ANNA
--
Emma menangis sepanjang hari sehingga Julia menghubungiku dan aku harus meninggalkan pekerjaanku bahkan sebelum jam-nya berakhir. Itu adalah permulaan yang buruk dan tidak ada yang bisa kujelaskan pada Cathy tentang hal ini. Pada akhirnya, aku tahu semua itu akan gagal. Namun, Itu hanyalah awal dari kekacauan yang terjadi. Emma sedang tertidur ketika Ben kembali. Aku menemuinya di teras dan laki-laki itu keluar dari pintu mobilnya dengan satu tas mengayun di satu tangannya.
Ketika kami berjalan memasuki ruang depan, kuputuskan untuk bertanya padanya.
"Apa kau melihat kalungku?"
Laki-laki Itu berjalan menuju konter sembari menarik lepas dasinya. Ia tidak terlihat begitu acuh.
"Kalung apa?"
"Kalung yang biasa kugunakan. Kau pernah melihatnya. Kalungnya hilang."
Ben membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol mineral dari dalam sana. Sembari memandangku, laki-laki itu meneguk minumannya dengan cepat.
"Sudah kau periksa di lemarimu? Mungkin kau lupa meletakkannya?"
"Tidak. Aku ingat aku meletakkannya di atas nakas. Sekarang kalung itu tidak ada di sana."
"Seharusnya ada disana, kan? Cobalah mengingat-ingat lagi. Mungkin kalungnya terjatuh di toilet, atau.."
"Tidak. Kalungnya ada di sana."
"Well, jawabannya aku tidak tahu. Apa kau keberatan? Bisa kau siapkan air panasnya? Aku mau mandi."
Ben melangkah pergi. Punggungnya menghilang di balik pintu kamar kami dan ketika itu aku bisa merasakan darahku mendidih.
Ada sesuatu yang menggelitikku. Itu bukan hanya fakta tentang bagaimana sikapnya berubah begitu cepat setelah tiga tahun pernikahan kami, namun kini aku dapat mencium aroma parfum lain dari pakaiannya. Aku tidak akan terkejut, aku tahu hal ini akan terjadi, hanya saja aku tidak membayangkannya terjadi secepat ini.
..
- LAST WITNESS -