Ares sangat menikmati saat di kebun binatang, ia bahkan berlarian ke sana ke mari namun tetap dalam pantauan Fajrin dan juga Irana.
Entah kenapa, ada setitik rasa takut di hati Fajrin saat mereka tiba di kandang Gorila, ia tiba-tiba membayangkan saat di mana Sinta masuk ke dalam kandang Gorila kala itu.
"Ares, ayo pergi ke tempat lain" ajak Fajrin setelah beberapa menit mereka melihat Gorila yang ada di bawah sana.
Ares bukan anak yang muluk-muluk, ia sangat mudah di atur dan selalu menuruti apa yang di perintahkan oleh Fajrin dan juga Irana, tapi tetap saja ia juga memiliki keinginan dan kalau sudah di janjikan harus di tepati.
"Kenapa, Pa? Apakah papa mengingat kejadian yang menimpa Sinta? Jangan bilang kalau papa sekarang iba" kata Irana sedikig meledek.
"Jangan menggoda ku untuk ribut dengan mu, Ma. Karena kalau sampai hal itu terjadi, aku tidak akan pernah ribut dengan mu, tapi aku akan mencium mu di sini, di depan semua orang" kata Fajrin sambil tertawa kecil, sementara Irana hanya bisa tersipu malu.
"Bukan merasa iba, lebih tepatnya papa hanya ingin menghindari kejadian yang sudah pernah terjadi. Kenapa papa meminta Ares ke tempat lain, karena papa tidak ingin apa yang terjadi kepada Sinta terjadi juga terhadap Ares, itu sebabnya kita harus memantaunya dengan baik selama di sini" ucap Fajrin.
"Tidak buruk, setidaknya papa tidak menyangkut pautkan masalah papa dengan Farhan terhadap anak-anak, karena anak-anak sama sekali tidak tahu menau soal itu atau bahkan kami istri kalian. Tapi mama merasa sedikit bingung dengan papa, dulu papa sangat dekat dengan Farhan bahkan seperti adik kandung sendiri. Tapi mama heran, sefatal itukah kesalahan Farhan sampai-sampai papa sangat membencinya?" tanya Irana tak mengerti.
"Papa tidak membenci Farhan, papa tetap menerimanya sebagai sahabat, saudara atau bahkan adik. Tapi untuk mrngembalikan hubungan ini seperti semula, bagi papa itu sangat sulit. Apa mama pikir semua yang di lakukan oleh Farhan tidak fatal? Tapi papa tetap memaafkannya, tapi tidak untuk menerimanya kembali melakukan penelitian dengan papa. Bukan papa tak tahu menahu tentang apa yang terjadi, bukan papa tak tahu menahu apa yang sudah Farhan lakukan kepada papa. Papa bukan orang bodoh, Ma. Papa bisa tau seberapa jahatnya Farhan terhadap papa, namun papa berusaha untuk memaafkan berharap dia akan berubah, tapi sepertinya tuduhan yang ia tuduhkan kepada papa, ucapannya yang mengatakan kalau papa adalah orang yang serakah, justru seharusnya ia lontarkan kepada dirinya sendiri. Papa yakin, sampai kapanpun dia akan tetap menjadi orang yang serakah dan jahat" kata Fajrin, ia sangat marah saat mengingat kejadian itu.
Irana terdiam, ia bingung, ia tak mengerti apa yang di bicarakan oleh suaminya itu. Untuk pertama kalinya ia melihat Fajrin sangat marah terhadap seseorang, selain kepada orang yang telah mengambil hasil penelitiannya. Apalagi saat ini, ia sangat marah terhadap orang yang sangat dekat dengan mereka, membuatnya tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kepada suaminya dan juga Farhan.
"Kenapa papa bicara seperti itu? Sebegitu marahnyakah papa terhadap Farhan? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa papa tidak mengatakan semuanya kepada mama?" tanya Irana.
"Karena papa tidak ingin kalau sampai mama membenci mereka, papa tidak ingin menghancurkan hubungan yang sudah hancur dan membuatnya semakin berantakan. Papa mengetahui hal itu, tapi papa hanya bisa diam karena papa tak menyangka Farhan akan melakukan itu. Papa syok, bahkan papa tak menyangka, Farhan yang sudah papa anggap seperti diri papa sendiri ternyata bisa menusuk papa dari belakang. Papa masih ingat saat di mana Farhan mendadak pergi ke Bali, dan papa masih ingat saat di mana papa di keluarkan dari perusahaan, dan itu sangat menyakiti hati papa" ucap Fajrin kembali mengingat masa lalu.
=====
Setelah merasa lebih baik, Fajrin kembali ke perusahaan untuk bekerja. Semua masih saja terngiang-ngiang di pikirannya, ia masih saja menganggap apa yang terjadi kepada dirinya adalah sebuah mimpi.
Baru saja Fajrin duduk di tempat duduknya, tempat duduk yang tak pernah ia duduki selama hampir dua minggu terakhir, Hendrawan langsung menghampiri dirinya.
"Fajrin, tolong ke ruangan saya, sekarang!" ucap Hendrawan, lalu ia pergi mendahului Fajrin.
Dengan sedikit rasa bingung, Fajrin mengikuti langkah Hendrawan. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benaknya, pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya sedikit bergidik ngeri karena sudah hampir dua minggu ia tidak masuk bekerja.
"Duduk" ucap Hendrawan saat mereka tiba di ruangan Hendrawan, dengan hormat Fajrin menuruti menuruti ucapan atasannya itu.
"Begini Fajrin, mohon maaf sebelumnya dan terima kasih banyak karena sudah bekerja sama dengan baik selama ini. Dengan berat hati kamu harus di berhentikan mengingat kamu nggak masuk selama hampir dua minggu. Kamu tau bukan, perusahaan kita memiliki peraturan yang sangat ketat, jadi saya minta maaf karena kamu harus berhenti terhitung sejak hari ini" ucap Hendrawan.
"Tapi Pak, saya tidak masuk karena saya sakit, bukan karena saya ada urusan lain atau semacamnya. Tolong, Pak! Tolong berikan saya kesempatan, saya janji saya akan lebih giat lagi dalam bekerja" ucap Fajrin memohon.
"Tidak Fajrin, keputusan perusahaan sudah bulat" ucap Hendrawan tegas.
"Tolong, Pak! Setidaknya tolong pertimbangkan kinerja saya selama ini Pak. Saya selalu memberikan yang terbaik, saya tidak pernah absen dan bahkan saya tidak pernah mengambil cuti. Tolong, Pak!" ucap Fajrin memohon, namun Hendrawan tak mengindahkan permohonannya.
Dengan berat hati, Fajrin keluar dari ruangan Hendrawan karena ia tak melihat tanda-tanda belas kasihan dari Hendrawan. Namun seketika langkahnya terhenti di balik pintu saat ia mendengar Hendrawan sedang menghubungi seseorang.
"Terima kasih atas informasinya, Farhan. Beruntung kamu mengatakan hal ini kepada saya, saya yakin dia pasti akan lebih mengutamakan penelitiannya itu daripada perusahaan. Dia tidak layak jadi pemimpin, saya merasa bersyukur tidak memilihnya untuk pergi ke Bali berkat kamu" ucap Hendrawan.
Ingin rasanya Fajrin kembali masuk ke ruangan Hendrawan dan memberikan pelajaran kepadanya, namun ia tak bisa berbuat banyak karena apa yang di lakukan oleh Hendrawan karena hasutan dari Farhan. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya dan membenahi barang-barangnya.
"Fajrin, ada apa dengan mu? Kenapa kamu membenahi barang-barang mu?" ucap Lucy, salah seorang staff di kantor itu.
"Benar Fajrin, kau baru saja kembali. Apa yang terjadi?" timpal Roby.
"Saya di pecat" jawab Fajrin lemah, bahkan bibirnya keluh untuk mengatakan hal itu.
"Apa maksud mu? Bagaimana mungkin kamu di pecat? Kami tau, kamu adalah karyawan terbaik di kantor ini, dan kami juga tau kalau kamulah yang akan di berangkatkan ke Bali karena kamu pantas mendapatkannya, tapi kami tidak tahu kenapa perusahaan justru mengirim Farhan" kata Roby sedikit kesal.
"Awalnya aku bahagia karena bukan kamu yang pergi, karena kamu akan tetap di sini bersama kami, tapi kenapa justru kamu di pecat seperti ini?" tanya Ana sedikit tak terima.
"Aku tidak tahu pasti, yang jelas ini semua karena aku tidak bekerja selama hampir dua minggu" kata Fajrin.
"Tidak mungkin. Meskipun kamu tidak bekerja, tapi kamu memberikan informasi dan bahkan memberikan surat keterangan dokter kalau kamu sakit, ini benar-benar bukan sebuah alasan" protes Lucy.
"Sudahlah, ini sudah terjadi. Terima kasih karena sudah membantu ku selama ini, dan maaf kalau aku memiliki kesalah atau menyinggung perasaan kalian" ucap Fajrin tulus, sebelum ia pergi dan kembali ke rumahnya.
Betapa terkejutnya Irana saat melihat beberapa barang di tangannya, dan ia semakin terkejut ssat melihat jam di tangannya.
"Papa, ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Irana.
"Aku di pecat" jawab Fajrin, ia bahkan sangat membenci kalimat itu.
Seketika Fajrin teringat akan suatu hal, lalu ia pergi meninggalkan Irana sebelum Irana mengatakan apapun.
"Pa, kenapa? Kok bisa? Papa mau ke mana?" tanya Irana namun satupun tak ada yang di jawab oleh Fajrin. Ia tetus berjalan ke mobilnya dan langsung melajukannya ke sebuah tempat.
"" Ya Allah, cobaan apa lagi ini? hiks... hiks" ucap Irana menangis setelah kepergian Fajrin.
Tak lama, Fajrin tiba di sebuah rumah sakit tempat di mana ia di rawat. Ia menemui sang dokter dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya. Ia sangat terkejut saat mendengar apa yang di katakan oleh sang dokter.
"Maaf, anda terlalu banyak mengonsumsi obat pencuci perut. Saya sudah memberitahukan ini kepada keluarga anda yang membawa anda ke mari, apakan beliau tidak mengatakannya?" tanya sang dokter bingung.
"Maaf, Dok. Saudara saya sudah pulang, mungkin dia lupa mengatakan hal itu kepada saya" ucap Fajrin, lalu ia berpamitan kepada sang dokter dan kembali ke rumahnya.
Selama perjalanan, ia hanya bisa merutuki Farhan, ia benar-benar tak menyangka kalau Farhan akan melakukan hal itu kepada dirinya.
"Biadap kamu Farhan, apa yang aku perbuat kepada mu justru kau balas seperti ini. Aku tak menyangka kalau sebenarnya kamu adalah penjilat dan orang yang tidak tahu terima kasih" ucap Fajrin sambil sesekali membanting stir mobilnya.
Kecurigaannya terhadap Farhan akan hilangnya serum itu semakin kuat, hingga ia menaikkan kecepatan untuk segera tiba di rumah. Namun ia justru di kejutkan dengan kendaraan yang melaju di hadapannya, dengan cepat ia menghentikan mobilnya.
Tak terduga, pengendara motor itu adalah Denis, rekan kerjanya yang sebelumnya bekerja di perusahaan tempat ia bekerja, lebih tepatnya perusahaan tempat ia bekerja beberapa jam yang lalu karena perusahaan itu tak lagi tempat dirinya bekerja.
"Denis?" ucap Fajrin.
"Fajrin?" ucap Denis tak kalah terkejutnya dari Fajrin.
Keduanya saling berbincang, saling menanyakan perkembangan karier masing-masing di sebuah warung kopi yang tak jauh dari sana, hingga Fajrin harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya. Beruntung Fajrin bertemu dengan Denis, karena perusahaan tempat ia bekerja sedang membutuhkan staff.
"Kebetulan sekali, kami sedang membutuhkan staff, mungkin kamu tertarik untuk bekerja di perusahaan kami" ucap Denis.
"Tentu, justru aku seharusnya berterima kasih bisa bekerja di sana. Jadi aku tidak perlu capek-capek untuk mencari pekerjaan lagi" ucap Fajrin, lalu keduanya kembali berbincang hingga waktu meminta keduanya untuk mengakhiri perbincangan itu dan kembali pulang.
"Pa, papa dari mana saja?" tanya Irana khawatir saat ia tiba di rumah, namun Fajrin tak menjawabnya.
"Ma, ketika Farhan ke sini untuk menjemput mama, apakah dia pergi ke suatu tempat? Maksud papa, ke dapur atau ke mana?" tanya Fajrin.
"Tidak, Pa. Setelah Farhan tiba, kami langsung pergi. Tapi dia sempat kembali ke sini saat kami sudah tiba di mobil, dia bilang kalau ponselnya tertinggal" jawab Irana.
Tepat sekali, semua sudah di rencanakan dengan matang oleh Farhan. Kamu sangst hebat Farhan, kau membuat ku sakit, kau mencuri hasil penelitian ku, dan kau membuat ku kehilangan pekerjaan ku. Aku tak menyangka kalau kau sekeji itu, tapu akan kupastikan, suatu saat nanti saat kau sedang membutuhkan apapun, aku tidak akan pernah ada lagi untuk mu. Mulai saat ini, saat di mana kau memperlakukan ku dengan sangat keji seperti ini, aku menganggap kau telah memutuskan persahabatan kita, batin Fajrin bersumpah.
"Papa belum menjawab pertanyaan mama, papa dari mana?" tanya Irana.
"Papa hanya menemui teman papa, katanya di perusahaan tempat dia bekerja sedang ada lowongan, mungkin papa bisa bekerja di sana" jawab Fajrin.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Pa?" tanya Irana.
"Papa di pecat karena sudah hampir dua minggu papa tidak bekerja" jawab Fajrin.
"Bagaimana mungkin mereka memecat papa? Papa sedang sakit, tidak mungkin papa paksakan untuk tetap bekerja" protes Irana.
"Papa juga memikirkan hal yang sama seperti yang mama pikirkan, tapi itu sudah menjaci keputusan mereka. Mama tidak perlu khawatir, lagipula papa juga sudah mendapatkan pekerjaan yang baru. Lagipula, tidak ada gunanya mempertahankan perusahaan seperti itu, papa bekerja untik mencukupi keperluan kita sehari-hari dan untuk masa depan kita, bukan untuk bekerja sekeras mungkin dan nempertaruhkan nyawa papa yang seharusnya tidak perlu" ucap Fajrin.
"Iya, Pa. Yang terpenting kesehatan papa. Apapun keputusan papa, mama akan tetap mendukung papa" ucap Irana lalu memeluk suaminya itu. Sementara Fajrin, ia hanya bisa tersenyum kecut di balik pelukan istrinya dan memendam semua yang terjadi.
=====
"Bahkan, sudah sepantasnya papa membenci dan tak berurusan lagi dengan mereka. Tapi papa berusaha untuk mengingat hal baik yang terjadi di dalam keluarga kita dengan keluarga mereka, hingga papa mencoba untuk melawan kebencian itu. Tetap berhubungan dengan mereka, tapi tidak untuk kembali seperti dulu dengan mereka, termasuk untuk bekerja sama dalam membuat serum itu" kata Fajrin usai menceritakan semuanya.
Irana mengepalkan tangannya, ia tak percaya kalau Farhan tega melakukan hal itu.
"Berarti itu semua rencana Farhan? Bahkan, serum..." belum selesai Irana bicara, Fajrin langsung mengangguk karena ia tahu apa yang akan di katakan oleh istrinya itu.
"Sejahat itukah mereka terhadap kita? Dan mereka dengan tanpa rasa bersalah dan tanpa berdosa datang dan ingin menjalin hubungan seperti semula? Tak akan, mama tak sudi untuk tetap menjalin hubungan ini dengan orang-orang yang berusaha menghancurkan kita" ucap Irana sambil mengepalkan tangannya, bahkan emosinya melebihi emosi Fajrin, suatu hal yang Fajrin takutkan sehingga ia tak pernah mengatakanapa yang sebenarnya terjadi kepada Irana, karena Irana adalah tipekal orang yang nekat yang bisa saja melakukan hal yang tidak-tidak terhadap keluarga Farhan.