“Ya, dua atau tiga bulan lagi, Va. Kenapa?” Lelaki itu menatapku. Aku menunduk, malu sebetulnya karena mungkin terlalu berlebihan pada adik sendiri. Gak enak juga karena takut dianggap tak percaya pada Mas Iqbal, tetapi aku hanya menjaga. Aku tak mau luka itu terulang kedua kali. Kemarin baru calon suami saja, sakitnya luar biasa. Aku tak mau membayangkan jika itu terjadi pada suami sendiri, seperti apa sakitnya. “Aku rasanya pengen kita ngontrak rumah dulu. Hmmm, menurut Mas bagaimana?” tanyaku pada akhirnya. Mas Iqbal menatap ke arahku penuh selidik. “Apakah dua bulan terlalu lama? Kita bisa di sini dulu ‘kan sambil jaga Bapak?” tanyanya. Dia seolah bingung dengan pemikiranku. Aku tersenyum, tetapi tak tahu harus menjawab apa. Lagi pula, mungkin benar terlalu berlebihan saja isi p

