November 2013
"KAK SENAAAAAAAAA!"
Teriakan sekencang halilintardari mulut mungil Alika, mengguncang jantung pria yang tidur pulas di lantai. "Bah, apa pula kau, Al? Tereak-tereak dekat telinga gue?" sembur Sena yang langsung duduk kilat sambil mengumpatkan serapahnya. "Jantung gue mau copot ini kau buatnya."
"Kakak, sih. kKalau habis makan tuh, piringnya dikeluarin po'o. Taruh di tempat cucian piring, ntar aku cuci. Jangan diendapin di dalam kamar," omel Alika mirip emak-emak lapar. "Mau ta, tidur rame-rame sama belatung?" Alika melanjutkan sambil memunguti bungkus makanan ringan dan seperangkat alat makan yang bergeletakan di mana-mana.
Sena acuh.Direbahkan kembali tubuhnya ke lantai,sembari mengangguk sebagai tanggapan atas nasihat Alika yang terdengar bak gongongan anjing tetangga Alika.
"BANGUN." Alika menarik kasar guling yang Sena gunakan sebagai bantal, sehingga kepalanya membentur lantai dengan sempurna. "Bangun'o talah, Kak, bangun!."
Sena mengaduh kesakitan dengan tangan kanan mengusap kepala yang baru saja mencumbu lantai. "Bah, loak kau Al. Ini kepala, Alika. KE-PA-LA bukan KE-MON-CENG. Seenak aja kau tarik bantal gue. Kalau pala gue bocor, macam mana kau mo kau bilang ke mamak gue?" umpat Sena masih dengan aksen Batak mix Betawi yang kental dan terdengar aneh.
Sungguh, Alika ingin terbahak saat kakak tingkatnya itu mengeja kata kepala dan kemonceng sembari melotot sepertibak Ikan Lohan. Ekspesi kesal dan kesakitan memang membuat Sena terlihat lucu secara natural. Tetapi nyali Alika tidak cukup besar untuk menertawakan orang gila yang sedang ngamuk di depannya.
"Ya maaf, Kak. Ini udah mau jam tujuh, lho. Kak Sena ndak ngampus?" Alika melunak, ia mengusap kepala Sena untuk memastikan tidak ada yang retak.
Sena menyingkirkan tangan Alika, lalu duduk lagi. Bibir Sena mengerucut maju satu meter.Pertanda bahwa kekesalannya sudah setinggi Monas. Pria kelahiran Medan yang besar di Jakarta itu mengucek mata sambil menjawab, "Memangnya kau, kuliah macam anak sekolah. Berangkat jam tujuh, huh. Gue sama Ardi dong, jam sebelas baru ngampus." Sena mulai membakar ujung rokoknya sebagai motivator untuk membuka mata.
"Siapa bilang kuliahku jam tujuh. Hari ini kelas aku jam satu, kok. Weeekkk." Usai mengakhiri ucapan dengan menjulurkan lidah, Alika pergi ke kamar mandi untuk mengecek apakah banyak sampah negara yang Sena semai di sana.
"Bahhh, kau kuliah jam satu, Al?”
“Iyooo,” jawab Alika setengah berteriak.
“Berarti bisa lah kau masak makan siang buat kami,?" pinta Sena sambil menyondoyongkan kepala ke arah pintu kamar mandi.
Alika keluar dengan seonggok baju kotor dalam pelukan. Gadis itu mengangguk sebagai balasan untuk pertanyaan Sena. "Di kulkas ada cumi, mau?" tawar Alika sambil memasukan baju-baju kotor tersebut ke kantung plastik merah. Untuk beberapa alasan, Alika memilih mencuci baju Ardi dan Sena di indekosnya sendiri daripada di kosan Ardi. Karena itu setiap pagi si tempe bacem—begitulah julukan yang diberikan Sena untuk Alika—datang untuk mengambil cucian kotor. Akan tetapi, jika Ardi tidak sedang sibuk, dia sendiri yang akanmengantarkan cuciannya ke tempat kos Alika.
"Gue ngidam ayam cabe ijo, Alika. Malah kau tawarin cumi." Sena menjawab di sela aktifitasnya menghirup lalu mengembuskan asap rokok dari hidung dan mulutnya.
"Kalau mau ayam ngomong dari kemarin po'o, Kak. Jangan dadakan gini, jam segini udah ndak ada ayam di tukang sayur keliling. Kakak harus ke pasar kalau mau beli ayam." Alika bersiap pergi. Kamar dua jejaka bernama Ardi dan Sena sudah rapih. Tinggal mencuci pakaian mereka, beres deh.
"Cumi cabe ijo aja, gimana?"
"Paok, cumi enaknya digoreng pake tepung. Pokoknya gue maunyadimasakin ayammmm." Bayi bercula tengah merengek manja, menarik-narik lengan Alika.
"Cumi aja, cumi," balas Alika sambil menghempas halus tarikan Sena, "cumi cabe ijo bikinan aku ndak kalah enak kok, Kak."
Mata Sena berputar kesal, mulutnya menggerutu, "Orang ngidam ayam, ngotot dikasihnya cumi. b*****h kau!"
"Ya sudah, kalau mau ayam, Kak Sena beli sendiri gih. Nanti aku yang masak," balas Alika akhirnya.
"Masalahnya, gue kalo beli ayam tuh biasanya di kampus, nggak di pasar." Sena mulai membual.
Dasarnya Alika polos, Sena ngelantur seperti apa juga, jatuhnya oncom di kepala Alika.
"Di kampus? Mana ada yang jual ayam potong, Kakak iki ngelindur opo ngowos? palingan juga ayam olahan. Seperti Kentuky."
"Ada, Al. Namanya ayam kampus, Al," goda Sena dengan seringaian penuh arti. Alika hanya menggaruk kepala bingung. "Bah, tak tau kau, Al?"
AlikaPoni ala Dora terguncang oleh gelengan halus saat pemiliknya berpikir sejenak sebelum menjawab, "Oh, Ayam Jago yang ada di depan gedung rektorat itu ya, Kak? Memangnya dijual?"
Tanggapan Alika membuat tekad Sena untuk membenturkan kepalanya ke dinding semakin bulat. Pemuda berambut ikal itu frustrasi sampai jumpalitan. "Kau ini benar-benar, Al. Antara polos sejati atau b**o sejati, gue jadi sanksi. Ayam kampus tuh maksudnya—"
Ardi datang dan menghentikan memotong kalimat Sena dengan wajah garang. "Sen, cukup!"
"Eh, istriku!" sambut Sena yang gegas berdiri untuk memeluk Ardi dengan hangat.
Ardi menghempas perbuatan tidak senonoh itu, lalu membisikan beberapa kalimat ke telinga Sena. Intinya Ardi memberitahu Sena bahwa Alika masih cukup polos, karena itu dia memperingatkan Sena untuk tidak meracuni pikiran Alika. Sena jelas mengangguk patuh pada teman sekamar yang merupakan masa depan pendidikannya. Dengan kata lain, gelar sarjana Sena bergantung sepenuhnya pada otak brilian jenius Ardi.
Kedekatan Ardi dan Alika memang baru berjalan beberapa bulan, tetapi pemuda dengan indeks prestasi tertinggi di angkatannya ini cukup mengenal Alika luar dalam. Itulah alasan yang membuat Ardi resah jika harus membiarkan Sena ngobrol berdua dengan Alika. Ardi khawatir kepolosan Alika yang belum siap menerima obrolan dewasa nan somplak ala Sena, akan terkontaminasi oleh si mahkluk astral bermarga Sianipar.
"Aku balik dulu ya, Kak. Setelah cuci baju aku ke sini lagi buat belajar. Ada tugas perpajakan yang nanti siang harus dikumpulkan, Kak Ardi bantu koreksi sekali lagi ya?" pinta Alika pada Ardi.
Ardi meletakkan ranselnya sambil mengiakan permintaan Alika. Meski lelah karena baru saja kembali dari kampung halamannya, Ardi tetap meluangkan waktu untuk Alika. Sudah menjadi rutinitas Ardi setiap akhir pekan, pulang ke Banyuwangi Jumat malam dan kembali ke Malang Senin pagi. Merupakan salah satu caranya untuk membagi waktu antara keluarga dan kuliah.
Sena bangkit untuk mengais kunci motornya dari atas tele-visi. "Yuk, gue anter, Al. sekalian gue mau ke pasar beli ayam," tawar Sena langsung membuat Ardi menghadang jalannya.
"Jangan!"
"Bah, kenapa pula kau, Ar?" protes Sena sambil menatap Ardi dengan pandangan tidak mengerti.
Alika mengangguk setuju. Dia menatap Ardi yang juga menatap matanya, sebelum pamit pergi.Adik tingkat yang kini menjadi tukang cuci mereka pun mulai berjalan keluar pintu.
"Al, gue anterin, Al. Tungguin!" teriak Sena yang masih terkurung oleh kepungan Ardi.
Alika berhenti lalu menoleh, dan mendapati dua sosok pria—dengan kepribadian 180 derajat bertentangan—sedang menatapnya tajam.
"Jangan pegangan ke pinggang Sena. Jangan bocengan menghadap ke depan, hadap ke samping saja. Dan jangan sesekali lengah oleh rem dadakannya. Sanggup?" Ardi bertanya serius pada Alika.
Sebenarnya Alika ingin tertawa, karena ketika Ardi menjelaskan aturan main tadiekspresi wajah Sena berubah masam. "Bah, apa pula kau, over protektif kali? Macam kau mamaknya Alika," komentar Sena yang terlihat kesal.
Alika meyakinkan Ardi bahwa dia tidak akan pulang bersama Sena dengan mengatakan, "Aku bisa jalan kaki kok, Kak. Tenang aja."
Sena akhirnya mengumpat saat tubuh Alika benar-benar menghilang ditelan titik prespektif. "Kau loak seloak-loaknya, Ar!" maki Sena sambil mendorong bahu Ardi.
"Saya hanya melindungi sesuatu yang sudah seharusnya kita lestarikan." Perkataan Ardi membuat Sena jadi membayangkan bahwa Alika adalah sejenis komodo, langka. "Terlebih saya adalah orang yang membawa Alika ke sini, jadi saya yang bertanggung jawab untuk menjaga dia dari kamu."
Sena terpingkal. Apa tadi Ardi bilang? Melindungi Alika dari dirinya? Bah, ingin rasanya Sena mencium Ardi mentah-mentah. Memangnya Sena ini apa? Gandaruwo atau setan gorong-gorong? Sampai sebegitunya Ardi antisipasi kedekatannya dengan Alika.
"Jujur saja, kau suka Alika, 'kan?" hardik Sena kemudian kepada Ardi. "Kau cinta anak gadis gue, 'kan?"Ardi menghela napas dan menggeleng kepalasamar.Setelah menjadikan dirinya sebagai istri virtual. Kini, Sena mengangkat Alika sebagai anak jadi-jadiannya. Otak pemuda bukan Wiro tapi bener-benar sableng ini mungkinkteramat eseringan dipupuk video begituan, makanya pikiranlobus frontal-nya agak konslet.Sena subur akan kotoran.Ardi berlalu ke kamar mandi tanpa membalas perkataan Sena dengan sepatah kalimat pun.
"Kau bisa bohongi Alika atau orang lain.Kau bahkan bisa bohongi diri kau sendiri, Ar." Sena berkata sambil menguping suara gemericik urin Ardi. "Tapi yakin lah sumpahhh, kau tak akan bisa bohongi Sena Sianipar sang ahli percintaan."
Ardi bukan tidak mendengar perkataan Sena, dia hanya tidak punya sesuatu untuk dikatakan. Perasaaan cinta? Demi apapun Ardi bukanlah pria gegabah yang mudah mengartikan sedikit simpati dan sepercik ketertarikan sebagai sebuah rasa yang disebut cinta.
Apalagi sejak putus dari Nadia, Ardi menjadi semakin kebal terhadap cinta dan wanita. Namun Sena yakin prediksinya seratus persen benar. Baik Ardi maupun Alika, keduanya menunjukkan aura asmara yang kuat. Semua hanya perkara waktu dan Sena telah meramalkan itu.
"Gue akan buktiin bahwa prediksi gue tepat, Ar.”
“Prediksi kamu tidak masuk akal, Sen.”
“Bah," bantah Sena keras, ditepuknya bahu Ardi yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Bagaimana cinta bisa masuk akal, kalau kau terlalu kuat menahannya di hatimu?”