Chapter 19

1202 Words

JEBAKAN Narendra berjalan menghampiri dan meraih tangan Naya. Dia menarik kedua sudut bibirnya sambil menatap mata sang istri yang masih terlihat sembab. Senyum Narendra bagaikan sebuah pemandangan indah yang tersembunyi. Wajahnya yang tanpa mengenakan kacamata justru terlihat lebih menarik. Paras dengan alis tebal, hidung mancung, dan dagu yang terbelah ditopang oleh rahang yang tegas. “Mulai malam ini, kita pakai kamar yang sama,” ucap pria itu malu-malu. Jantung Naya seolah hampir terlepas, berdebar sangat kencang hingga membuatnya sulit bisa berkata-kata. “Ta-tapi, aku … aku belum siap. Maaf,” jawab Naya terbata seraya menarik tangannya. Hati yang telah tersayat-sayat tidak bisa sembuh dalam sekejap. Bukan tidak ingin memaafkan, hanya saja dia masih butuh waktu untuk mengobati luk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD