11. Menjenguk Annie

1469 Words
"Kalau aku membenci Annie, apa berarti aku orang jahat?" Sebelum benar benar masuk ke kamar VVIP rumah sakit, Kalea bertanya. Entah itu pertanyaan untuk Elric yang ada di sampingnya atau malah untuk dirinya sendiri. "Aku tidak tahu, tapi kurasa membenci itu manusiawi." "Meskipun tanpa alasan?" Kalea menoleh. Menatap lurus wajah tanpa ekspresi milik Elric. "Apa benar tanpa alasan?" Tentu saja itu memiliki alasan. Tapi di kehidupan sebelumnya bukan yang sekarang. "Kalau di dalam nanti ada Adam bagaimana..." Kalea lagi lagi mengeratkan pegangannya. Diliputi rasa takut akan pikirannya sendiri. "Aku ada di sampingmu." Elric tersenyum lembut. Senyuman yang baru pertama kali ia perlihatkan. Kalea dan Elric pun melangkah menuju kamar VVIP dengan pintu otomatis. Aroma bunga lavender dengan suhu ruangan yang pas langsung dirasakan penginderaan. Benar benar pantas disebut sebagai ruangan VVIP. Fasilitasnya juga tidak main main, bersih, dan modern. Syukurlah tidak ada Adam di sini. Hanya ada gadis yang duduk merajut di tempat tidur dengan tangan yang terpasang infus. "Adam, apa bisa tolong ambilkan syal ku? Kurasa leherku agak dingin." tanpa menoleh gadis itu berseru. Mengira bahwa yang datang menjenguknya adalah Adam. "Syalmu dimana?" Kalea bertanya. Karena suaranya jelas berbeda, Annie langsung mengangkat wajah. Meletakkan alat dan hasil rajutannya. Ia tampak terkejut dan sedikit takut. "Tidak perlu, Kalea. Aku bisa mengambilnya sendiri nanti." Annie menginterupsi kata katanya. Lalu duduk dengan lebih tegak. Kalea meletakkan sekeranjang buah di atas meja. Mejanya sebenarnya sudah penuh dengan buah yang siap makan. Sepertinya, melihat bagaimana bentuk potongannya, Adam sendiri yang menyiapkannya. "Bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik?" tanya Kalea, duduk di kursi single dekat ranjang Annie. Sementara Elric berdiri di sebelahnya tanpa berucap sepatah katapun. Annie mengangguk singkat. "Iya, sudah membaik. Sedang menunggu jadwal operasi." Annie sedikit melirik ke Elric, Elric yang selalu berwajah datar. "Sudah dapat donor ginjal?" Kalea bertanya lagi. Annie menunduk dalam, mengangguk. Terlihat gugup memainkan ujung selimut. Rambut panjangnya menjuntai, nampak bersih dan wangi. Wajahnya memang pucat, tapi tidak menghilangkan kecantikannya yang mutlak. "Kalea... aku minta maaf." "Untuk apa?" "Untuk Adam..." suara Annie melirih. "Kudengar Adam memaksamu mendonorkan ginjalmu untukku. Aku benar benar minta maaf... aku sudah memarahinya, aku juga tidak akan menerima ginjalmu, sungguh!" Bohong. Kalea mengeratkan kepalan tangan. Di kehidupan sebelumnya, saat tahu ginjal baru miliknya adalah hasil donor Kalea, Annie sangat berterima kasih. Annie bilang akan menjadi temannya, selalu di pihaknya, dan merawat Kalea jika kesehatan Kalea terganggu karena operasi itu. Annie memang melakukannya... hingga ia akhirnya merebut Adam dari Kalea yang sudah tak berdaya. Sentuhan pelan di pundak menyadarkan Kalea kembali ke dunia nyata. Elric memang tidak mengatakan apapun, tapi ia selalu menjadi pengamat yang cakap. "Oh iya kudengar dari Adam, kalian sedang bertengkar. Apa gara gara aku? Aku minta maaf, Kalea. Tolong jangan salah paham. Hubunganku dengan Adam hanyalah teman masa kecil. Tolong, jangan marah ke Adam karena sedikit baik padaku yang tidak memiliki apa apa ini. Adam hanya kasihan padaku." Tangan Annie terjulur meraih jemari Kalea. Tatapannya khawatir, seolah ia tidak mau jadi pihak ketiga dalam hubungan Kalea dan Adam. Tapi sayangnya, di kehidupan kali ini berbeda. Pihak ketiganya bukan Annie. "Bukan karena kamu, Annie. Tapi karena aku. Aku merebut Kalea, dia kekasihku sekarang." Elric mengambil alih jawaban. Memegang kedua pundak Kalea. Gadis itu langsung menoleh padanya. Aneh, ekspresi Elric memang datar tapi ada rasa posesif yang terpancar dari matanya yang tajam. Itu jawaban yang mengejutkan. Annie sampai tidak tahu harus menanggapi bagaimana. "Elric kamu, bagaimana bisa... dengan Kalea... Bukankah Adam akan sangat marah? Om, apa om tidak," "Tidak masalah. Bagiku tidak masalah." Elric langsung memotong. Annie adalah sedikit dari orang yang mengetahui bagaimana posisi Elric di rumahnya. Dan Elric tidak suka itu. Ia tidak suka bagaimana Annie menatapnya dengan kasihan. "Pastinya menyakitkan ya..." Annie kembali menunduk. "Apanya?" tanya Kalea tidak mengerti. Annie melirik ke arah Elric. Tatapan tajam Elric seolah memperingatkannya untuk tutup mulut. "Hei, apanya yang menyakitkan?" Kalea mendesak Annie untuk meneruskan kalimatnya. "Mungkin operasinya, Kalea. Annie kan akan menjalani operasi." sahut Elric mendahului jawaban Annie. Kini Annie tahu bahwa Kalea tidak tahu apa apa tentang keluarga Adam dan Elric. Hanya dirinyalah orang luar yang tahu itu. "Tapi aku senang kamu akhirnya pulang, Elric. Kapan kapan saat aku sembuh, ayo kita main bertiga lagi di taman seperti dulu." Main bertiga? Kalea terdiam. Maksudnya dia, Elric, dan Adam? Lalu Kalea? "Entahlah, sepertinya aku tidak akan punya waktu. Jika bukan karena Kalea aku juga tidak akan datang kesini." jawaban jujur Elric membuat Annie malu. Sedangkan Kalea, yang jelas paham jika Elric memang sering menohok perasaan orang, menahan tawanya. Yeah, ia sudah berkali kali dan mulai terbiasa dengan jawaban menyebalkan khas Elric. "Bagaimanapun luangkan lah waktumu sebentar. Kita kan pernah berteman juga meskipun kamu selalu menghindar." "Jika Kalea ikut, mungkin akan ku pertimbangkan." Kalea tersenyum penuh kemenangan. Nice answer ma boy! Elric benar benar bisa menjadi pacar pura pura yang sempurna! Membela Kalea yang merasa tersudut. Annie memainkan ujung rambutnya. Tidak menyembunyikan ekspresinya yang kecewa. "Aku tidak tahu kalau kamu sedekat itu dengan Kalea. Padahal kita kan sudah berteman sejak kecil." gadis berwajah pucat itu menunjukkan senyum kecil. Kurang lebihnya Kalea paham perasaan Annie. Mungkin seperti saat Adam direbut darinya hanya karena pertemanan mereka. Mungkin Annie merasa bahwa Kalea merebut Elric darinya. Tapi kan, Elric sendiri yang bilang kalau mereka berdua tidak dekat. Jadi konteksnya tidak merebut dong. Tidak ada yang menanggapi kalimat Annie. Elric juga diam saja. Mungkin sedang menahan dirinya untuk tidak melemparkan jawaban yang menohok lagi karena Annie orang sakit. "Kalea, kalau begitu jadinya kamu sudah putus dengan Adam?" "Ya, tentu. Adam jomblo sekarang." jawab Kalea santai. "Kamu mengkhianatinya?" Kalau mempertimbangkan kehidupan dulu, Adam lah yang berkhianat. Tapi kalau dilihat hanya dari kehidupan sekarang. "Begitulah." Kalea angkat bahu. Annie menutup mulutnya, tak percaya dengan jawaban Kalea yang seolah tidak merasa bersalah sama sekali. "Kami hanya putus karena tidak cocok. Lalu aku menemukan laki laki yang cocok jadi bukan salahku kan kalau aku lebih memilih Elric?" "Tapi Elric itu adiknya Adam. Bukankah itu akan menyakitkan untuk Adam melihat mantan kekasihnya bersama dengan adiknya sendiri?" Annie tidak tahu di kehidupan sebelumnya bagaimana kejamnya Adam menyakiti Kalea. Dan bukan hanya menggunakan perasaan tapi juga kekerasan fisik setelah mereka menikah. "Kurasa kamu sudah terlalu banyak ikut campur, Annie. Kalea punya hak atas perasaannya sendiri tanpa harus memikirkan perasaan orang lain." Elric menjawab. Lagi lagi ia menjadi tameng Kalea. Membungkam mulut Annie yang hendak merendahkan gadis itu lebih jauh lagi. "Tapi itu jahat sekali... Kamu juga Elric, bagaimana bisa kamu melakukannya. Apa kamu membenci Adam karena masalah kecil kalian dulu?" Masalah kecil? Apa di mata orang ini masalah Elric hanyalah masalah kecil sampai ia dibilang jahat karena membenci Adam? "Ah... kurasa obrolan kita tidak menyenangkan. Terlalu berat untuk menjenguk orang sakit. Dan mamaku sudah menghubungiku. Sepertinya aku harus pulang." Kalea menyentuh tangan Elric. Seperti sedang menenangkannya. Meskipun Kalea tidak tahu soal masalah kecil antara Elric dan Adam, Kalea bisa merasakan bahwa emosi Elric mulai tak stabil. Elric seolah memancarkan aura dingin yang menusuk. Kalea yang ada di sebelahnya saja takut. Bagaimana jika Elric, yang adalah adik Adam, melakukan hal buruk pada Annie yang sedang sakit? Sama seperti yang Adam lakukan padanya di kehidupan sebelumnya. Bagaimanapun juga Kalea belum mengenal Elric seutuhnya. Gadis itu belum paham tentang apa yang disukai dan tidak disukai Elric. "Kami pamit pulang, Annie. Semoga kamu cepat sembuh. Permisi." Kalea buru buru berpamitan dan menarik lengan Elric. Keluar dari ruangan VVIP itu. Di dalam lift, sesekali Kalea melirik ke wajah Elric. Meskipun wajahnya tetap terlihat tenang, Kalea rasa Annie sudah membuatnya marah. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. "Malam ini, mau makan di rumahku?" ragu ragu, Kalea bertanya. Elric mengecek ponselnya. "Maaf, ada pekerjaan yang harus kulakukan. Mungkin next time." Adam tidak pernah menolak tawaran Kalea makan malam bersama di rumahnya. "Baiklah kalau gitu. Jadi, setelah mengantarku pulang, kamu langsung pergi?" "Iya." Elric menjawab pendek. Keheningan di dalam mobil terasa tidak nyaman. Elric terlihat fokus menyetir tapi pikirannya sedang mengelana ke tempat lain. "Apa kamu marah?" Elric mengusap wajahnya yang terasa kaku. Bertemu Annie memang bukan hal yang baik. Sudah lama berpisah, Elric sampai lupa jika gadis itu cukup berbahaya. Ah tidak, lebih tepatnya dulu Elric kecil sama sekali tidak menyadarinya. "Aku tidak marah, Kalea. Tidak padamu. Tapi aku harap untuk ke depannya jangan berurusan dengan dia." "Maksudmu Annie?" Elric mengangguk singkat. "Ya aku juga merasa tidak nyaman." "Annie dan Adam... mereka pasangan yang cocok." Elric mengembangkan senyuman yang lebih cocok disebut seringaian. Kalea menatapnya dengan intens. Membaca maksud kalimat Elric. Tapi gadis itu tidak mau berfikir berat. "Kita juga pasangan yang cocok." celetuknya dengan senyum polos yang khas. Ia tidak tahu jika maksud Elric berkonotasi negatif terhadap hubungan antara Annie dan Adam. "Ya, Kalea. Kita juga bisa jadi pasangan yang cocok." Elric menimpali. Saat lampu lalu lintas menyala merah, Elric membelai ujung rambut Kalea. "Seandainya aku selalu bisa berfikir positif sepertimu... pasti kita benar benar cocok..." Kalea sama sekali belum mengenal Elric.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD