Hendro selalu berusaha untuk tetap menahan diri, mencoba untuk memendam keinginan dirinya yang selama ini sudah ia rindukan. Bagaimana tidak, empat tahun sudah dia menikah dengan Nining Ayu, tapi tak kunjung mendapatkan keturunan. "Buk, bagaimana kalau kita program saja?" tanya Hendri berhati-hati, apapun yang menjadi permasalahan dalam hatinya, dia selalu berusaha untuk tidak membuat hati istrinya terluka. Hendro lebih memilih sakit seorang diri daripada harus melihat istrinya merasakan sakit yang ia rasakan. "Program bagaimana maksud, Bapak?" tanya Nining tak mengerti maksud pembicaraan suaminya, lalu ia meneguk teh yang beberapa menit yang lalu ia sedukan untuknya dan suaminya, kebetulan hari ini mereka memutuskan untuk beristirahat dan tidak pergi ke kebun. "Program bayi tabung, Buk

