Menunggu Takdir Iba

1303 Words

  Januari 2020   Semenjak pulang dari pelarian, Alika sepenuhnya meng-habiskan waktu di rumah. Memasak, bersih-bersih, dan bermurung diri di kamar merupakan rutinitas hariannya. Pagi ini, saat sibuk mengiris kubis. Mata Alika tiba-tiba berkilau, bulir-bulir bening terjun hikmat ke pipinya.   "Sejak kapan kol sepedas bawang?" tegur Ramdan yang lebih bernada ejekan, kepada putrinya.   Alika cepat-cepat mengusap air matanya dan segera me-nanggapi sang Bapak. "Ahh, Bapak." Alika merengek manja. Ramdan Fahlevi menghampiri putrinya, lalu mengelus rambut Alika dengan lembut. "Bapak ndak pernah tanya, karena Bapak nunggu kamu cerita, Nduk. Sampai kapan kamu simpan sendiri?" Perkataan Ramdan menohok relung hati Alika. Tanpa mampu membendung air matanya,si puteri tunggal memeluk Ramdan dala

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD