09

1731 Words
9. Tak Terduga Pukul 8.00 malam tepat suara ketukan pintu terdengar di pintu kamar hotel yang di sewa Danish. Pria itu segera menghentikan pikiran sibuknya lalu beranjak dari tidurnya. Berjalan pelan menuju pintu lalu membukanya. Tebakannya benar, Sella, gadis menawan itu sudah berdiri di depan pintu dengan wajah cantiknya. Ekspresinya masih sama, sangat tenang dan tidak merasa bersalah sama sekali. “Masuk!” perintah Danish, setelah memastikan tidak ada orang yang ada yang melihat kedatangan Sella. Gadis itu berjalan, memasuki kamar hotel. Dengan perasaan takut dan ragu. Danish terlebih dulu duduk di tepi ranjang lalu menarik Sella duduk di sampingnya. Aroma itu, bahkan Danish masih hafal dan selalu merindukannya. “Aku ingin berdamai, tapi dengan satu syarat!” ucap Danish mengawali pembicaraan. Melirik gadis cantik yang duduk di sampingnya, masih selalu anggun. “Katakan!” tegas Sella tanpa rasa takut. Muak sekali dengan sikap Danish yang seperti anak kecil. “Apa alasan Kamu lebih memilih Papa dari pada aku?” tanya Danish tak kalah tegas, tanpa rasa takut dia pun ingin sekali mendapatkan jawaban dari Sella, agar tidak bertanya-tanya lagi. Dan mungkin akan membuatnya merelakan Sella untuk di miliki Papanya. “Aku tidak punya alasan!” jawab Sella. “Baiklah, kalau kamu tidak ingin mengatakan alasannya juga, layani aku seperti kamu melayani papa semalam!” ucap Danish santai, dia berjalan menuju pintu untuk menguncinya agar Sella tidak bisa keluar dari kamar itu. “Dasar bocah! Aku ini calon ibu angkatmu bisa tidak kamu jangan main-main sama aku!” bentak Sella, tebakannya benar Danish memang kekanak-kanakan. “Dengar ya!” ujar Danish berjalan ke arah gadis cantik itu. “Sekarang kamu memang calon ibu angkatku! Apa Kamu lupa kita pernah saling mencintai! Kita pernah saling merindukan! Apa Kamu lupa!” Danish meradang ia mencengkeram kuat pergelangan tangan Sella. “Lepaskan!” pinta Sella berontak mencoba melepaskan diri dari Danish. “Katakan! Apa yang membuatmu lebih memilih Papa di bandingkan aku! Sakit tahu enggak!” protes Danish, teriak keras di telinga gadis itu. “Aku tidak suka dengan pria yang lebih muda dan kekanak-kanakan seperti Kamu! Mengerti, aku memilih Papamu karena, dia lebih mengayomi dan stabil, jelas! Sekarang, lepaskan aku dan biarkan aku pergi sekarang juga!” suruh Sella. Perlahan Danish melepaskan cengkeraman tangannya, penjelasan Sella sangat masuk akal. Ya, dia memang tak sedewasa papanya. Sella bernafas lega, tak menyangka alasannya yang penuh kebohongan di percayai Danish begitu saja. Dia bukan wanita bodoh yang tak beragenda, tentu saja dia punya seribu macam cara untuk mendapatkan keinginannya. Perempuan itu, merebut kunci kamar hotel dari jemari Danish dengan kasar. Dia mendorong pria lemah itu lalu berjalan menuju pintu. Meninggalkan Danish sendirian, tidak peduli dengan rasa sakit yang di rasakan mantan pacarnya itu. ** Malam itu juga Danish pulang menuju rumahnya meski sudah larut. Dia terus melajukan mobilnya menuju rumah. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi. Ia segera berjalan menuju teras, pintu depan. Dia memutar kunci, tetapi ternyata pintunya tidak terkunci, tak seperti biasanya. ‘Mungkin Bi Inah lupa mengunci pintu pikirnya,’ pikirnya. Danish masuk lalu menutup pintu, tidak lupa menguncinya. Sekilas dia melirik arloji di tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul 23.33, sudah hampir tengah malam. Pria itu terus berjalan menuju ke ruang tengah, menyusuri ruang tamu yang gelap, kakinya menapak dengan hati-hati. “Dari mana Kamu? Tengah malam baru pulang?” tanya Pak Suryo, melipat kedua tangan di depan d**a. Terlihat sangat marah sudah menunggu putranya dari tadi, seolah ada sesuatu yang mengganggunya. “Ke rumah Doni Pa,” jawab Danish sekenanya lalu berlalu begitu saja meninggalkan papanya. “Tunggu!” cegah Pak Suryo. “Jelaskan ini pada Papa!” pinta Sang Papa tetapi Danish berlalu begitu tidak mengindahkan perintah papanya. Dia masuk ke dalam kamar dan segera mengunci pintu. Ingin istirahat, melupakan semua kesedihannya. Pak Suryo naik ke lantai dua, untuk pertama kalinya setelah tiga bulan tidak pernah menginjakkan kaki di kamar Danish. “Danish,” panggilnya dengan suara berat seperti biasa, sembari mengetuk pintu pelan. Tak ada jawaban dari putranya. “Danish!” panggil Pak Suryo dengan suara lebih keras, memaksa Danish untuk membuka pintu sudah tidak sabar dengan penjelasan putranya itu mengenai foto Sella yang ada di dalam dompet yang Bi Inah temukan. Masih tak ada jawaban. “Danish! Buka pintunya!” teriak Pak Suryo sambil mengetuk pintu lebih keras lagi. Sejenak kemudian. Cklek! Danish dengan wajah lelahnya muncul di balik pintu. “Apa yang membuat Papa datang ke kamarku?” tanya pria itu dengan suara pelan tidak antusias sama sekali. “Jelaskan ini!” tegas Pak Suryo memperlihatkan foto Sella yang ada di dompet, yang kemarin ia buang begitu saja. Danish diam, mencoba mencari alasan yang tepat. “Katakan! Kenapa foto Tante Sella ada di dompetmu!” tanya Pak Suryo tidak sabar. “Danish akan menjelaskan besok pagi Pa, Danish benar-benar ingin istirahat sekarang!” ucap Danish memperlihatkan wajah memelasnya. “Baiklah!” Pak Suryo menuruti keinginan putranya, dia membuang nafas panjang karena kecewa. Ia segera menuruni tangga kembali ke kamarnya. ** Pagi harinya Pak Suryo bangun kesiangan, karena malamnya ia tidur terlalu larut. Betapa marah dirinya mengetahui Danish telah berangkat kerja terlebih dahulu tanpa menunggunya. Dengan berat hati ia meminta sopir kantor untuk menjemputnya. Sepanjang perjalanan ke kantor ia sangat marah dengan sikap Danish yang seolah menghindarinya. Ia yakin anak itu pasti menyimpan sesuatu rahasia besar. Sesampainya di hotel ia segera masuk ke dalam ruangannya. Ternyata Sella sudah ada di sana menantinya. “Pagi, Sayang,” sapanya. “Kamu sudah datang?” tanya Pak Suryo tak bersemangat. Masih memikirkan kecurigaannya tentang foto Sella yang berada di dompet Danish. “Iya, Sayang, tadi aku sempat bertanya pada Danish, dia bilang kamu belum bangun, kamu tidak sakit kan?” tanya Sella, tak biasanya si calon suami bangun kesiangan. “Tidak!” jawabnya ketus. Kemudian, segera duduk di kursi kebanggaannya. Jam menunjukkan pukul 9.00 Pak Suryo tidak bisa fokus dengan tumpukan berkas yang ada di hadapannya. Saat ini juga ia berniat ke ruangan Danish untuk meminta penjelasan. Pak Suryo beranjak dari duduknya. “Sayang, Mau ke mana?” tanya Sella menatap lekat ke arah calon suaminya. “Ada yang ingin aku tanyakan dengan Danish, Kamu bisa ikut, temani aku ke ruangannya,” jawab pria itu. Sella bersedia, mereka berdua berjalan bersebelahan menuju kantor Danish. Pak Suryo, merasa takut akan jawaban yang akan di katakan Danish padanya. ** Di dalam kantornya, Danish dan Doni sedang sibuk dengan laptop masing-masing. Beberapa data harus di periksanya kembali, sebelum menyerahkan perencanaan pembangunan hotel di Semarang. Seorang pelayan wanita, datang ke ruangan Danish. Dia membawa pembersih kaca. Ya, itu dia pelayan baru yang kemarin menumpahkan kopi di kemejanya. Pria itu menatap sinis, tetapi tetap mempersilahkan wanita itu untuk melakukan tugasnya. Kasihan juga melihat wanita muda, dan bekerja sebagai cleaning service. Wanita muda itu mulai melaksanakan tugasnya, dia mulai membersihkan kaca, dengan begitu semangat. “Danish!” panggil Pak Suryo yang sudah berdiri di dekat pintu yang terbuka. Suasana di ruangan itu menjadi tegang. Danish melihat ke arah Papanya yang menatapnya penuh emosi. Jelas! Karena putra semata wayangnya itu, memang sengaja menghindari dan menunda untuk memberikan penjelasan. Begitu pun Doni, yang menghentikan gerakan tangan dan matanya pada layar laptop. Firasat buruknya seolah menjadi nyata. Sepasang anak dan bapak itu akan bertengkar karena seorang wanita. Terakhir, wanita pelayan itu. Dia terkesiap sejenak menghentikan pekerjaannya lalu perlahan, mulai membersihkan kaca lagi, ia harus melaksanakan tugasnya dibandingkan mencampuri urusan yang tidak ada hubungan dengannya. Pak Suryo berjalan mendekat. “Kenapa foto Sella ada di dompetmu! Jelaskan apa uang sebenarnya terjadi antara Kamu dengan Sella!” bentak Pak Suryo dengan suara keras. Sella yang tidak tahu menahu, mengenai hal itu bungkam. Dia hanya berharap Danish tidak mengatakan yang sebenarnya agar semua rencananya yang sudah sejauh ini, tidak hancur sia-sia begitu saja. Danish berjalan mendekati papanya, ingin menjelaskan. Tiba-tiba orang suruhan Pak Suryo datang menghampiri mereka. “Anda harus melihat ini Pak!” ucap pria bertubuh tinggi memberikan sebuah rekaman video di ponsel yang ia bawa. Pak Suryo menerima ponsel itu, lalu ia melihat dengan saksama. Terlihat dengan jelas Sella sedang masuk ke dalam kamar hotel, Danish pun terlihat dalam rekaman itu. Pak Suryo melotot, tidak percaya dengan apa yang sedang disaksikannya. “Apa ini maksudnya Danish! Apa yang kalian lakukan di belakangku?” tanya Pak Suryo meradang. Danish meraih ponsel dari tangan papanya, dia menggelengkan kepala melihat rekaman video itu. Pria itu menelan ludah benar-benar takut, Sang Papa berpikiran yang tidak-tidak dan marah kepadanya. “Aku mohon Papa tidak salah paham, aku dengan Tante Sella benar-benar tidak melakukan apapun,” jelas Danish sudah sangat ketakutan, tetapi berusaha tetap tenang. “Apa buktinya kalau Kamu dan Sella tidak ada hubungan?” tantang Sang Papa percaya diri. Doni yang sedari tadi menyaksikan kemarahan Pak Suryo, ikut menahan nafas. Ini kali pertama baginya menyaksikan ‘Direktur Utama Cakrawala Hotel' marah. “Pertama foto di dompet, kedua video ini! Sekarang apa yang akan Kamu lakukan, coba jelaskan!” perintah Pak Suryo masih sangat marah. Sella sudah was-was, merasa semua rencananya akan berakhir sekarang juga. Danish berbalik, melihat pelayan wanita yang masih berpura-pura sibuk membersihkan kaca. “Sini!” suruhnya dengan suara lembut. Wanita itu menoleh, dengan ragu ia mendekat ke arah Danish yang berusaha agar tetap tenang. Danish melihat wajah pelayan wanita itu, ia melihat name tag yang berada di atas sakunya ‘Keyra Eliana' itu nama gadis itu, sekilas tampak cantik meski hanya seorang cleaning service, dari bentuk tubuhnya dia terlihat seperti wanita yang belum menikah, kulitnya juga putih dan halus. “Papa salah kalau mengira aku punya hubungan Tante Sella, karena Keyra adalah pacarku!” ucap Danish, meyakinkan dengan suara keras dan pandangan mata lurus ke kedua netra papanya. “Kamu kira, Papa sebodoh itu? Bisa kamu bohongi dengan sandiwara recehmu ini!” protes Pak Suryo tersenyum sinis. “Apa buktinya kalau gadis ini, kekasihmu!” tantang Pak Suryo tidak mau kalah. Tanpa pikir panjang, Danish membuka topi yang dikenakan Keyra. Dia meraih belakang kepala gadis itu, lalu ia mendaratkan ciuman di bibir Keyra lama dan dalam mencoba menghayati sandiwaranya. Keyra tak dapat menolak karena lengan kuat Danish yang menguasainya. Dia pun ikut terhanyut dalam ciuman itu. Sella dan Doni yang mengetahui itu semua hanya akting, keduanya menggeleng tak percaya. Namun, berbeda dengan Pak Suryo dan orang suruhannya. Mereka percaya dengan sandiwara Danish. Bersambung. =========== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dreams_dejavu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD