"Menurut lo, Bintang udah baca suratnya belum?" tanya Yura usai menutup bukunya dan menyimpan di atas meja. Dia menopang dagu, menatap Rembulan dan Pita bergantian yang masih asyik membaca buku di perpustakaan sembari mengerjakan tugas.
Kepala Rembulan mendongak, terlihat berpikir sebelum akhirnya melihat jam dinding yang ada di perpustakaan. "Udah jam istirahat, harusnya sih udah." jawab Rembulan kembali fokus melihat buku di genggamannya.
"Gue penasaran deh sama reaksi Bintang pas baca surat dari lo, Lan. Selama ini, kan, gue yakin sih pasti nggak ada yang ngirim surat-surat kayak gitu. Karena yang gue denger dari anak-anak lain, banyak cewek yang lebih memilih ngirim pesan langsung ke Bintang lewat i********: atau WhatsApp." seru Pita mengalihkan pandangan dari buku ke teman-temannya.
"Ya pastilah, most wanted sekolah mana pernah nggak laku coba. Anak orang kaya pula. Udah paket komplit, siapa yang nggak mau?" balas Yura mendengkus mengingat tak sedikit perempuan yang menganggumi sosok Bintang.
"Lo juga mau dong, Ra?" tanya Rembulan membuat Yura melotot.
"Nggaklah, kan, lo udah suka duluan, Lan." balas Yura lagi membuat fokus Pita sepenuhnya teralihkan pada topik obrolan saat ini.
"Kalau Rembulan nggak suka duluan, lo bakal suka, Ra?" tanya Pita penasaran membuat Rembulan ikut penasaran dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Yura.
Yura terdiam, bola matanya bergerak ke atas terlihat sedang memikirkan sesuatu. Matanya kembali menatap kedua temannya yang masih menunggu jawaban darinya. Yura memilih mengangkat bahunya. "Mungkin?" tanyanya sangsi.
"Dia itu langka, lho. Maksud gue, orang cakep dan tajir di sekolah kita itu cuma bisa dihitung pake jari doang. Plus pinter, tambah poin deh si Bintang. Jadi buah bibir anak-anak satu sekolah. Ya ... salah satu anak kesayangan guru-guru juga sih." ujar Pita yang mendapat anggukan dari Yura dan Rembulan. "Kalian percaya nggak sih kalau Bintang itu satu tempat les sama si Iren?" tanya Pita lagi yang sudah menutup dan menyinpan bukunya ke atas meja.
"Ya ... bisa jadi, Ta. Iren, kan, dari keluarga mampu juga. Mamanya kerja apa gitu lupa, gue nggak sengaja pernah baca di formulirnya Iren pas dikumpul di meja guru. Tapi, setahu gue sih Iren juga orang berada. Tempat lesnya juga pasti mahal, setara sama Bintang." balas Yura yang hanya diangguki oleh Rembulan dan Pita.
"Si Iren tuh kenapa ya berambisi banget pengin ngalahin Rembulan?" tanya Pita geleng-geleng kepala. "Kelihatan banget tahu dari cara dia nggak suka ke Rembulan dan kita-kita. Terus setiap ulangan juga super hectic banget dia. Kayak apa, ya, kayak dia itu harus nempatin posisinya Rembulan. Belum lagi, dia juga caper sama guru-guru biar dapet bonus nilai kali. Padahal, ya, sehat-sehat aja kalau mau bersaing mah." cerocos Pita membuat Rembulan menghela napas gusar.
"Udahlah, Ta. Nggak usah dipikirin yang kayak gitu mah. Bawa-bawa penyakit. Gitu, kan, kata lo?" protes Rembulan membuat Pita menghela napas seraya mengangguk.
"Iya sih, bukan urusan gue. Cuma gue sebel aja sama sikap dia yang seenaknya ke kita. Nggak sopan lagi, kalau ngomong kayak ada banyak cabe di mulutnya. Pedes banget!" cerocos Pita lagi sewot meningat bagaimana sikap Iren kepada teman-temannya, terutama Rembulan.
Yura dan Rembulan terkekeh karena ucapan Pita. Mereka geleng-geleng kepala. Ketika Pita sudah mulai bawel, maka dia benar-benar tak menyukai hal itu.
"Udah, Ta. Sabar." ucap Rembulan menenangkan Pita yang masih sewot.
"Harusnya gue yang bilang gitu ke lo, Lan. Kok malah lo yang nyuruh gue sabar ya?" Pita mendengkus yang dibalas kekehan oleh Yura dan Rembulan.
Setidaknya Rembulan masih bisa tertawa karena kedua temannya yang sampai saat ini masih setia mau berteman dengannya. Mungkin terkadang apa yang orang katakan ada benarnya. Satu teman setia lebih baik daripada seribu teman munafik. Dan saat ini Rembulan benar-benar merasakannya. Rembulan merasakan kesetiaan Yura dan Pita selama ini yang selalu menemaninya, membelanya, membantunya.
***
Pelangi memang selalu berhasil menyita seluruh atensi keluarganya. Pelangi selalu menjadi buah bibir yang dipenuhi pujian menganggumkan karena memiliki fisik yang cantik dan menarik. Pelangi seperti memiliki aura yang bisa menghipnotis siapa saja agar bisa menyukainya. Pelangi selalu bersinar. Setidaknya, itulah yang Rembulan amati.
Entah di sekolah maupun rumah, Pelangi selalu menjadi sorotan orang-orang untuk menarik dibicarakan. Melupakan Pelangi yang mungkin saja bagi mereka tak menarik dan tak asyik.
Pelangi memang lebih mudah bergaul dengan orang lain. Berbeda dengan Rembulan yang sedikit kesulitan beradaptasi dengan orang lain setelah apa yang dia rasakan bertahun-tahun belakangan ini. Rembulan takut untuk bergaul dengan orang lain yang berhasil menyakiti hatinya untuk yang ke sekian kali. Rembulan memang ingin memiliki banyak relasi, tapi untuk saat ini Rembulan harus berpikir banyak untuk melindungi hatinya.
Keluarga yang hadir tengah membicarakan Pelangi. Tentang bagaimana jika seandainya Pelangi jadi artis atau model saja? Lalu, Pelangi akan sukses dan bisa membanggakan keluarga.
Kumpul keluarga hari ini, tepat di hari Minggu bukanlah kegiatan yang setiap minggu direncakan. Hari ini, kebetulan, adik dari Riana sedang menggelar acara tujuh bulanan kandungannya. Sebenarnya Rembulan menolak untuk datang, tapi Riana dan Pelangi memaksa Rembulan untuk datang. Tidak enak apabila Rembulan tidak datang. Begitu katanya. Padahal, ada atau tidaknya Rembulan tidak akan mengubah apa pun. Keluarganya tak akan pernah melihat keberadaan Rembulan. Seluruh atensinya seolah-olah disita habis oleh Pelangi.
Rembulan memang paling malas menghadiri acara-acara keluarga seperti ini. Bukannya apa-apa, hanya saja tidak ada anggota keluarga besarnya yang satu frekuensi dengan Rembulan. Rembulan lebih banyak tidak ada kerjaan ketika kumpul keluarga besar. Dia lebih banyak memainkan ponsel, makan, mengamati sekitar, sesekali menjawab jika diajak ngobrol. Hanya itu saja. Tak banyak berinteraksi dengan keluarga besarnya yang sering kali membuatnya merasa tidak percaya diri.
Terkadang memang benar, ucapan keluarga lebih menyakitkan dan membuat Rembulan merasa kehilangan percaya diri.
"Kamu, tuh, cantik, Pelangi. Ikut casting aja, siapa tahu kamu jadi pemain sinetron. Kan, Tante jadi bangga kalau punya keponakan artis." seru Lala, adik Riana yang sedang mengandung dan menggelar acara tujuh bulanan. "Semoga aja anak Tante mirip cantiknya kayak kamu, Pelangi." ucap Lala lagi yang dibalas seruan dari saudara-saudara lain.
Topiknya masih sama, hanya Pelangi. Rembulan tidak masalah jika Pelangi selalu dipuja-puja. Toh, Pelangi dan Rembulan juga seperti adik-kakak pada umumnya yang tak memiliki masalah meski sesekali beradu argumen. Namun, Rembulan tahu bahwa Pelangi kakak yang baik. Pelangi sering berbagi makanan dengannya, menasihati Rembulan jika Rembulan merasa tidak percaya diri. Karena Rembulan yakin, meski Rembulan tak pernah menceritakan apa yang dirasakannya, tapi sepertinya Pelangi sudah tahu apa yang Rembulan rasakan. Insting seorang kakak membuat Rembulan sadar bahwa Pelangi adalah kakak yang pengertian meski sesekali bertengkar hal kecil saja.
Pelangi juga pandai melemparkan candaan yang berhasil mengundang tawa sanak keluarga. Berbeda dengan Rembulan yang memiliki sifat pemalu dan pendiam. Padahal saat masih kecil, Rembulan adalah gadis periang yang cerewet sekali.
"Atau kamu jadi penyanyi aja, Pelangi. Suara kamu, kan, bagus, tuh." seru Tante Rembulan yang lainnya. Mereka masih asyik berbincang, sedangkan Rembulan memilih untuk menikmati makanan yang disuguhkan.
Sebenarnya Rembulan sudah terbiasa diperlakukan seperti tak diakui keberadaannya. Namun, rasanya tetap saja membuat mood Rembulan buruk. Rembulan malas jika harus ada acara-acara kumpul keluarga yang mengharuskan Rembulan hanya diam saja. Terkadang dia memilih untuk mengajak keponakan-keponakannya yang masih kecil itu bermain untuk menghilangkan kebosanan.
Rembulan ingin pulang, tapi Riana pasti akan kecewa dan marah dengan sikap Rembulan. Rembulan hanya bisa menghela napas, meminum air di gelasnya hingga tandas. Membuka ponsel, membaca pesan-pesan dari grup, membuka i********:, dan menemukan sebuah foto yang melipir di timeline i********: miliknya.
Kedua sudut bibir Rembulan tak kuasa terangkat tatkala melihat Bintang mengunggah sebuah foto. Padahal itu bukan foto wajah Bintang, hanya sepatunya saja. Namun, hanya foto sepatu bisa membuat senyum Rembulan tak lepas dari bibirnya.
Rembulan membaca komentar-komentar di i********: Bintang. Komentar dari beberapa teman-teman cowoknya dan bahkan ada cewek-cewek yang menyapa Bintang.
Rembulan menghela napas, seandinya Rembulan memiliki keberanian seperti perempuan-perempuan yang mengomentari foto Bintang, mungkin Rembulan akan lebih leluasa mengungkapkan kekagumannya.
Rembulan tidak tahu sampai kapan kekagumannya kepada Bintang akan terus ada. Rembulan sudah mencoba untuk tak mengaguminya lagi, tapi orang seperti Bintang adalah sosok idola bagi kaum perempuan. Bintang adalah sosok idola yang menganggumkan dan memesona.
Jemari Rembulan dengan cekatan membuka akun i********: milik Bintang. Tak ada bosan-bosannya meski berkali-kali mengintip akun lelaki itu. Melihat foto-foto unggahan di i********: Bintang yang tak jauh dari alam dan basket.
Seketika Rembulan tersadar dari lamunannya ketika tak sengaja tersenggol oleh keponakannya yang tengah berlarian. Rembulan menghela napas, memecahkan semua memorinya tentang Bintang. Rembulan tak bisa terus-menerus mengagumi seseorang yang mustahil untuk membalasnya. Rembulan ingin menganggumi Bintang sewajarnya. Menjadikan Bintang inspirasi belajar karena Rembulan tahu bahwa Bintang adalah salah satu murid pintar.
Rembulan hanya berharap bahwa dia bisa sesegera mungkin mengikis perasaan kagumnya untuk Bintang. Rembulan ingin hatinya baik-baik saja. Rembulan tak ingin terluka oleh luka yang dibuatnya sendiri.
***