Citra tertawa-tawa membaca pesan yang dikirimkan kekasihnya. Beberapa detik kemudian, gadis itu mencebik saat sang kekasih memberitahu jika kepulangannya mungkin akan terlambat dari waktu yang sudah dijanjikan. Baru saja akan mengirimkan pesan balasan, Citra merasa heran karena mobil yang ditumpangi tak lagi melaju cepat seperti sebelumnya.
"Loh, kenapa Kei? Bannya kempes? Apa mesinnya ada yang bermasalah?" Mengangkat wajah dari layar ponsel yang sedari tadi menyita perhatiannya, Citra menoleh ke arah Kei yang tiba-tiba memelankan laju mobilnya dan berhenti di pinggir jalan yang siang itu, tampak sepi. Bahkan kendaraan tak terlalu sering berlalu lalang.
Setelah bermalam di rumah Kei, bahkan saat ini mengenakan pakaian sahabatnya itu, Citra yang bosan kemudian mengajak keluar. Hal yang pada awalnya tak digubris Kei yang dari semalam berwajah masam. Jika tak salah tebak, ia yakin hal ini berhubungan dengan pria yang membuat mood sahabatnya seperti roller coaster.
Citra yang bosan, nyaris memilih untuk berenang. Setidaknya, ia berharap jika hal itu bisa menyegarkan pikiran. Baru saja ingin meminjam pakaian renang, ia tiba-tiba dikejutkan dengan Kei yang mengajaknya penuh semangat untuk pergi keluar. Citra jelas saja kebingungan dengan sikap Kei yang berubah begitu cepat. Sialnya, saat melempar tanya, Kei tak mau menjawab, tempat yang akan mereka datangi. Tak ingin ambil pusing, Citra akhirnya hanya bisa menurut. Yang penting mereka bisa pergi jalan-jalan, agar tak terkungkung bosan.
Citra masih bertanya-tanya, sekaligus kebingungan. Kenapa perjalanan mereka terhenti? Apa mungkin, ada masalah dengan kendaraan sahabatnya itu?
"Mobil lo mogok?"
Alih-alih menjawab, Kei justru merekahkan senyuman yang membuat bulu kuduk Citra meremang. Lalu dengan santai menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan yang sebelumnya ia ajukan.
"Lah, kalau nggak mogok, terus lo ngapain berhenti dipinggir jalan kaya gini Kei?" Tanya Citra dengan bibir mencebik sebal, "lanjut aja, udah mulai panas ini. Atau jangan-jangan, lo mau pipis ya? Makanya berhenti di pinggir jalan?" Tebaknya saat melihat di sisi jalan terdapat beberapa pepohonan yang yang cukup besar dan tinggi, "serem gini, mending cari pom bensin atau minimarket aja buat numpang pipis."
"Ck, ya nggak, lah! Masa iya gue pipis di balik pohon?"
Mengedikkan bahu tak acuh, Citra meletakan ponsel ke dalam tas yang berada di atas pangkuan. Tak lagi berminat untuk membalas pesan. Biar saja kekasihnya berpikir ia tengah merajuk. Menyandarkan punggung di sandaran jok, mencari posisi yang lebih nyaman, Citra kembali buka suara, "terus kita ngapain di sini? Jalan aja Kei, ngeri gue, kalau tiba-tiba digrebek gara-gara dikira lagi mesum." Celoteh Citra yang hanya mendapat berupa dengkusan dari Kei. Yang alih-alih menuruti untuk melajukan kembali kendaraannya, sahabatnya itu justru membuka pintu dan keluar dari mobil. Membuat Citra menegakkan tubuh seketika, "loh, Kei, mau ke mana lo?" Tanyanya yang tak di tanggapi, "bener kan, lo mau pipis di balik pohon?" Tuduhnya yang kemudian meringis, saat Kei melongokkan kepala di jendela mobil bagian penumpang yang kini ia tempati.
"Gue mau ketemu sama Adhi." Ucap Kei singkat yang membuat Citra mengerutkan kening bingung.
Adhi?
Siapa orang itu?
Terus apa hubungannya dengan mereka yang saat ini berhenti di pinggir jalan?
Astaga, jangan bilang, Kei janjian ketemu si Adhi-Adhi itu di pinggir jalan kaya sekarang?
Duh, nggak ada tempat lain apa?
Ini kehabisan ide cari tempat buat ketemu apa gimana sih?
Kenapa nggak ketemuan di tempat lain? Semisal, tempat makan, taman, mall, atau di mana gitu? Harus banget milih pinggir jalan?
Citra yang mulai resah akhirnya memutuskan untuk ikut keluar dari dalam mobil. Mencari keberadaan Kei yang ternyata berada di belakang dan tengah sibuk di bagasi mobil yang telah terbuka.
"Lo ngapain Kei?" Tanya Citra yang benar-benar pusing dengan apa yang sebenarnya sahabatnya itu rencanakan? Dan itu membuatnya kesal, karena dijejali rasa penasaran, "astaga Kei, lo ngapain bawa-bawa helm sama palu?" Tanyanya ngeri saat Kei meraih sebuah palu dan helm, lalu berjalan dengan tenang dan berhenti dibagian tempat duduk belakang, sementara Citra hanya bisa mengekori sembari meneguk ludah kelu, "lo mau jadi begal apa gimana sih? Tiba-tiba berhenti di pinggir jalan, terus sekarang bawa-bawa palu gini? Sama itu helm, buat apaan coba? Kan lo bawa mobil, bukan motor. Lo mau nyetir mobil sambil pakai helm?" Cecarnya yang tetap tak mendapat balasan apa pun dari Kei, hingga akhirnya membuat Citra menggeram kesal dan menahan lengan sahabatnya, "tolong ya, ini ada manusia yang dari tadi nanya! Bukan rumput yang bergoyang dan bisa lo abaikan!"
Mengela napas, Kei akhirnya membalik tubuh agar bisa berhadap-hadapan dengan Citra yang menatapnya garang, "bengkelnya Adhi dekat sini," jawabnya yang sama sekali tak bisa meluruskan semua kekusutan yang kini berjejal di kepala Citra.
"Lo kalau ngomong berurutan dong, dari awal dulu, jangan tiba-tiba di bagian ujung. Mana gue ngerti?" Keluh Citra gemas hingga menyugar rambutnya dengan gerakan frustasi, "baiklah, ayo kita mulai dengan, siapa itu Adhi?"
"Penolong gue," jawab Kei singkat tapi berhasil memberikan pencerahan pada kepala Citra, karena sedari tadi ia seperti tengah meraba-raba dalam kegelapan. Kebingungan seorang diri atas sikap tak biasa yang Kei perlihatkan.
"Oke, terus?"
"Tempat dia kerja di dekat sini," jawab Kei lagi yang diangguki oleh Citra.
"Tahan ya, gue susun dulu semua jawaban lo dikepala," ucap Citra sembari memijit pelipis dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tengah berkacak pinggang. Mengela napas, ia tatap wajah tenang yang Kei perlihatkan, "jadi Adhi adalah cowok yang lo suka? Terus tempat kerjanya berada di dekat sini?" Tanyanya untuk memastikan sekali lagi akan apa yang tadi Kei ucapkan. Dan gadis itu hanya menjawab dengan anggukan kepala, "terus, hubungannya sama palu dan helm ditangan lo itu buat apa?" Mengedikkan dagu, Citra menatap ke arah palu serta helm yang kini ditangan Kei.
Mengangkat palu dan helm, Kei menunjukkannya ke arah Citra yang berekspresi bingung bercampur ngeri, yang membuatnya mengulum senyum, "untuk melakukan sesuatu supaya gue punya alasan ketemu sama Adhi," jawabnya dan kembali berbalik, melanjutkan rencana yang tiba-tiba muncul di pikirannya. Sementara Citra, merasa keberatan melepas Kei karena masih belum puas dengan jawaban yang didapatkan.
"Melakukan apa sih Kei?!" Tanya Citra yang kini sudah berada di samping sahabatnya itu yang hanya diam memperhatikan jendela mobil bagian belakang, "ck! Kei, stop bikin gue migren. Lo sebenarnya mau melakukan apa?"
"Tolong pegang sebentar," ucap Kei yang alih-alih menjawab pertanyaan, justru meminta Citra untuk memegangi palu karena tengah sibuk mengenakan helm yang sebelumnya hanya ditenteng.
Setelah helm terpasang, Kei membuka kaca helmnya dan meminta palu dari tangan Citra. Sahabatnya itu hanya menyerahkan dengan wajah yang kian bingung.
"Lo beneran mau nyetir mobil pakai helm?" Tanya Citra dengan wajah tak percaya, "astaga Kei, lo mau viral apa gimana sih? Bingung banget gue!" Keluhnya yang hanya ditanggapi kekehan sahabatnya.
"Nggak usah pusing, sebentar lagi juga lo pasti tau," ucap Kei tenang tapi terdengar begitu misterius, "jaga jarak Cit, mundur sana. Pokoknya jangan deket-deket gue dulu."
"Lah, memangnya kenapa?" Tanya Citra kian kebingungan, "serius ya Kei, ini lo kesambet apa gimana sih?"
"Udah nurut aja sama gue. Nanti juga lo bakal tau," balas Kei yang tetap tak mau mengatakan lebih jelas apa yang sedang direncanakannya, "buruan menjauh dulu sana, gue harus cepat lakukan ini sebelum jalanan tiba-tiba rame. Ck, harusnya gue eksekusi aja pas di rumah tadi. Agak ngeri juga kalau di lihat orang terus dikira beneran begal." Keluh Kei dengan suara yang sedikit teredam.
Mengangkat kedua tangan di udara bak memberi pernyataan dirinya menyerah dengan semua usaha yang sudah susah payah Citra lakukan untuk mencari tau, Gadis itu akhirnya berjalan beberapa langkah ke belakang untuk menjauh dari Kei, sesuai titah dari sahabatnya.
Setelah memastikan Citra sudah berada dijarak aman, Kei menutup kaca helmnya. Menenangkan diri dan berusaha agar tak gentar dengan semua rencana yang telah disusun dengan tiba-tiba. Menyingkirkan ragu, Kei berusaha meneguhkan tekat.
Tak berselang lama, tiba-tiba saja Kei menghantamkan palu yang sedari tadi gadis itu pegang, pada kaca jendela mobil dibagian penumpang di jok belakang. Memukul-mukulkannya beberapa kali hingga benar-benar pecah.
Citra yang berdiri sedikit jauh dari posisi Kei hanya bisa membelalakkan mata dengan kedua tangan yang membekap mulutnya agar tak menjerit histeris, menyaksikan kegilaan yang sahabatnya tengah lakukan.
Astaga ... Apa ini mimpi?
Tapi rasa panas dari teriknya matahari benar-benar terasa dikulit. Keringat bahkan sudah meluruh dari pelipis juga leher Citra.
Jika benar mimpi, apa bisa senyata ini?
Setelah benar-benar pecah, Kei membuka helm yang membuatnya pengap dan kepanasan, "ayo masuk Cit," ajaknya pada sang sahabat yang masih terbengong di tempatnya berdiri dengan wajah pucat.
Mengerti jika Citra masih dalam keadaan terkejut atas apa yang tadi dilakukannya. Kei kemudian berjalan ke arah belakang, membuka bagasi untuk meletakan palu serta helm, sebelum kemudian menutup kembali bagasi mobilnya.
Berjalan menghampiri Citra yang masih tak bersuara. Membuat Kei sedikit mersa bersalah. Terlebih, saat menyentuh tangan kanan sahabatnya itu, terasa begitu dingin dan gemetaran saat berda dalam genggamannya.
Menuntun Citra yang hanya menurut. Kei membukakan pintu mobil bagian penumpang dan membantu Citra duduk di sana. Memasangkan sabuk pengaman, sebelum kemudian menutup pintu. Berlari kecil agar segera ikut masuk ke dalam mobilnya. Mendudukkan diri di belakang kemudi, lalu memasang sabuk pengaman sembari sesekali mencuri pandang ke arah Citra yang masih duduk tegak dengan tatapan kosong.
"Ck! Cit, ngomong sesuatu dong? Jangan diam gini? Lo bikin gue takut." Keluh Kei yang belum menghidupkan mesin mobilnya, "Cit, oy! Sadar!" Mencoba mengembalikan kesadaran sahabatnya, Kei mengguncang-guncang bahu Citra hingga membuat sahabatnya itu mengerjap-ngerjapkan mata.
Menolehkan wajah pada Kei yang hanya menyengir, Citra tiba-tiba menjambak rambut sosok di sampingnya itu untuk meluapkan kekesalan.
"Aduh! Oy, Cit, sakit rambut gue? Lo kenapa sih? Kesurupan?"
"Lo yang kesurupan! Apa udah gila gara-gara cinta?!" Omel Citra setelah melepaskan rambut Kei, tak peduli dengan wajah cemberut sahabatnya itu. Astaga ... Jantungnya tadi berdegup tak keruan, bahkan bisa saja copot, melihat Kei memukuli kaca mobilnya sendiri hingga pecah, "lo apa-apaan sih, segala buat ulah hancurin kaca mobil sendiri? Gue tau lo bisa ganti sama yang baru, tapi nggak harus lo rusakin kalau udah nggak suka sama mobil ini!"
"Kan gue tadi udah bilang, gue mau ketemu Adhi," keluh Kei dengan tangan yang sibuk mengusap-usap rambutnya yang masih terasa sakit. Kulit kepalanya bahkan berdenyut-denyut meski mulai samar.
"Ya kalau mau ketemu, ya ketemu aja! Ngapain juga lo sampai rusakin mob—astaga, Kei!" Seru Citra tiba-tiba, "jangan bilang, kalau ini semua sengaja lo lakukan supaya ...." Mengerjap-ngerjapkan mata, Citra tak percaya dengan apa yang kini bercokol di kepalanya. Dia bahkan tak sanggup menyuarakan dugaannya. Apa benar, sahabatnya sudah gila karena cinta? Sampai melakukan hal seekstrim ini?
Merekahkan senyuman, Kei menganggukkan kepala tanpa beban, "apa yang berhasil tertebak di kepala lo, itu benar. Gue sengaja hancurin kaca bagian belakang itu supaya punya alasan ketemu Adhi. Kali aja kan, nanti dia yang tangani mobil gue," kekehnya yang membuat Citra mengusap wajah frustasi.
Menolehkan kepala ke arah belakang, Citra meneguk ludah saat melihat pecahan kaca yang berserakan di jok bagian belakang. Sebelum kemudian mengembalikan atensinya pada sosok Kei yang tampak begitu tenang. Seolah apa yang baru saja gadis itu lakukan, bukan hal yang mengerikan, hanya agar memiliki alasan menemui pria yang disuka.
Citra tentu saja jauh lebih berpengalaman dalam masalah pria dibanding dengan Kei. Tapi sepanjang hidupnya, ia belum pernah melakukan hal yang segila Kei seperti tadi, hanya agar bisa bertemu dengan sosok yang ia suka.
"Lo nggak bisa apa, ajak si Adhi ketemuan baik-baik, terus lakukan pendekatan secara normal?"
"Ck! Kan gue udah bilang, dia liat gue aja udah asem mukanya. Gimana mau ajak ketemu? Ditelepon aja judes banget." Sebal Kei setiap kali mengingat sikap Adhi yang begitu antipati padanya.
"Ya cari cara lain, biar lo bisa dekat sama dia."
"Kan, ini cara gue buat dekat sama dia, Cit. Lo sendiri yang bilang, gue harus tebal muka kalau mau deketin Adhi yang terang-terangan menolak pesona gue, nggak seperti para pria yang lainnya."
"Gue bilang tebal muka, bukan gila!" Mengacak rambutnya frustasi, Citra mengembuskan napas kasar, "gue jadi ngeri, jangan-jangan udah kasih saran yang salah buat lo," ringisnya sembari menatap Kei yang justru mengerutkan kening bingung, "ya gimana nggak ngeri? Baru pendekatan lo udah hancurin mobil lo sendiri. Gimana nanti pas tahap mau jadian? Lo nggak akan bakar rumah kan?"
"Hah?! Ya nggaklah, Cit, lo pikir gue nggak waras?"
"Justru sekarang gue mempertanyakan kewarasan lo!"
"Gue waras, nggak ada yang konslet dikepala gue, lo tenang aja. Ini cuma taktik, biar Adhi nggak bisa nolak gue. Kan sekarang gue datang bukan lagi sebagai orang yang cari dia. Tapi pelanggan yang harus dia layani dengan baik dan sepenuh hati." Kekeh Kei yang justru membuat Citra bergidik ngeri hingga mengkeret di tempat duduknya.
"Gue dari dulu berharap lo suka sama seseorang. Tapi sekarang, pas liat gimana seorang Keinarra Mahawira jatuh cinta, kok gue ngeri sendiri?"
"Ck! Itu karena lo yang terlalu berlebihan. Udah ya, siap-siap ketemu sama penyelamat gue. Kita berangkat sekarang!" Seru Kei penuh semangat dan menyalakan mesin mobilnya. Mengendarai sembari menyenandungkan sebuah lagu yang membuat Kei berdebar-debar sekaligus antusias, karena sebentar lagi, ia akan bertemu sang pujaan hati.