“Eu—Eugene.” Eugene tidak bergeming di tempatnya. Pria itu hanya berdiri menatap Ellie yang terjatuh karena kehabisan tenaga. Sebilah pedang berada dalam genggamannya, seolah siap membantu Caesar melawan para penyusup. Akan tetapi, secara aneh Eugene tidak segera melakukannya. Mengulur waktu. Eugene berdecak pelan, mengembuskan napas pelan. Padahal aku masih belum tahu bagaimana caranya bersikap di depan Ellie. Benar-benar menyusahkan. Kaki Eugene mulai melangkah. Mata hijaunya tidak lepas dari mata biru Ellie yang menatapnya sayu. Tampaknya, gadis itu akan segera kehilangan kesadarannya dalam waktu dekat. Tentu saja. Gadis rapuh dan semungil Ellie yang tidak terbiasa mengeluarkan kekuatan dalam berpedang, tiba-tiba melakukannya dalam sekejap pasti sangat menguras tenaganya. Eugene su

