“Va, bangun!” tepukan lembut pada pipi membuatku mengerjap. Tangan dingin Ibu membuatku yang tertidur lambat akhirnya bangun juga. “Sudah jam berapa, Bu?” Aku beringsut duduk dan bersandar pada tepian dipan. “Jam empat. Lekas mandi, wudhu terus solat ! Ibu sudah siapin air hangat buat kamu mandi.” Aku mengangguk, lantas membiarkan Ibu keluar dari kamar dan kembali ke kamarnya. Beberapa tetangga sudah bangun dan mulai merebus air di samping rumah. Nyala kayu bakar tampak terlihat dari pintu samping yang memang terbuka. Ada juga yang mulai menghangatkan kue-kue yang semalam sudah berhasil dibikin. Aku mengguyur tubuhku dengan air hangat yang Ibu siapkan. Terasa segar dan mengusir rasa pegal dan tak nyaman yang sejak semalam datang. Tak berlama-lama, lekas mengambil wudhu menunggu s

