Semua terjadi begitu cepat, apa yang Fajrin milikisudah tersebar di seluruh kota. Banyak yang menganggap Fajrin adalah orang gila, bukan hanya orang gila, tapi orang yang sakit jiwa yang bahkan terkena mental. Meski pada kenyataannya tindakannya itu adalah untuk menyelamatkan orang lain. Ia sering kali melakukan kerusuhan atau melakukan suatu kesalahan demi untuk menyelamatkan orang banyak. Ia juga terkadang tak peduli dengan apa yang akan orang katakan padanya, namun pada akhirnya semua orang itu memuji dan bangga kepada nya karena telah menyelamatkan orang lain.
Pernah sekali Fajrin bertingkah bodoh, lebih tepatnya ia harus melakukan itu, karena kalau ia tidak melakukan itu maka puluhan anak yang sedang ada di dalam bus akan kehilangan nyawanya. Bagaimana tidak, saat Fajrin akan berangkat bekerja yaitu saat dimana ia sedang mengantar Ares ke sekolah, tiba-tiba ia merasakan sakit di bagian kepalanya.
"ah sial, apalagi ini apalagi yang akan terjadi selanjutnya? siapa yang akan berada dalam bahaya saat ini?" ucapan Fajrin.
Semua terjadi begitu cepat saat di mana Fajrin tersadar dan melihat sebuah bus sedang melintas tepat di hadapannya. dengan cepat ia turun dan berlari mengajar bus itu untuk memintanya berhenti, namun sayangnya ia kehilangan bus itu.
Ia kembali ke dalam mobilnya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan mengejar bus itu. Tak lama ia mendapatkannya lalu ia menabrak bus itu, hanya sedikit saja hingga pemilik bus itu marah dan menepikan mobilnya.
Supir bus sekolah itu turun dari busnya dan menghampiri Fajrin dengan sangat marah. Pria paruh baya itu langsung meninju wajah Fajri.
"Apakah sudah bosan hidup, sialan? Apa yang kau lakukan kepada ku? dari tadi aku sudah memperhatikan kamu, kamu meneriaki ku seolah aku seorang maling, seolah aku adalah seorang penculik anak-anak, dan seolah aku memiliki kesalahan yang amat fatal. aku mencoba untuk tidak menghiraukan mu karena menurut ku tindakan-tindakan konyol mu itu tidak perlu di hiraukan, tapi kau terus mengikuti ku dan melakukan sesuatu yang tidak ingin aku lihat. Bagaimana mungkin kamu berpikir untuk menabrak bus ku sementara kau bisa melihat kalau aku sedang mengemudi bus dan membawa puluhan anak-anak di dalamnya? Apakah bisa mempertanggung jawabkan nyawa mereka jika sampai terjadi sesuatu kepada kami? beruntung aku langsung menepikan mobil ini kalau tidak maka kami bisa dalam bahaya dan langsung meninggal di tempat karena ulahmu" kata pria paruh baya itu.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku melakukan ini karena aku ingin menyelamatkan kalian. Kau pikir aku tidak rugi? aku juga rugi karena mobilku telah lecet, tapi aku tidak memikirkan hal itu, yang aku pikirkan adalah nyawa kamu dan juga nyawa anak-anak yang ada di dalam bus itu. kau tahu di depan sana akan ada terjadi kecelakaan dan dari yang aku tahu bus ini akan mengalami kecelakaan hebat di dan terbalik hingga jatuh ke jurang
aku mencoba untuk menghindari hal itu, jadi tolong jangan berpikir yang tidak-tidak kepadaku" kata Fajrin membela diri.
"omong kosong apa ini? Apa yang sedang kamu bicarakan? Aku tidak mengerti kamu mengatakan apa. apa ini cara untuk menghindari sebuah masalah yang sudah kamu lakukan? Dari mana kau tahu kalau di depan sana kami akan mengalami kecelakaan? kau bahkan di belakang ku bukan di depan ku, tapi kau telah mengetahui hal itu. Bukankah itu Terdengar sangat konyol? Jangan bertindak yang bukan-bukan di hadapan ku, aku harus mengantarkan anak-anak ini ke sekolah kalau tidak mereka akan terlambat dan mendapatkan hukuman dari gurunya, sebaiknya kau pergi dan jangan halangi aku" kata pria paruh baya itu dengan penuh amarah. "satu lagi, kau juga harus membayar biaya ganti rugi atas bus ku ini, kau telah merusak bagian belakangnya dan kau harus memberikan ganti rugi" lanjut pria paruh baya itu.
"Hai, Kau pikir aku ini orang bodoh? aku juga mengorbankan anak ku. aku memilih menyelamatkan kalian dari pada mengantarkannya ke sekolah. kau pikir anak ku tak akan di hukum oleh gurunya? Ia juga akan di hukum gurunya karena telah terlambat ke sekolah, tapi aku tidak memikirkan itu, yang terpenting bagiku adalah keselamatan kalian, keselamatan mu dan juga anak-anak yang ada di dalam itu" kata Fajrin sedikit kasa.
Tiba-tiba ia melihat jam tangannya, ia melihat waktu yang telah ia ketahui waktu di mana kejadian itu akan terjadi. semua sudah berlalu dan benar saja apa yang ia pikirkan telah terjadi. Ia mengetahui hal itu dari beberapa orang yang ada di sana, di depan mereka sekitar serstus meter dari mereka ada sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa beberapa orang. kecelakaan di mana sebuah mobil pengangkut kayu yang sedang hilang kendali sehingga mobil itu terjatuh dan semua kayu-kayu yang ia bawa terlepas dari mobilnya hingga membuat mobil yang ada di di belakangnya harus menghentikan mobilnya secara mendadak dan juga motor-motor yang ada di belakangnya.tak bisa mengelak apa yang terjadi di depannya, semua terjadi begitu cepat hingga nyawa orang-orang yang ada di sana harus menjadi korban, baik pengendara sepeda motor maupun pengendara mobil itu.
Untuk sesaat tak ada yang bisa melintasi jalan itu, para petugas kepolisian meminta mereka untuk kembali dan tidak melewati jalan itu. seketika pria paruh baya itu menatap Fajrin, kini ia mengerti apa yang telah di lakukan adalah sesuatu yang sangat mulia, apa yang telah di lakukan Fajrin telah menyelamatkan nyawanya dan juga anak-anak yang ada di dalam busnya. ia langsung bersujud di hadapan Fajrin, ia tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka jika ia masih bersikeras untuk pergi meninggalkan Fajrin.
Terima kasih, berkat mu nyawa aku dan juga nyawa anak-anak yang ada di dalam bus itu bisa terselamatkan. kau telah menyelamatkan diri ku. andai kau memilih diam dan tidak memancing amarah aku, maka aku sudah langsung segera pergi. tapi sepertinya kau sengaja membuat ku marah dan membuat ku berlama-lama di sini hingga kejadian yang akan menimpa kami itu selesai. Terima kasih banyak, surga untuk mu nak. Maafkan ego ku karena sudah terlebih dahulu marah kepada mu tanpa mendengarkan penjelasan mu terlebih dahulu. Kau adalah malaikat yang di titipkan Tuhan kepada dunia. Tetaplah seperti ini, berbuat baik meskipun orang lain tidak berbuat baik kepada mu, dan dari sini aku akan belajar untuk lebih mendengarkan apa kata orang lain dan tidak langsung menghakimi orang itu" Kata pria paruh baya itu, ia merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Pak, aku mengerti, aku tahu apa yang Bapak rasakan, aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisi Bapak, aku juga tidak ingin kalau sampai anak-anak itu di marahi oleh gurunya, tapi aku tidak memiliki pilihan lain, aku lebih memilih anak-anak itu di marahi oleh gurunya dan di berikan hukuman oleh gurunya dari pada aku harus melihat nyawa anak-anak itu melayang sementara aku bisa menghindarinya. Pulanglah Pak, bawa anak-anak itu kembali ke rumah keluarganya, Karena bagaimanapun kita tidak bisa melintasi jalan itu dan Bapak tidak bisa mengantarkan mereka pergi ke sekolah" ucapan yang dijawab dengan anggukan oleh pria paruh baya itu, lalu ia kembali ke mobilnya dan memutar balik mobilnya untuk menghantarkan Ares ke sekolah.