"Bagaimana Mala? Ayahmu sudah menolakku?" Ibram bertanya dengan raut cemas. Ia mengajakku bertemu setelah hari pemutusan tunangannya dengan Kak May. "Ya, artinya hubungan kita tidak bisa diteruskan. Ayah keras dan aku tidak ingin menentangnya," jawabku santai sambil menyeruput minuman di depan meja. "Hanya begitu? Apa kamu tidak ingin memperjuangkan hubungan kita?" tanyanya lagi menatapku lekat. "Aku tidak ingin menjadi anak durhaka. Lagipula kenapa ibumu langsung bicara begitu? Seharusnya tahan dulu mulut lemes ibumu, jadi--" "Apa La, Mulut lemes ibuku? Apa aku tidak salah dengar? Dimana rasa hormatmu? Dia calon ibu mertuamu, Mala!" Tampak rona kemerahan di wajahnya dengan rahang mengeras. Aku tahu dia marah. Heh! Lelah berpura baik begini. Aku sudah tidak tertarik pada Ibram. Dia sa

