Evander POV “Waktunya menjelaskan maksudmu tadi! Kenapa kau berkata seperti itu, Aria?” Tanyaku setelah kami keluar dari area mansion besar Luca. Jika saja tak dijeda oleh pertemuan penting tadi, mungkin aku sudah mencecar Aria sejak awal. Bagaimana dia bisa tiba-tiba mengatakan jika aku adalah calon suaminya? Tak bisa dipungkiri jika rasanya jantungku ingin melompat saking bahagianya karena sebutan tersebut. Namun, tetap saja itu terlalu tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Aku bahkan belum melamarnya. Ah, aku bahkan belum memiliki rencana pasti kapan akan melamarnya meskipun sangat ingin. Meskipun sudah berkali-kali dalam satu hari ini Aria menyebutku sebagai calon suaminya, tetapi aku juga tak bisa memastikan apakah ucapan itu benar berasal dari hati atau sandiwara belaka. S

