Numa merasa sangat tenang meringkuk di d**a bidang Timo. Kepuasan yang menderanya kali ini sungguh sempurna baginya, bisa memberi kesenangan kepada pria yang dia cinta dan di saat yang sama dia pun merasakan kepuasan. “Mamamu sudah pulang?” tanya Timo. “Ya, nggak lama kita teleponan, mama pulang. Mama masih nangis pas pulang.” Timo mengusap-usap bahu polos Numa. “Aku jadi kasihan sama mama, Om,” ujar Numa. Timo mendelik, “Bukannya kamu nggak suka mamamu?” “Ya, aku emang nggak suka dia. Tapi aku tetap saja kasihan liat mama nangis gitu. Aku nggak pernah melihat mama menangis sedih.” “Iyakah?” Numa mengangguk sambil menatap wajah Timo dengan tatapan manjanya. “Kalo berantem sama papamu?” Numa menggeleng. “Nggak pernah nangis kalo papa marahin mama atau sedang berantem sama papa. Wa

