Red - 29

1614 Words
Sesampainya sepuluh pahlawan bimbingan Paul di pulau asing memicu perdebatan yang cukup mencekam, ada yang percaya bahwa pulau yang mereka pijakki adalah Pulau Gladiol, ada pula yang menganggap bahwa pulau ini kemungkinan hanyalah pulau asing yang dapat membahayakan mereka. Alhasil, pertengkaran tidak bisa terelakkan, apalagi masing-masing dari mereka memiliki watak dan intuisi yang berbeda-beda dan kadang bertolak belakang antara satu dengan yang lainnya. Namun, ketika Lizzie, sebagai kubu netral yang tidak begitu peduli dengan perdebatan dan lebih memilih untuk pergi tidur, Isabella, yang juga seorang kubu netral, tiba-tiba memintanya untuk berdiam dulu di tepi pantai, membuat orang-orang yang sedang bertikai juga ikut mematung mendengarnya. Setelah diungkapkan sesuatu yang dirasakannya, Isabella mengulurkan telunjuknya ke atas, tepatnya ke bagian puncak dari sebongkah batu besar dan tinggi yang ditabrak oleh gondola yang sebelumnya mereka naiki. Mengikuti arah telunjuk dari jari Isabella, satu-persatu dari mereka membelalakkan matanya, kaget sekaligus gembira karena mereka melihat sesosok lelaki yang sedang berdiri di sana, dengan penampilan bertelanjang d**a dan hanya mengenakkan celana pendek saja berwarna hitam. Beberapa orang masih agak ragu untuk memastikan bahwa sosok itu bukanlah orang yang mereka kira, seperti Naomi yang menganggap bahwa mungkin saja sosok yang mereka lihat cuma salah satu penduduk yang menghuni pulau asing ini dan kini sedang mengawasi mereka karena dianggap sebagai penyusup. Tapi, Lizzie bersikeras berpendapat bahwa sosok yang mereka lihat adalah Abbas, rekan sesama pahlawan yang terjun dan menghilang di tengah lautan. Ketika Lizzie berteriak kencang, meminta sosok itu untuk dari puncak batu, mereka semua langsung terkejut dari sebelumnya karena ternyata sosok itu memanglah Abbas, teman sesama pahlawan mereka. Orang itu tersenyum hangat pada mereka, dan semua teman-temannya histeris dan menyambut kedatangan Abbas. Nico sempat menginterogasi Abbas untuk memaksa orang itu mengungkapkan alasan dibalik terjunnya dia ke lautan tanpa berbicara terlebih dahulu pada mereka, sayangnnya segala pertanyaan yang dilontarkan oleh Nico sama sekali tidak dijawab serius oleh Abbas. Lelaki yang kini sedang bertelanjang d**a itu hanya mengatakan bahwa dirinya juga merasa bingung mengapa tiba-tiba ingin terjun ke laut untuk menelusuri sesuatu yang mengganggunya, saat ditanya apa yang mengganggunya oleh Nico, dia juga masih tidak mengerti pada hal tersebut. Alhasil segala yang Nico tanyakan tidak mendapatkan jawaban pasti, membuat si lelaki berkaca mata menyerah untuk menginterogasinya lebih lanjut. Tapi entah kenapa, secara tidak langsung Abbas mengungkapkan sesuatu yang menarik dan tidak masuk akal. Abbas berkata bahwa dia merasa dirinya bisa melihat lebih jelas ke setiap manusia dilihatnya, bahkan bisa menembus ke bagian-bagian organ dalam tubuh seseorang, membuat satu-persatu dari temannya tertarik dengan pembahasan itu, begitu juga dengan Nico yang ikut bertanya-tanya pada hal aneh tersebut. Barulah Abbas bisa memberikan jawaban-jawaban yang dapat dicerna dengan baik oleh teman-temannya, rupanya dia pernah mengalami perawatan dari seseorang yang bernama Tommy Rigmagog, dan ia menduga bahwa orang itu menanamkannya sebuah mesin kecil ke dalam tubuhnya yang membuat dia bisa mendapatkan penglihatan super seperti itu. Saat ditanya kapan dan di mana Abbas bertemu dengan Tommy Rigmagog, dia mengucapkan bahwa dirinya bertemu dengan orang itu di Kota Sablo, tepatnya ketika dia ikut tergabung ke dalam tugas penelusuran bersama Paul dan Lizzie untuk mencari keberadaan Naomi yang menghilang. Lantas, mendengar namanya disebut, Lizzie dan Naomi saling memandang dan tersentak. “Oke, lalu mengapa dia merawatmu? Memangnya apa yang terjadi padamu sehingga kau diharuskan untuk dirawat oleh Si Tommy Rigmagog ini?” tanya Nico yang terlihat tergesa-gesa dalam memberikan sebuah pertanyaan pada Abbas, membuat Isabella yang tadinya serius ingin mendengarkan lebih lanjut soal hal itu, jadi sedikit terkikik renyah menertawakan sikap teman berkaca matanya itu. Mengedip-edipkan matanya sejenak, Abbas segera menimpalinya dengan nada yang halus, “Tubuhku saat itu babak-belur, berdarah-darah, dan nyaris tewas karena sempat diserang oleh gerombolan Jubah Putih di tengah kota Sablo,” Menarik napasnya, Abbas melanjutkan ucapannya. “Dan ketika aku terbangun, aku sudah berada di dalam sebuah kokpit yang merupakan kepala dari sebuah robot raksasa, Tommy juga bilang bahwa dia ingin merekrutku sebagai asistennya, tapi aku menolak. Saat aku tanya bagaimana situasinya, dia bilang bahwa Jubah Putih sudah dia lenyapkan dengan serangan dari robot yang dikendalikannya.” Baru saja Abbas menyelesaikan penjelasannya, muka dari para pahlawan bimbingan Paul jadi pucat, mereka semua tidak pernah menyangka lelaki bertelanjang d**a itu pernah mengalami situasi yang gila seperti itu, membuat mereka jadi mematung dalam keheningan. “Jubah Putih?” Cherry, Isabella, Lizzie, dan Victor termenung bersamaan saat mendengar nama kelompok yang menyerang Abbas di Sablo, mereka berempat baru dengar nama itu dan belum pernah bertemu secara langsung dengan kelompok misterius yang kejam itu. Sedangkan Nico, Jeddy, Colin, Naomi, dan Koko sudah pernah berhadapan secara langsung dengan kelompok Jubah Putih, membuat mereka hanya bisa terkejut dan jengkel secara bersamaan mendengar Abbas dikeroyok oleh kelompok tersebut. “Tunggu, apa itu Jubah Putih?” Victorlah yang pertama kali bertanya secara cepat kepada teman-temannya yang lain terkait kelompok asing tersebut. “Apa tujuan Si Jubah Sialan itu menyerang Abbas? Apa mereka semacam sekte aneh yang memuja-muja Iblis dan hobi menyerang orang untuk dijadikan sebagai sesembahan? Entahlah, aku merasa mendengar namanya saja membuatku muak!” protes Lizzie dengan mendecih jijik. “Mengapa mereka jahat sekali sampai membuat Abbas berdarah-darah begitu!? Cherry tidak terima Abbas dilukai begitu! Pokoknya nanti kita harus mencari Para Jubah Putih itu dan…,” Seketika dua mata Cherry melotot dan suaranya menggeram. “… membantai mereka semua!” “Ya ampun, menakutkan sekali kau ini, Cherry~” bisik Isabella pada telinga Cherry sebelum akhirnya menggeleng-gelengkan kepalanya dan mulai kembali fokus pada Abbas. “Mengesampingkan soal Jubah Putih, bukankah yang lebih mengerikan dari mereka adalah Si Tommy Rigmagog ini, ya? Maksudku, dia bisa mengendalikan sebuah robot raksasa dan bahkan dengan sadisnya membantai gerombolan Jubah Putih tanpa ampun. Jika kita ingin menjadi pahlawan dan melindungi masyarakat dari sesuatu yang berbahaya, maka seharusnya kita harus berhati-hati pada pergerakan Si Tommy Rigmagog ini.” Menggelengkan kepalanya, Noami tidak setuju dengan perkataan dari Isabella. “Maaf, tapi saya rasa kita juga tidak boleh menyepelekan Jubah Putih, saya mengerti Tommy Rigmagog memang terdengar lebih berbahaya dari mereka, tapi dia menolong dan merawat Abbas, yang artinya dia masih memiliki nurani dan kasih sayang. Sedangkan Jubah Putih, berdasarkan pengalaman yang pernah saya rasakan, mereka sangat jahat dan kejam, bahkan mereka tidak peduli siapa pun yang mereka bunuh dan mereka juga menganggap tindakan bengis yang mereka lakukan, adalah sebuah kebenaran.” Mengambil napasnya sejenak, Naomi kembali melanjutkan ucapannya. “Jadi, daripada mencari siapa yang paling berbahaya dari mereka, lebih baik kita sama-sama mencari tahu motif dan alasan dibalik Jubah Putih dan Tommy Rigmagog ini. Saya yakin, mereka semua pasti punya alasan kuat dibalik kekejaman yang mereka lakukan pada orang lain.” Menekan kaca matanya, Nico mencoba mencerna, menyimak, dan menyimpulkan segala percakapan yang didengarnya dari rekan-rekannya sebelum akhirnya dia mulai mengeluarkan suaranya untuk memberikan solusi atas persoalan tersebut. “Baiklah, aku paham, kalian tidak perlu memperdebatkan soal Jubah Putih mau pun Tommy Rigmagog karena pada dasarnya mereka sama-sama berbahaya dan mematikan. Sekarang, aku ingin bertanya padamu mengenai mengapa kau mencurigai Tommy Rigmagog menanamkan sebuah mesin kecil pada tubuhmu? Apa yang membuatmu merasa kalau dialah pelakunya?” “Entahlah,” balas Abbas dengan matanya yang agak kosong. “Mungkin karena dia terlihat pandai mengoperasikan mesin-mesin canggih dan juga sangat tertarik padaku. Jadi aku menduga dialah yang melakukannya.” “Hahahahaha!” Tiba-tiba Jeddy tertawa terbahak-bahak, suara tawanya mengagetkan teman-temannya yang sedang serius mendengarkan cerita Abbas. “Aku tidak pernah berpikir bahwa kita akan terlibat ke dalam masalah serius seperti ini! Itu membuatku jadi begitu semangat, Bro!” Jeddy menepuk-nepuk punggung orang yang ada di sampingnya tanpa melihat siapa yang ada di dekatnya. “J-Jangan menepuk-nepuk punggung saya! I-Itu sakit, J-Jeddy!” Ternyata yang Jeddy tepuk adalah punggung milik Naomi, membuat wajah si gadis berkerudung itu memerah dan gugup karena disentuh oleh orang yang dicintainya, sementara lelaki berambut hijau itu menoleh dan tertawa santai. “Ahahahah! Maaf-maaf, kukira siapa, ternyata ‘Naomiku Tersayang’! Hahahaa Maaf, ya, Naomi! Aku terlalu bersemangat!” Muka Noami semakin memerah saat mendengar Jeddy menyebutkan namanya dengan diikuti kata ‘tersayang’ yang berhasil membuat jantungnya berdegup-degup kencang. Menyembunyikan ekspresi mukanya, si gadis berkerudung kuning itu langsung berlari ke punggung Isabella untuk berlindung dari gombalan Jeddy. “Malu-malu seperti biasanya, dasar Naomi Si Kucing Pemalu~” goda Isabella sengaja memancing emosi Naomi yang sedang menenangkan diri di belakang punggungnya. “Tapi sudahlah, kurasa kita tidak perlu memperumit pembahasan ini, mengenai penyelidikan soal Jubah Putih atau pun Tommy Rigmagog kita tunda dulu, sebaiknya sekarang kita fokus pada urusan yang lebih penting, yaitu mengenai pulau apa yang kita pijakki ini. Apakah Pulau Gladiol atau kah pulau asing?” “Tidak, Isabella! Urusan yang lebih penting adalah bagaimana cara kita istirahat di tempat ini? Kita harus cari tempat tidur agar besok kita bisa menyelidiki pulau ini bersama-sama, benar, kan?” Mendengar omongan Colin membuat mereka semua menganggukkan kepalanya dan beberapa tampak menguap dan mengantuk. “Ya, itu benar sekali,” lirih Koko yang matanya tampak sayu dan ingin segera tidur. “Ayo kita cari tempat untuk kita tidur, teman-teman.” “Tunggu, mengapa kita tidak manfaatkan saja Abbas dalam urusan kita?” Seketika Nico menarik perhatian kawan-kawannya saat dirinya mengungkapkan hal tersebut. “Abbas sekarang memiliki penglihatan robot dan kita sekarang ingin mengetahui kebenaran dari pulau ini? Bukankah ini saling berhubungan? Yang artinya, kita bisa memanfaatkan Abbas sebagai alat, tepat, kan?” “Kau sebut dirimu apa sampai setega itu menyebut kawan kita sebagai alat, kau pasti tidak suka, kan? Dipanggil sebagai alat oleh Si b******n Itu?” tanya Lizzie dengan memelototi muka Abbas. “Aku tidak keberatan menggunakan penglihatan ini untuk membantu kalian.” “Oke! Kita manfaatkan Abbas sebagai alat!” seru Lizzie dengan mengangkat tinju tangan kanannya tinggi-tinggi. Menyaksikan kekonyolan Lizzie, membuat teman-temannya hanya terbahak-bahak dan mulai memandangi Abbas, mengamati bagaimana lelaki itu menggunakan kekuatan mesinnya yang luar biasa itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD