bahwa Dani terobsesi untuk menjadi tentara, namun tubuh gemuknya lah yang membuat cita-citanya sirna dan memilih untuk menjadi preman pasar.
“Lu udah tau peraturan kuli panggul disini?” Tanya Bos Jaka itu sambil menyeringai.
“Emang ada aturan?” Tanya Sadam kebingungan.
“HAHAHAHA!!!!” Ketiga preman itu tertawa keras dan sangat lepas. Membuat Sadam semakin bingung dengan keadaan ini.
“Semua tempat, semua kerjaan pasti ada yang namanya aturan, bos!” Kata Bos Jaka setengah berbisik persis didepan daun telinga Sadam.
“Berapa yang harus saya bayar?” Tanya Sadam langsung tanpa basa-basi dan tepat kesasarannya sambil menatap tajam.
“Pinter sekaleee…” Kata Iwan dan Dani sambil tertawa.
“20% dari penghasilan lu.” Kata Bos Jaka yang seketika menghentikan tawanya dan berubah menjadi wajah serius. Sadam berpikir dengan tenang.
“Gimana kalo gua gak mau bayar?” Tanya Sadam yang awalnya lebih sopan dengan memakai kata ‘saya’ dan sekarang berubah memakai kata ‘gua’ dan juga tatapannya yang kini menatap tajam kepada Bos Jaka.
“Ya… palingan lu bakalan ngambang di sungai kayak tai.” Kata Iwan mengancam.
Sedangkan Bos Jaka hanya menyeringai dengan ekspresi dan tatapannya yang terus mengintimidasi Sadam.
Sadam berpikir sejenak.
“Apa yang harus gua lakukan? Kalo gua bayar, apa bedanya sama tempat gua kerja yang lama? Kalo gua pindah cari kerja ke tempat lain lagi, gua yakin yang namanya preman pasti ada. Dan mencari pekerjaan baru tidaklah mudah.” Pikir Sadam dalam hati.
Sadam berpikir dengan tenang akan langkah apa yang harus ia ambil. Karena langkah ini, akan menentukan masa depannya. Sadam tak bisa berpikir lama karena ia pasti akan membuat si Preman geram dan kehabisan kesabaran.
“Oke gua bayar. Hari ini gua dapat 50 ribu, berarti gua Cuma harus bayar 10 ribu.” Kata Sadam sambil tersenyum.
“Nah! gitu dong. Gak banyak kan?” Kata Dani sambil tertawa.
“Gua harus bayar 10 ribu perhari dan dalam sebulan berarti gua udah ngasih dia 300 ribu. Dan itu baru dari gua, belum dari kuli panggul yang lain. Dari 15 orang aja, dia udah bisa dapet 4,5 juta sebulan. Belum lagi jatah uang keamanan dari para pedagang dan pemilik toko.” Pikir Sadam dalam hati.
“Tapi, gua gak ada duit 10 ribuan nih. Gua tukerin bentar ya!” Kata Sadam.
“Oke. Gua tunggu di pohon itu!” Tunjuk Bos Jaka kearah sebuah pohon yang berdiri di samping sepeda motor berwarna merah.
Sadam menganggukan kepalanya dan lalu pergi meninggalkan ketiganya. Sadam segera mencari sebuah warung untuk menukarkan uang selembar 50 ribunya.
Namun pada saat ia hendak menukarkannya, tiba-tiba bayang-bayang trauma masa kecilnya terlintas di benaknya. Ia merasa sedikit pusing saat memori itu berputar di kepalanya. Tak lama, ingatan dan rasa pusing itu menghilang dan berganti menjadi sebuah tekad yang bulat.
Sadam telah mengambil langkah baru.
“Sampai kapan yang lemah akan terus tertindas oleh yang kuat dan yang berkuasa?” pikirnya dalam hati.
Kedua mata Sadam kini mulai menyisiri setiap sudut pasar. Hingga kedua matanya menangkap sebuah balok kayu panjang yang tergeletak di sebuah bangunan yang belum sepenuhnya berdiri. Dengan segenap tekad dan api yang membara, ia mengambil balok kayu itu dan menggenggamnya dengan erat pada tangan kanannya. Kemudian, ia berjalan menuju tempat ketiga Preman yang sedang menunggu kehadirannya.
Sebuah pukulan melayang tepat ke kepala bagian belakang Bos Jaka yang sedang lengah sambil merokok di bawah pohon. Pukulan yang diayunkan oleh Sadam dengan sekuat tenaga, membuat Bos Jaka terkapar dan langsung tak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah. Melihat pemimpin mereka tergeletak jatuh keatas tanah dengan kepala bersimbah darah, kedua anak buah Bos Jaka itu pun langsung berusaha melakukan serangan kepada Sadam. Sayangnya, Sadam menghindari pukulan yang hampir mendarat di wajahnya. Kesempatan itu, ia gunakan sebaik baiknya dan menyerang Iwan dengan balok kayu dan mengenai leher bagian belakang Iwan dan seketika membuatnya tak sadarkan diri juga. Melihat kedua temannya telah tergeletak diatas tanah, Dani hanya berdiri terdiam dengan gugup dan panik.
“MAJU LO BANGS*T!!!” bentak Sadam pada Dani yang masih terdiam mematung.
Dani menatap wajah Sadam yang dipenuhi oleh bercak darah bosnya. Ia melihat Sadam seperti sosok Iblis yang sedang mengamuk. Dani pun mencoba berbalik badan dan mengambil langkah seribu. Namun, tubuhnya yang gemuk tidak bisa membuatnya berlari kencang sehingga kepala bagian belakangnya pun turut menjadi korban hantaman balok kayu dari Sadam. Seketika tubuhnya pun ambruk keatas tanah dan disusul dengan darah yang mulai mengalir dan menggenang diatas tanah.
Melihat ketiga preman sudah terkapar tak berdaya, membuat Api yang membara pada tubuh sadam mulai mereda. Tubuhnya ambruk dan membuat ia harus terduduk diatas tanah pasar yang kotor yang bercampur pasir. Sadam masih syok dan tak percaya dengan apa yang telah ia lakukan. Tatapannya kosong dan nafasnya masih terengal-engal. Tiba-tiba tepuk tangan yang meriah mulai terdengar di telinganya. Ia tak sadar bahwa orang-orang di pasar telah berkerumun menonton pertarunganya dengan ketiga preman itu. Ekspresi yang terpancar dari orang-orang di pasar ini menunjukan rasa senang dan bahagia karena Sadam telah mengalahkan ketiga preman yang selalu membuat resah warga pasar.
“Ketika semua orang bahagia, apakah itu berarti jalan yang kupilih adalah benar?” Tanya Sadam dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Setelah mencuci mukanya di sebuah keran air yang letaknya tak jauh dari tempat parkir, Sadam bergegas mengambil sepeda kumbangnya yang terparkir dan segera meninggalkan pasar. Vespa kesayangannya tak lagi berada disisinya karena ia telah menjualnya untuk ia tabung, karena proses kelahiran anaknya sudah semakin dekat.
Kayuhan kakinya terhenti persis didepan sebuah warung makan. Sadam segera masuk dan memesan beberapa lauk makanan untuk ia bawa pulang ke rumah. Setelah menaruh kantong kresek berisikan lauk pauk di keranjang depan sepeda, Sadam pun kembali melanjutkan perjalanannya. Ia terus mengayuh sepedanya di bawah terik matahari yang begitu menyengat. Tubuh dan kepalanya sudah bau oleh keringat yang terbakar oleh panas matahari. Dengan rasa letih setelah seharian bekerja, dan juga berkelahi dengan para preman, Sadam terus melaju dengan sepeda kumbang bututnya.
Setelah melewati sungai dan gang kecil yang berkelak-kelok bak labirin, akhirnya Sadam sampai di rumahnya. Sebuah rumah kontrakan kecil yang hanya berukuran 3x4 meter persegi. Rumah kontrakan Sadam terletak di sebuah gang yang sempit dan kumuh. Saking kecilnya rumah kontrakan ini, bahkan rumah ini tak memiliki kamar tidur dan kamar mandi. Jadi, Sadam harus menggunakan WC umum yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
“Tok…Tok…Tok…” Sadam mengetuk pintu setelah ia memarkirkan sepedanya persis didepan rumahnya.
Tak lama, seseorang membukakan pintu dari dalam dengan sebuah senyuman yang begitu mendamaikan hati. Sebuah senyuman yang mampu menghilangkan rasa lelah dan letih Sadam setelah seharian beraktivitas. Senyuman itu, berasal dari wajah Laras yang tak lain dan tak bukan, kini adalah istri Sadam. Kandungan dalam perut Laras sudah berumur hampir genap 9 bulan. Perutnya pun sudah semakin membesar dan berbeda semenjak terakhir kali ia meninggalkan keluarganya.
“Gimana hari ini? Capek?” Tanya Laras sambil mencium tangan Sadam.
“Yah… Lumayan. Makan yuk! Laper nih!” Kata Sadam sambil memberikan kantong kresek yang berisikian lauk pauk.
“Cuci tangan dulu sana! terus ganti baju!” perintah Laras.
Saat Sadam hendak membuka baju, Laras menyadari ada bercak darah yang menempel pada baju Sadam.
“Ini darah apa?” Tanya Laras khawatir.
“Udah… entar aja ceritanya sambil makan! Aku udah laper banget!” Kata Sadam yang lalu membuka bajunya dan memberikannya kepada istrinya.
Laras terus menggenggam baju Sadam dan terus menatapi noda darah pada baju Sadam dengan perasaan khawatir. Setelah berganti baju, Sadam hendak keluar menuju WC umum untuk mencuci tangannya dan sekalian buang air kecil. Namun baru saja ia hendak melangkahkan kaki keluar rumah, Sadam melihat bahwa istrinya terus memandangi bajunya tepat pada bagian yang terdapat noda darah. Maka, ia kembali dan mengusap rambut istrinya lalu mencium keningnya.
“Udah… kamu gak usah khawatir!” kata Sadam sambil tersenyum lalu mencium kening istrinya, sedangkan tangan kanannya membelai rambut istrinya supaya rasa kekhawatirannya segera sirna.
Melihat senyuman di wajah suaminya, sedikit membuat hati Laras menjadi tenang.
“Kamu belum cuci tangan, udah pegang-pegang rambut aku ih!” kata Laras sambil tertawa.
Sadam pun ikut tertawa dan mencium bibir istrinya. Rasa kekhawatiran Laras semakin memudar dan Sadam menyadari hal itu. Maka, ia pun segera meninggalkan istrinya dan berjalan menuju WC umum.
Tampak seorang pemuda bernama Ohim sedang duduk menjaga WC umum. Sambil kedua tangannya sibuk menghitung lembaran uang yang telah ia dapatkan dari orang-orang yang telah memakai WC. Ohim adalah seorang pemuda berusia 15 tahun, 2 tahun lebih muda dibandingkan Sadam. Ohim adalah seorang pemuda sebatang kara yang harus putus sekolah sejak ia lulus SMP. Untuk membiayai hidupnya, ia rela tidak melanjutkan sekolah dan hanya seharian menjaga WC Umum.
“Ciyeee… banyak amat duitnya!” Sapa Sadam pada Ohim yang sedang sibuk menghitung uang.
“Eh… Bang Sadam. Dah balik kerja lu?” sapa Ohim basa-basi.
“Udah. Di dalem ada yang kosong kan ?” tanya Sadam.
“Ada. Tuh yang ujung!” jawab Ohim.
Sadam lalu masuk kedalam WC dan segera menuju bilik paling ujung. Sedangkan Ohim melanjutkan menghitung uangnya.
“Tadi ngitung sampe mana ya?” tanya Ohim sambil menggaruk-garuk kepalanya yang padahal tidak gatal.
WC umum itu sangatlah kotor dan bau. Bahkan Sadam bisa mencium bau pesing dari seluruh sudut ruangan. Sungguh lingkungan yang tidak sehat. Didalam WC, Sadam termenung sejenak sambil buang air kecil. Ia memimpikan bahwa suatu hari, ia dan keluarga kecilnya harus keluar dari tempat kumuh ini ke tempat yang lebih layak. Ia tak ingin Laras dan anaknya yang akan lahir, harus hidup di lingkungan yang tidak sehat seperti ini. Setelah mencuci tangan, ia segera kembali ke rumah kontrakannya. Sadam tak perlu membayar WC karena ia telah membayar 15 ribu per 1 minggu di muka kepada Ohim.
Sadam menceritakan semua hal yang baru saja terjadi di pasar kepada Laras sambil menyantap makan siang bersama. Laras yang semula khawatir dan tak setuju dengan perbuatan Sadam, akhirnya harus mengalah dan mencoba untuk tidak khawatir. Ia percaya bahwa suaminya pasti bisa mengatasi masalahnya dan semua akan berjalan baik-baik saja seperti kata Sadam. Ia percaya bahwa Sadam adalah lelaki yang tangguh dan tau apa yang harus dilakukannya.
“Sayang, malem jalan-jalan ke kota yuk!” Ajak Laras.
“Tumben. Biasanya kamu males keluar rumah?”
“Ini… si dedek kayaknya lagi pengen refreshing. ” Kata Laras sambil mengusap-usap perutnya.
Sadam tersenyum dan mengiyakan ajakan istrinya untuk berjalan-jalan keliling kota. Ia juga mengusap-usap perut istrinya yang buncit. Saat itu, Sadam bisa merasakan ada yang bergerak didalam perut istrinya.
“Ya udah, sekarang aku mau bobo cantik dulu ya… Ngantuk soalnya.” Kata Sadam sambil mulai rebahan diatas tikar karena mereka memang tidak memiliki kasur.
Laras pun tersenyum dan membiarkan Sadam untuk beristirahat.
“Eh iya. Sayang, aku mau ngomong sesuatu!” Kata Laras yang baru saja teringat sesuatu.
“Mau ngomong apa?” Kata Sadam sambil membuka kembali kedua matanya yang sebelumnya telah terpejam.
“Aku pengen kerja ya. Bantuin kamu. Boleh gak?” Tanya Laras sambil menggenggam tangan Sadam.
“Istriku yang cantik, aku masih mampu untuk bertanggung jawab. Kamu di rumah aja!” Kata Sadam menolak permintaan Laras.
“Suamiku yang gak cantik, menikah itu kan keputusan bersama antara suami dan istri. Itu artinya bukan hanya suami yang harus bertanggung jawab, tapi istri juga. Emang istri gak boleh kerja ya?” Tanya Laras sambil cemberut.
“Aku gak ngelarang kamu buat kerja. Meskipun kamu udah jadi istri aku, kamu masih punya hak atas tubuh dan mimpi kamu. Tapi, sekarang kamu lagi hamil. Aku gak mau hal yang buruk terjadi kepada istri dan anak aku. Untuk sekarang, memastikan anak kita lahir dengan selamat adalah tanggung jawabku sebagai ayah, juga tanggung jawabmu sebagai ibu. Jadi, kamu diem di rumah menjaga kandunganmu agar tetap sehat. Itu adalah tanggung jawab yang lebih besar dari pada tanggung jawabku.” Kata Sadam sambil tersenyum dan mencubit kecil pipi Laras.
Mendengar kata-kata Sadam, membuat hati Laras berbunga-bunga.
“Sepertinya, aku memang tidak salah memilihnya untuk menjadi pendampingku seumur hidup.” Pikir Laras dalam hati.
“Hmmm… tapi kalau anak kita udah lahir, aku boleh kerja?” Tanya Laras lagi.
“Kamu boleh kerja, sampe anak kita udah berhenti minum ASI kamu. Kan nanti kasian dia kalo mau minum ASI. Aku kan gak bisa ngeluarin ASI.” Jawab Sadam sambil mengelus rambut istrinya dan tertawa.
Laras menyetujui perjanjian Sadam yang membolehkannya bekerja setelah anak yang dikandungnya tak lagi membutuhkan ASInya. Laras pun meninggalkan Sadam dan membiarkan suaminya kembali beristirahat sambil mengusap-usap rambut suaminya. Setiap usapannya, membuat tidur Sadam semakin larut dalam kenyamanan dan semakin pulas.
“Yang… Bangun, Yang !” Kata Laras sambil menggoyang-goyangkan badan Sadam.
“Hnijbda!%#$jbjb” Sadam berbicara dengan tidak jelas.
“Yang… Bangun…!” Laras terus mengguncang-guncang tubuh Sadam.
“Hmmm… Ada apa, Sayang?” Tanya Sadam sambil mengantuk.
“Ini udah jam 7. Katanya kamu mau ajak aku dan si dedek jalan-jalan ke Kota!” Rengek Laras.
“Oh iya ya. Aku lupa. Hehe…”
Meski rasa kantuk menyelimuti Sadam, Namun ia tetap berdiri dan berusaha untuk menepati janjinya. Sadam lalu menuntun Laras untuk berjalan menuju WC umum. Ia menuntun istrinya yang sedang hamil besar hingga masuk ke bilik kamar mandi dan kembali berdiri menunggu di luar bersama Ohim.
“Mau pacaran ya, Bang?” ledek Ohim.
“Ya…Sekali-sekali nyenengin istri. Dia pengen jalan-jalan.” Jawab Sadam sambil senyum-senyum.
“Gua boleh ikut?”
“Ya jangan lah ! Kalau ada orang yang lagi bermesraan, biasanya orang ketiga itu siapa?”
“Setan.”
“Nah… Lu udah siap jadi setan belum?”
“Belum lah! Kalo gua jadi setan, ntar yang jagain WC umum ini siapa?”
“Ya tetep lu. Entar kan bagus kalo jadi judul film.”
“Film apaan?” Tanya Ohim sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Setan Penunggu WC Umum. Keren kan?” Kata Sadam sambil tertawa.
“Malah jadi takut orang-orang mau mandi disini. Apalagi cewek-cewek.” Kata Ohim sambil tertawa.
“Waaahhh… lu suka ngintipin cewek ya?”
“Hehehe… Dikit.”
“Woooaaaahhh… awas lu kalo ngintipin istri gua!” Sadam sedikit kesal.
“Gua kan ngintipin cewek, bang. Bukan ibu-ibu!”
“Emang istri gua udah ibu-ibu? Lu mau bilang kalo istri gua keliatan tua?” Sadam semakin merasa kesal.
“Ya kagak. Buat gua, cewek yang udah merit. Klasifikasinya termasuk ibu-ibu.”
“Widiiihhh… bahasa lu sok-sokan klasifikasi. Emang tau artinya apa?”
“Kagak, bang. Hehe…”
Laras tampak telah selesai mandi dan berjalan dengan perlahan sambil mengusap-usap perutnya. Sadam menuntunnya kembali sampai ke Rumah. Setelah Laras sampai di rumah, Sadam kembali karena kini gilirannya untuk mandi.
Setengah jam kemudian…
“Udah siap?” Tanya Sadam sambil menaiki sepedanya.
“Udah. Tinggal ngunci pintu.” Jawab Laras lalu mengunci rumah kontrakan mereka.
Laras lalu menaiki kursi belakang sepeda dengan duduk menyamping. Tangan kanannya memeluk erat pinggang Sadam. Sepeda pun langsung dikayuh oleh Sadam dengan sekuat tenaga. Mereka sempat melewati Ohim yang sedang berjaga di depan WC umum.
“Bang Ohim, jangan ngintipin cewek-cewek mandi melulu!” Ejek Laras sambil setengah berteriak.
Ohim hanya tertawa dengan ledekan Laras sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sepasang suami istri ini terus menyusuri gang yang bagai labirin ini hingga akhirnya sepeda yang mereka tumpaki berhasil keluar dari gang dan berada di Jalan Raya. Sadam terus mengayuh sepedanya dengan tenang dan menikmati keindahan kota. Sorot mata Laras terus menyisiri setiap sudut kota sambil tersenyum bahagia. Lampu-lampu di sepanjang jalan seolah memudarkan kegelapan malam. Begitu indah kerlap-kerlip cahaya lampu bagai bintang-bintang yang bersinar di langit. Meski hidup mereka sulit, namun Laras merasa sangat nyaman hidup bersama lelaki yang sangat ia cintai. Seorang lelaki yang juga mencintainya dan penuh bertanggung jawab. Sesekali ia menyenderkan kepalanya pada punggung Sadam tanpa mengurangi senyuman yang tersirat di wajahnya sambil sorot matanya memperhatikan setiap gerak-gerik manusia yang lalu lalang dengan kesibukan mereka masing-masing.
Nafas Sadam mulai ngos-ngosan. Wajar saja karena telah satu jam ia terus mengayuh sepeda mengelilingi kota.
“Mau istirahat dulu? Kamu keliatan capek.”
“Bentar lagi. Sambil kita cari makan malam.”
Tak jauh dari situ, tampak sebuah gerobak dengan penjualnya yang sedang mengipas-ngipas arang. Sadam segera menepi. Setelah menuntun Laras ke dalam tenda tukang sate, Sadam pun memesan sate.
Beberapa menit kemudian…
“Te… Sate… nya sudah jadi dek. Silahkan!” kata tukang sate dengan logat maduranya.
“Makasih, cak!” Kata Laras. Mereka berdua pun langsung menyantap makanan yang sudah terhidang di depan mereka.
“Habis makan, kita pulang ya!” Kata Sadam pada Laras.
“Iya… aku udah puas kok!” Jawab Laras.
Sadam pun tersenyum bahagia karena telah memuaskan perasaan istri tercintanya.
Usai memakan sate, mereka melanjutkan perjalanan pulang bersama sepeda kumbang butut milik mereka.
“Glrrrr…glegerrrr…” Awan sudah bergemuruh pertanda sebentar lagi akan turun hujan.
Sadam mempercepat kayuhan pada pedal sepedanya agar mereka tidak basah kuyup dan segera sampai di rumah. Beberapa pedagang melihat keatas langit dengan tatapan cemas. Percuma saja, langit di malam hari sangatlah gelap. Mereka tidak akan bisa membedakan langit yang sedang mendung atau sedang cerah. Tampak pula beberapa pemuda berlarian mengambil dan mengamankan helm mereka yang ditaruh diatas motor mereka yang terparkir di pinggir jalan, agar air tidak tergenang di dalamnya.
Sadam dan Laras telah sampai di rumah kontrakan mereka tanpa basah kuyup sedikit pun. Rupanya langit hanya sedang mengerjai mereka. Laras yakin bahwa sekarang langit sedang tertawa. Jika nanti malam hujan, itu berarti langit sedang tertawa terbahak-bahak sampai menangis melihat para Manusia yang begitu panik dengan air hujan yang jatuh.
Benar saja, satu jam kemudian hujan turun dengan derasnya. Terdengar suara rintik-rintik hujan yang menghujam atap rumah mereka yang terbuat dari seng. Sadam mengintip keluar jendela dan tampak bahwa beberapa air hujan turut menghantam dan membasahi jendela rumahnya.
“Kita beruntung. Langit masih berpihak pada kita. Ia menunggu kita pulang, baru ia meluncurkan serangan air hujannya.” Kata Sadam pada Laras sambil terus mengintip keluar jendela.
“Iya. Kita juga beruntung masih punya tempat berlindung meskipun sempit dan kotor. Sementara, diluar sana bahkan masih banyak yang harus rela menahan dinginnya malam yang menusuk hingga ke tulang, juga basah oleh air hujan karena mereka gak punya tempat untuk berlindung.” Kata Laras sambil duduk dan mengusap-usap perut buncitnya.
Sadam terdiam tak berkomentar. Namun entah kenapa tiba-tiba mulutnya bergerak dan bertanya sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
“Laras. Apa kamu bahagia hidup sama aku ? aku gak seperti cowok lain yang mungkin bisa beliin istrinya rumah, mobil, dan belanjain kamu barang-barang mewah.” Kata Sadam sambil terus menatap keluar rumah dari jendela.
Laras bangkit dan segera memeluk suaminya dari belakang.
“Cowok lain mungkin bisa beliin aku rumah mewah, sedangkan kamu cuma bisa ngasih rumah kontrakan dan sempit pula.” Kata Laras sambil mendekap Sadam dari belakang.
Sadam segera berbalik setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut istri tercintanya. Setelah berbalik dan mata mereka saling bertatapan, Laras meraih pipi Sadam dengan kedua tangan lembutnya.
“Cowok lain mungkin bisa beliin aku mobil, sedangkan kamu cuma punya sepeda butut. Cowok lain mungkin bisa beliin aku barang-barang super mahal, sedangkan kamu cuma bisa beliin aku sate di pinggir jalan. Cowok lain mungkin bisa ajak aku jalan-jalan ke Luar Negeri naik pesawat terbang, sementara kamu cuma bisa bawa aku jalan-jalan ke Kota dengan sepeda bututmu itu.” Lanjut Laras dengan menatap mata Sadam.
Sadam menundukkan kepalanya karena sungguh malu setelah mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Laras.
“Tapi… semua itu hanya mungkin. Setiap hal yang mungkin, berarti masih belum pasti. Sedangkan kamu, sudah pasti bisa bikin aku bahagia. Aku lebih menyukai sesuatu hal yang pasti dibandingkan hal-hal yang belum pasti.” Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Laras benar-benar membuat Sadam terkejut.
Ia benar-benar bahagia memiliki istri yang murah hati seperti Laras. Sadam segera memeluk dan mencium kening istrinya.
“Jujur… aku takut. Aku takut kamu gak bahagia hidup sama aku.” Kata Sadam menatap dalam pada Laras.
“Kamu gak usah khawatir! Aku bahagia kok. Apa yang membuat kamu berpikir bahwa aku gak bahagia hidup sama kamu? Apa hanya karena kemiskinan ini? Jika memang kekayaan adalah satu-satunya sumber kebahagiaan, dan kemiskinan adalah satu-satunya sumber kesengsaraan. Kau mungkin tidak akan pernah bisa melihatku tersenyum dalam kemiskinan ini. Nyatanya, aku selalu tersenyum disampingmu, bukan?” Kata Laras sambil mengangkat wajah Sadam.
Sadam tetap terdiam dan masih menekuk wajahnya.
“Kenapa kamu masih murung?” Tanya Laras.
“Ada 1 hal lagi yang aku takutkan.” Jawab Sadam sambil menundukkan kembali kepalanya.
“Apa itu?” Tanya Laras penasaran.
“Aku takut anak kita menyesal hidup seperti ini. Aku juga takut kalo aku akan seperti ayahku yang selalu mendidik dengan cara kasar.” Jawab Sadam.
“Aku yakin, kamu akan jadi ayah yang baik. Anak kita pasti bangga punya ayah kayak kamu. Kamu tak perlu khawatir! Aku akan menjadi bunda yang baik untuknya, sekaligus membantumu menjadi ayah yang baik untuknya.” Kata Laras sambil mengusap-usap punggung Sadam agar perasaan Sadam sedikit lebih tenang.
Perkataan yang tulus dari Laras, rupanya mampu membuat senyuman tampak di wajah Sadam. Melihat suaminya kembali tersenyum, sangat membuat perasaan Laras lega.
“Aku punya sesuatu supaya perasaan kamu kembali ceria !” Kata Laras.
“Apaan?” Tanya Sadam penasaran.
“Kamu duduk disini!” Pinta Laras.
Sadam mengikuti permintaan istrinya itu. Sedangkan Laras membuka lemari dan mengeluarkan biola kesayangannya. Ia lalu memainkan sebuah lagu supaya Sadam melupakan kegundahan hatinya. Mendegar istrinya bermain biola sambil berlenggak-lenggok di hadapannya, membuat kegundahan di hati Sadam seketika sirna. Ia sangat menikmati lantunan nada-nada yang tersusun indah menjadi sebuah melodi yang terdengar harmoni. Namun, Sadam segera berdiri dan menghentikan Laras bermain biola.
“Kenapa? Kamu gak suka lagunya?” Tanya Laras yang keheranan setelah Sadam menghentikan permainannya.
“Aku suka. Tapi kamu harus istirahat, sayang! kamu gak boleh kecapekan!” kata Sadam lalu mencium bibir istrinya dengan lembut.
Laras pun mengiyakan permintaan Sadam dan kembali menaruh biola kesayangannya. Ia kembali duduk dan bersandar di dinding. Sadam menyenderkan kepalanya ke perut Laras yang buncit. Laras pun mengelus-elus rambut Sadam sambil sesekali memainkannya. Di luar, hujan masih turun dengan deras.
“Kalo anak kita laki-laki, aku ingin kasih dia nama Langit. Supaya dia bisa menempuh cita-citanya setinggi langit. Kalau dia perempuan, aku mau kasih dia nama Mutiara. Karena meskipun kita hidup miskin, tapi Mutiara akan jadi harta kita yang paling berharga.” Kata Sadam sambil mengusap-usap perut Laras.
“Nama yang bagus. Kalo ternyata anak kita kembar?” Tanya Laras.
“Aku mau kasih dia nama Upin dan Ipin.” Kata Sadam sambil tersenyum.
“Kok kamu plagiat nama kartun sih!” Kata Laras sambil tertawa.
“Soalnya aku gak berharap anak kita kembar. Jadi kita pikirin nanti aja!” Kata Sadam sambil tertawa.
Keesokan harinya…
“Brrrr…!” Sadam menggigil kedinginan.
Handuk terlilit di pundaknya sambil kedua tangannya berusaha sekeras mungkin memeluk tubuhnya sendiri. Ia berjalan keluar dari WC umum dan tubuhnya sudah terlihat lebih segar. Disana tampak Ohim sedang tertidur sambil duduk dan kepalanya ia sandarkan kepada kedua tangannya yang bertumpu diatas meja.
“Ini orang tiap hari disini mulu. Kerja 24 jam sehari dalam seminggu. Gila! Gak punya keluarga apa?” gumam Sadam lalu melanjutkan langkahnya kembali ke Rumah karena Sadam tidak mengetahui bahwa Ohim memang hidup sebatang kara.
Ia berjalan sambil mengusap-usap kepalanya yang masih basah dengan handuk yang melilit di pundaknya.
“Kreeekk…” Sadam memasuki Rumahnya.
Laras berjalan sambil membawa secangkir kopi panas untuk Sadam minum sebelum berangkat kerja.
“Makasih, sayang!”
“Iya… sama-sama.”
“Eh sayang! boleh bikinin satu lagi gak?”
“Buat siapa ?”
“Buat Ohim. Kasian dia tiap hari duduk disitu. Kayaknya dia belum pernah nyicipin kopi seumur hidupnya.” Kata Sadam sambil tertawa.
Laras pun tertawa lalu kembali masuk untuk membuatkan secangkir kopi lagi untuk Ohim. Sambil menunggu Laras, Sadam berjalan menuju lemari dan mengambil gitar kesayangannya. Ia menatapi gitar itu agak lama. Memorinya mengajak dia kembali ke masa dimana ia sering bermain dengan gitar itu bersama kedua sahabatnya yaitu Ucup dan Dimas. Ia tak menyangka jika dirinya dan Dimas harus meninggalkan Ucup seorang diri. Ia juga tak pernah menyangka bahwa mungkin ia tak akan pernah bertemu lagi dengan kedua sahabatnya itu.
“Sayang… Ini kopinya!” Ucapan Laras menyadarkan Sadam dari lamunannya.
“Kamu kangen main gitar ya?” Tanya Laras saat menangkap Sadam yang memandangi gitar kesayangannya.
“Nggak. Aku mau kasih gitar ini.” Jawab Dimas sambil tersenyum.
“Mau kasih ke siapa?”
“Ohim.”
Laras hanya menganggukan kepalanya dan tak berkomentar sedikitpun.
Beberapa saat kemudian…
“Slluurrrpppp….Ahhhhh…!!!” Tetes kopi terakhir telah masuk kedalam mulut Sadam.
Sadam melihat kearah jam dan ternyata waktu telah menunjukkan pukul 4 pagi. Ia segera berpamitan lalu mencium kening dan bibir istrinya dengan lembut. Ia juga meninggalkan sejumlah uang untuk istrinya membeli sarapan. Setelah Laras membalas mencium keningnya, Sadam lalu bergegas pergi dengan sepeda kumbang miliknya yang ia tuntun dengan tangan kanannya. Sementara di tangan kirinya terdapat secangkir kopi lengkap dengan penutupnya dan sebuah gitar yang menempel di punggungnya.
Ketika melewati WC umum, ia mencoba membangunkan Ohim yang sedang tertidur. Ohim sangat terkejut ketika terbangun dan Sadam berada tepat didepan wajahnya. Ohim semakin terkejut ketika Sadam memberikannya secangkir kopi dan sebuah gitar. Ia sempat menolak karena ia tak bisa memainkan gitar.
“Belajar lah! lumayan loh ini daripada lu bengong duduk terus disini.” Bujuk Sadam agar Ohim menerima hadiah yang ia berikan.
“Oke deh. Makasih banyak, Bang!” Kata Ohim.
“Iyaaa…! Ya udah gua berangkat dulu. Jangan lupa entar cangkirnya balikin ke rumah gua ya!” Kata Sadam.
“Assshhiiiaappp… BOSKUH!” Kata Ohim dengan nada riang. Sadam pun melanjutkan perjalanannya menuju pasar.
“Nak Sadam tidak perlu membongkar muatan hari ini !” Kata pemilik Toko.
“Kenapa pak? bukannya itu ada mobil box yang harus dibongkar muatannya?” Tanya Sadam sambil menunjuk sebuah mobil box yang baru saja parkir dan orang-orang yang sudah berbaris menunggu untuk membongkar muatan didalamnya.
“Mulai hari ini, saya butuh nak Sadam untuk menjadi penjaga Toko ini soalnya kalo malem suka banyak anak-anak muda yang nongkrong sambil mabuk. Paginya, suka banyak sampah dan bau pesing dimana-mana.”
“Jadi… nanti saya balik lagi malam hari ?”
“Tergantung… apa nak Sadam bersedia dengan gaji yang kami tawarkan.”
“Memang gaji nya berapa?”
“3 juta per bulan. Apa cukup ?”
Mendengar kabar ini, jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Seolah angin segar berhembus dari surge langsung menerpa wajahnya. Akhirnya sedikit demi sedikit penghasilannya bertambah baik.
“Sangat cukup, pak! tapi, kenapa bapak percaya sama saya?”
“Kemarin bapak lihat kamu bertarung dengan para preman. Dan bapak yakin, kamu pasti cocok dengan pekerjaan ini.”
“Sangat cocok pak… sangat cocok! Terima kasih banyak pak… terima kasih banyak…!” Kata Sadam dengan bersemangat sambil menjabat tangan pemilik toko.
Pemilik Toko hanya tersenyum dan seolah ia juga merasakan kegembiraan yang dialami oleh Sadam.
“Nanti malam saya pasti akan kembali lagi… Sekali lagi terima kasih pak!” Kata Sadam sambil berlari menuju tempat sepedanya terparkir. Namun, ia lupa akan sesuatu dan kembali menuju pemilik toko berdiri.
“Saya lupa pak. Jam berapa saya harus datang nanti?” Tanya Sadam.
“Kamu terlalu bersemangat sekali sih… ! Jam 10 malam ya!” Jawab pemilik toko.
“Baik pak! Saya akan datang dengan pakaian serapi mungkin pak! sekali lagi terima kasih!” Kata Sadam sambil menjabat tangan pemilik toko untuk kedua kalinya.
Sambil mengayuh sepeda, senyuman kegembiraan tersirat di wajahnya. Ia tak sabar untuk memberikan kabar gembira ini pada istri tercintanya. Kayuhan pada pedal sepeda semakin cepat.
“Itu berarti… Menghajar para preman adalah langkah yang benar.” Pikir Sadam dalam benaknya.
Sesampainya di rumah, Sadam berteriak memanggil istrinya dari luar rumah. Laras berjalan dengan cepat ke sumber suara dengan sangat penasaran karena Sadam jarang sekali memanggilnya dengan teriakan penuh semangat seperti ini. Sadam memberitahu kabar gembira kepada istrinya itu dan istrinya langsung memeluk Sadam dengan bahagia.
Satu minggu kemudian…
Sadam berpamitan kepada Laras untuk berangkat kerja. Setiap malam, Laras harus menikmati kesendirian tanpa adanya Sadam disisinya. Namun, ia merelakan itu semua demi masa depan mereka yang lebih baik. Sadam mencium kening, bibir, dan juga perut Laras.
Batang hidung Sadam semakin menjauh dan menghilang bersama setiap kayuhannya. Sadam melewati Ohim yang sedang asyik bernyanyi sambil bermain gitar meskipun ia belum cukup mahir. Sadam sangat senang bahwa akhirnya Ohim menggunakan gitar kesayangannya dengan sebaik-baiknya.
Jam menunjukkan pukul 12 tengah malam. Laras mulai merasakan sakit yang amat sangat menyiksanya. Ia berteriak merintih kesakitan sambil mengelus-elus perutnya. Ohim yang pada saat itu masih terjaga sambil asyik berlatih bermain gitar didepan WC umum, mendengar jeritan Laras dan langsung beranjak dari tempat duduknya yang selama ini tak pernah ia tinggalkan. Karena jarak WC umum dengan rumah Sadam sangatlah dekat, maka kini Ohim bisa melihat Laras yang sedang mencoba berjalan di tengah gang sambil salah satu tangannya bertumpu pada dinding gang.
“Mbak Laras? Mbak Laras kenapa?” Tanya Ohim dengan panik.
“Udah mau keluar… Him!!! Mules!!! Sakitttt!!!” Jawab Laras setengah berteriak sambil memegang perutnya.
“Mules? Oh sakit perut? Saya antar ke WC deh mumpung kosong.” Kata Ohim sambil memapah.
“Bukan…! Bayi di perut gua udah mau keluar!” Kata Laras setengah membentak Ohim karena kesal.
“Mau saya antar ke Rumah Sakit atau Saya panggilkan Bang Sadam?” Tanya Ohim dengan panik.
“Antar ke rumah sakit aja! Saya udah gak tahan!” Jawab Laras.
Ohim menjadi semakin panik karena jarak dari tempat mereka menuju jalan raya cukup jauh. Ia tidak akan bisa jika hanya dengan berjalan sambil menggandeng Laras. Untungnya, ia teringat bahwa salah satu warga yang menggunakan WC umumnya, sering datang sambil menggunakan kursi roda karena lumpuh.
“Mbak Laras tunggu sini sebentar!” Kata Ohim.
“CEPETAN JANGAN LAMA-LAMA!!!” bentak Laras.
Ohim langsung berlari secepat kilat menuju rumah salah satu warga yang dimaksud. Ohim menggedor rumah warga tersebut dengan sekuat tenaga agar pemiliknya bangun. Setelah dibukakan pintu, ia pun memohon agar ia bisa dipinjamkan kursi roda.
“Duuuhhhh…!!! Ohim lama amat sih!!!” Laras mengeluh.
Tak lama, ia dapat melihat Ohim yang berlari sambil mendorong kursi roda sedang menuju kearahnya. Setelah ia menaikan Laras keatas kursi roda, ia pun segera mendorong dengan sekuat tenaga dan secepat kilat.
Setelah menempuh perjalanan jauh menyusuri gang, Akhirnya mereka telah sampai di Jalan Raya. Kini mereka berdua tinggal menunggu angkot yang hendak mengantarkan mereka ke rumah sakit. Beberapa supir angkot menolak untuk mengangkut mereka, tapi rupanya ada seorang supir angkot baik hati yang ingin membantu mereka.
Di dalam angkot menuju Rumah Sakit…
“AAAHHHH!!!! SAKKIIITTTT!!!” Laras terus berteriak sambil menjambak-jambak rambut Ohim yang berada disampingnya.
“Jadi suami emang gitu.... Nih saya botak karena sering dijambak oleh istri saya kalau dia mau melahirkan.” Kata supir angkot sambil menunjukkan kepala botaknya.
“Emang anak bapak berapa?” Tanya Ohim penasaran.
“Delapan.” Jawab sopir angkot dengan singkat.
“Pantesan botak.” Kata Ohim dalam hati.
Setelah beberapa menit, mereka pun sampai di rumah sakit. Para staf di rumah sakit langsung membopong Laras menuju ruang persalinan. Ohim dan Bapak supir angkot terus berada di samping Laras untuk menenangkannya. Namun, keduanya hanya bisa menemani Laras sampai depan ruang bersalin.
“Ohim… tolong panggil Sadam. Suruh dia kesini !” Kata Laras dengan lemah sebelum akhirnya dia dibawa masuk ke ruang bersalin.
“Hanya suaminya yang boleh masuk.” Kata suster sambil menutup pintu.
Ohim pun lalu berlari untuk segera memanggil Sadam.
“HHHEEEEYYYY… mau kemana ? Kata suster... cuma suaminya yang boleh masuk.” Tanya bapak supir angkot sambil berlari mengejar Ohim.
“Saya mau manggil Sadam, pak! itu permintaan Laras.” Jawab Ohim.
“Sadam itu siapa?” Tanya supir angkot kebingungan.
“Dia yang udah ngehamilin Laras.” Jawab Ohim.
“Jadi istri kamu selingkuh sama yang namanya Sadam?” Tanya supir angkot sambil terkejut.
“Pak… Sadam itu suaminya. Wanita itu bukan istri saya.” Jawab Ohim sedikit kesal.
“Ohhhh… Pantesan. Saya pikir kamu pake pelet bagus. Soalnya bisa dapetin wanita cantik seperti itu dengan tampang kamu yang seperti ini.” Kata supir angkot sambil tertawa.
Ohim menghela nafas.
“Pak, Pelet itu gak ada. Itu cuma penipu.” Jawab Ohim yang semakin kesal.
“Weiittssss… pelet itu ada.” Kata supir angkot ngotot.
“Gak ada.” Kata Ohim.
“Ada.” Kata supir angkot.
“GAK ADA!”
“SAYA BILANG ADA, YA ADA!”
“Loh.. biasa aja dong pak! Gausah pake otot! Pelet itu gak ada.”
“Kamu masih muda tau apa? Pelet itu ada!”
“Wah…wah… bapak sudah menyerang personal saya dengan bawa-bawa usia. Itu namanya Argumentum Ad Hominem yang dilarang dalam perdebatan. Pelet itu gak ada.
“Pelet itu ada.”
“Bapak ini hanya supir angkot, tau apa sih? Pelet itu gak ada.
“Wah…wah… kenapa jadi lu yang nyerang personal gua? Itu namanya Momentum… Es… Eminem. Pokoknya itu lah! Dan Pokoknya pelet itu ada.”
“Ini kenapa kita jadi bahas masalah pelet? saya berterima kasih karena bapak sudah menolong kami. Sekarang saya harus pergi menjemput suaminya.” Kata Ohim.
“Tapi… pelet itu beneran ada kan?” Kata supir angkot yang terus membahas soal ilmu pelet.
“Iya Ada.” Kata Ohim sambil berlari meninggalkan supir angkot yang tersenyum karena memenangkan perdebatan.
“Heyyyy… kamu ngapain lari ? Biar saya yang antar naik angkot!” Kata supir angkot setengah berteriak sambil berlari mengejar Ohim.
Di Pasar…
Sadam sedang duduk sambil kedua tangannya mendekap tubuhnya sendiri persis di depan toko yang telah tutup. Ia sudah memakai jaket, namun kedinginan malam mampu menembus sampai ke tulang. Entah kenapa malam ini, Sadam merasakan perasaan yang tidak enak.
“Sesuatu yang buruk sepertinya akan terjadi.” Pikirnya dalam hati.
Gumpalan asap keluar dari mulutnya ketika ia menghembuskan nafas. Ia mencoba beranjak dari tempat duduknya dan mencoba mondar-mandir kesana-kemari untuk membunuh kejenuhan. Sadam mendengar sebuah langkah kaki dari arah barat mendekat kearahnya.
“Sendirian aja mas?” Tanya seorang diantara ketiga pemuda yang datang menghampiri Sadam. Ketiga tubuh pemuda itu di penuhi oleh tato dengan bermacam-macam gambar.
“iya.”
“Ngerokok lah! kayak lagi di pom bensin aja… gak ngerokok.” Kata seorang lagi sambil menawarkan rokok kepada Sadam.
“Saya gak ngerokok.” Kata Sadam menolak rokok yang diberikan pemuda itu.
“Gak ngerokok??? HAHAHA!!!” kata mereka bertiga sambil tertawa.
“Mas… Malem-malem tuh dingin. Nah, rokok bisa bikin anget!” kata seorang pemuda yang terus menawarkan rokok kepada Sadam.
Dengan berat hati namun juga penasaran, Sadam akhirnya mengambil sebatang rokok yang diberikan salah seorang pemuda itu.
“Uhukkk…Uhukk…!!!” Sadam terbatuk-batuk.
Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak karena Sadam benar-benar tidak mengerti cara merokok. Lalu mereka bertiga terus mengajari Sadam sampai akhirnya Sadam mulai tidak terbatuk-batuk.
“Gimana? Anget kan?” Tanya pemuda yang memberikan rokok.
“Anget mas.” Kata Sadam sambil tersenyum dan menghisap kembali rokoknya.
Lalu, dua orang lagi datang dari arah Timur. Mereka berdua adalah teman dari ketiga pemuda yang sebelumnya memberikan rokok kepada Sadam.
“Lu pada lagi ngobrol sama siapa sih?” Tanya kedua pemuda yang baru saja datang kepada ketiga temannya yang sudah semakin akrab dengan Sadam.
Sadam menoleh ke sumber suara dan tercengang. Begitupun kedua pemuda yang melihat wajah Sadam dengan jelas.
“DIA YANG MUKULIN KITA DAN NGEBUNUH BOS JAKA!!!” Teriak kedua pemuda yang baru datang itu yang ternyata adalah Iwan dan Dani.
Mereka berdua rupanya adalah anak buah dari preman yang tempo hari bermasalah dengan Sadam.
Tiba-tiba dari arah belakang, kepala Sadam di hantam oleh sebuah bogem mentah dari salah satu dari tiga pemuda. Tubuhnya limbung dan terjatuh keatas tanah. Kini kelimanya segera menginjak-injak tubuh Sadam yang sudah tak berdaya. Darah mulai mengalir dan menyembur dari mulut Sadam. Ia benar-benar sudah tak berdaya. Iwan dan Dani benar-benar membalaskan dendamnya pada Sadam yang sudah menyebabkan Bos Jaka terbunuh.
Bukan hantaman oleh balok kayu Sadam yang membunuh Bos Jaka, Namun karena Bos Jaka berhasil di kalahkan, maka itu berarti merupakan sebuah penghinaan besar untuk Keluarga Pangestu. Keluarga Pangestu adalah keluarga Mafia besar yang berkuasa di Jakarta. Jaka, adalah salah satu anak buah mereka yang ditugaskan untuk menjadi preman Pasar bersama Iwan dan Dani. Karena kekalahan Jaka, maka itu dianggap sebagai sumber penghinaan besar terhadap keluarga Pangestu. Mereka pun melenyapkan Jaka dari muka bumi.
Beberapa menit kemudian, Ohim dan supir angkot akhirnya sampai di pasar. Setibanya disana, mereka mendapati pemandangan yang tidak mengenakan. Kelima anak buah preman itu terus menghajar Sadam sampai babak belur. Ohim dan supir angkot itu hanya mengintip tanpa bisa berbuat apa-apa. Tapi Ohim takut jika Sadam tewas, sementara istrinya sedang berjuang melahirkan di Rumah Sakit.
“TOLONGGG!!! TOLONGG!!! PAK POLISI ITU ADA ORANG YANG DIPUKULIN !!!” Teriak Ohim sambil menunjuk ke kerumunan dan seolah disitu ada seorang Polisi. Kelima anak buah preman itu langsung berlari terbirit-b***t meninggalkan tubuh Sadam yang sudah tak berdaya. Ohim langsung berlari dan menghampiri Sadam. Ia menaruh telunjuk kirinya tepat didepan hidung Sadam. Ada hembusan nafas yang menerpa telunjuk Ohim.
“Wah… Ternyata masih hidup!” Kata Ohim.
“Telun…juk lu… bau pesing…” Kata Sadam kesulitan berbicara.
Ohim langsung menarik kembali telunjuknya dan mengusap-usap dengan kaos yang ia kenakan. Ia lalu membantu Sadam untuk berdiri dan membawanya ke dalam angkot. Disana supir angkot sudah standby dan langsung tancap gas menuju Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit…
Meskipun pincang, Sadam terus berlari menuju ruang bersalin. Ia segera masuk menerobos kedalam ruangan sementara Ohim dan supir angkot menunggu di luar ruangan.
“Sayang… aku disini sayang…!!!” kata Sadam sambil memegang kepala Laras yang sedang berjuang mengeluarkan bayi dalam kandungannya.
“Muka kamu kenapa bonyok?” Tanya Laras dengan wajah pucat menahan rasa sakit setelah mendorong bayi dalam perutnya untuk keluar.
Sadam tidak menjawab pertanyaan Laras, ia hanya menggenggam kedua tangan Laras dan berdoa supaya istri dan anaknya selamat.
“Bu Laras, kita lanjutkan lagi, ya! Sekarang tarik nafas yang dalam, lalu dorong sekuat tenaga.” Perintah Dokter
“HEEEEEGGGGGHHHH….” Laras mendorong dengan kekuatan penuh.
Sadam terus mengusap-usap kepala Laras sambil menggenggam tangan Laras. Meskipun Sadam hanya menggenggam tangannya, namun Laras bisa merasakan bahwa saat itu Sadam seolah ikut berjuang bersamanya.
“Eeeeaaaaa…eeeaaaaa…” terdengar suara tangisan bayi yang masih merah.
Tubuh Laras lemas tak berdaya. Sementara Sadam terkejut melihat seorang bayi mungil sedang di gendong oleh sang suster.
“Selamat bayi anda perempuan!” kata sang Suster.
Ia memberikan bayi itu kepada pelukan sang bunda. Wajah yang mungil dan mata yang masih terpejam. Dalam tubuh yang lemas dan wajah yang pucat, Laras tersenyum bahagia. Disampingnya, Sadam mencium kening Laras dengan air mata kebahagiaan yang mulai berlinang.
Pintu ruang bersalin terbuka. Sadam keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang telah ia cuci. Menyisakan luka babak belur atas tragedi yang baru saja menimpanya. Ohim dan supir angkot sangat penasaran dengan apa yang terjadi didalam. Tubuh Sadam tak sanggup lagi untuk berdiri hingga membuatnya berlutut sambil menangis bahagia.
“HARI INI AKU AKAN MENJADI AYAH !!!” Teriak Sadam di sela isak tangisnya.
Mendengar kabar itu, Ohim dan supir angkot ikut merasakan kebahagiaan.
“Suatu saat, anakku akan menjadi perempuan yang cantik. Suatu saat aku akan berada disampingnya ketika ia hendak menikah bersama lelaki yang ia pilih. Nama dia adalah Mutiara. Harapanku ia akan menjadi harta kami yang paling berharga seperti batu Mutiara.” Lanjut Sadam sambil air matanya terus mengalir dengan deras.
Ohim dan sang supir angkot tersenyum dan juga meneteskan air mata.
“Aku yakin anak itu akan menjadi sebuah mutiara untuk mereka.” Kata supir angkot dalam hati sambil menunjukkan sebuah senyuman dan menepuk pundak Sadam, lalu pergi meninggalkan mereka yang sedang dihujani kebahagiaan.
Tak ada satupun yang menyadari bahwa sang supir angkot yang menolong mereka, sudah tidak lagi berada disitu. Namun, sampai kapanpun Sadam dan Laras tidak akan pernah melupakan seorang supir angkot yang bahkan tidak mereka kenal namanya, telah membantu dan membuat mereka berhutang padanya.