15

1981 Words
15. Rencana Pernikahan. Setelah pulang dari rumah Bu Riani. Pak Suryo mulai mempersiapkan pernikahan dirinya dengan Sella juga pernikahan Danish dengan Keyra. Pak Suryo mulai membuat tim khusus untuk menyiapkan pernikahannya. Pasalnya pernikahan itu sangat jarang terjadi, dimana kedua petinggi ‘Cakrawala Hotel’ ingin melangsungkan pernikahan secara bersamaan. Sehingga untuk pembukaan cabang di Semarang ia mulai menundanya sampai dengan bulan berikutnya. Danish kini ada di ruangannya bersama Doni. Dia terlihat sedikit merenung karena beberapa hal mengenai pernikahannya dengan Keyra. “Kenapa murung?” tanya Doni peduli. “Iya, apa yang Kamu katakan benar Don! Pernikahan bukanlah permainan. Papa sangat berharap dengan pernikahan bohonganku. Bukan Cuma itu, ibunya Keyra juga berharap aku bisa membahagiakannya!” ucapnya terlihat sangat terbebani. “Setidaknya aku sudah mengingatkanmu kemarin! Untuk pekerjaan aku akan membantumu, tapi untuk masalah pribadi aku tidak bisa melakukan banyak hal untuk membantu!” balas Doni. Memahami apa yang dirasakan Danish, tapi dia tidak ingin terlibat. Tahu batasan dari setiap apa yang akan dilakukannya. “Aku hanya harus maju dan tidak menyesali semuanya, ya kan?” Danish butuh pernyataan Dari Doni. “Iya,” jawabnya singkat. Danish kembali duduk, membuka laptop dan sibuk memeriksa hasil kerjanya. Tiba-tiba Sella masuk ke ruangannya. Dia berjalan masuk dengan menatap tajam ke arah Danish. Melihat itu, Doni segera keluar ruangan membiarkan mereka berbicara berdua. “Apa Kamu tidak berniat untuk membatalkan pernikahanmu dengan Keyra?” tanya Sella. “Apa kamu bercanda?” balas Danish tersenyum sinis. “Aku tidak setuju kamu menikah dengan gadis itu!” ucap Sella tegas. “Aku tidak peduli! Apapun anggapanmu aku akan tetap menikahi Keyra, seperti kamu yang tetap berniat menikahi Papaku tanpa peduli sakit hati yang aku rasakan! Mengerti!” tegas Danish menahan emosinya. Sella terdiam, saat ini dia tahu jika tujuan Daniah menikahi Keyra adalah pembalasan terhadap dirinya. Bukan karena mencintai gadis itu. “Mulai sekarang kamu jangan campuri urusanku dan aku tidak akan pernah mencampuri urusanmu kecuali berhubungan dengan kebahagiaan Papaku! Pergi dari sini!” usir Danish. Bukannya pergi Sella melangkah menghampiri Danish. Dia berhenti ketika tepat berada di hadapan pria itu. “Tatap aku!” perintah Sella dengan suara berbisik menggoda. Danish menunduk, melihat ke arah lain. Jika berani jujur, Danish sebenarnya merindukan Sella, tetapi tindakan gadis itu benar-benar melukai hatinya. “Hentikan Tante Sella! Sebentar lagi Kamu akan. Menjadi ibu tiriku! Apa yang akan di katakan orang lain jika melihatmu menggoda calon anak tirimu!” bentak Danish. Ia mendorong pelan tubuh Sella ke belakang. “Jangan jual mahal Kamu Danish! Aku bahkan masih ingat saat kamu memaksa menciumku, di mobil di lift dan di apartemen, jangan munafik! Akui kalau kamu masih mencintaiku!” ucap Sella. “Lantas? Apa yang harus aku lakukan? Menjalani hubungan gelap denganmu di belakang Papaku? Atau membatalkan pernikahan kalian berdua? Kamu jangan gila dan jangan berharap lebih, semua ini karena Kamu yang memulainya,” tuduh Danish emosi. “Pokoknya aku tidak setuju dengan pernikahanmu dengan Keyra!” tegas Sella. “Aku tidak peduli, keluar dari ruanganku sekarang juga!” bentak Danish tangannya menunjuk pintu. Sella diam, sesaat dia menyesal karena menuruti kemauan tantenya. “Apa aku perlu memanggil satpam untuk membuatmu pergi dari ruanganku?” ancam Danish kesal. Melihat Sella yang masih berdiri dan betah di dalam ruangannya. Hening! “Tidak perlu,” jawab Sella. “Jangan lupa besok siang ada foto prewedding!” ucap Sella mengingatkan Danish. Kemudian, ia segera keluar dari ruangan pria itu. Kini Danish sendiri di ruang kerjanya. Enggan sekali kembali melanjutkan pekerjaannya. Kedatangan Sella menggagu suasana hatinya. Akhirnya dia memilih berdiri di dekat kaca. Melihat ke arah bawah menikmati udara uang bertiup, mengembalikan suasana hatinya. Danish mengambil ponselnya, memutuskan untuk menghubungi Keyra. Panggilan telefon tersambung. “Hallo,” sahut Keyra di seberang. “Kamu sedang apa Key?” tanya Danish. “Aku sedang mengerjakan tugas kuliah Mas Danish!” jawab Keyra mulai akrab. “Aku mau memberitahu, besok siang aku akan menjemputmu?” kata Danish. “Ada acara apa Mas Danish?” tanya gadis itu. “Ada pemotretan untuk foto prewedding kita,” jawab Danish. “Baik,” jawab Keyra. “Ok, sampai ketemu besok,” salam dari Danish. “Iya, sampai ketemu besok,” sahut Keyra. Klik! Panggilan telefon berakhir. Bersamaan dengan panggilan berakhir Doni kembali masuk ke ruang kerja. “Siapa yang kamu telefon?” tanya Doni. “Keyra,” jawabnya singkat. Kembali duduk dan membuka layar laptopnya. Berbicara dengan Keyra, meski sebentar bisa merubah suasana hatinya. “Oh,” Doni juga membuka layar ponselnya. Menghubungi beberapa klien yang ada janji dengannya nanti, setelah jam makan siang. Dia yakin betul Danish akan menyuruhnya melakukan semua itu. Karena dia memang selalu seenaknya sendiri. “Btw, untuk apa tadi si iblis itu datang ke sini?” tanya Doni penasaran. “Dia Cuma memberitahu besok siang ada jadwal foto prewedding untuk aku dan Keyra,” jawab Danish jujur. “Oh aku mengerti,” jawab Doni. Bukan hanya hari ini besok pun dia harus menggantikan Danish bertemu beberapa investor yang akan berinvestasi di cabang hotel yang akan di bangun di Semarang. ** Pulang kerja untuk menghindari bertemu dengan Pak Suryo dan Sella, Danish sengaja ingin menemui Keyra. Dia melajukan mobilnya ke tempat kos gadis itu. Tibalah Danish di gang menuju kos Keyra. Dia meraih ponsel yang ada di saku lalu menghubungi gadis itu. Panggilan terhubung. “Hallo,” sapa Keyra yang memang sedang memegang ponselnya. “Key, segera turun aku sudah menunggumu di bawah!” ucap Danish. “Apa? Mas Danish sudah di bawah, kenapa tidak memberitahu dulu kalau mau datang?” protes Keyra. “Iya, maaf tadi aku sibuk, segera turun ya, aku tunggu!” paksa Danish. “Iya,” sahut Keyra. Klik. Panggilan telefon diakhiri. Keyra segera bergegas menuju kamat mandi. Seusai mandi Keyra mengambil baju seadanya, dia secepat mungkin memakainya. Kemudian, gadis itu mematut di depan cermin. Memakai bedak tipis dan mengoleskan lipglos, tersenyum. Dia menyengir, bagaimana pun, kemampuannya bermake-up tak sepandai Tante, Sella. Hah! Keyra menggeleng akhir-akhir ini dia selalu merasa ada yang tidak beres dengan wanita itu. Keyra mengakhiri ritualnya dengan tersenyum, menciptakan rasa percaya diri di dalam hatinya. Cklek! Keyra membuka daun pintu. Kemudian, ia keluar dari kamarnya. Nia, teman sebelah kamar, menghentikan langkahnya. Karena tak biasanya melihat Keyra keluar dari kamarnya. Sebelum jadwal kuliahnya dimulai. “Mau ke mana?” tanya Nia, menatap heran. “Mau keluar sebentar!” jawab Keyra. “Cie, pakai make-up segala, sqma gebetan ya!” goda Nia. Tidak menyangka gadis pemalu dan tertutup seperti Keyra memiliki gebetan. “Hehe,” Keyra hanya menyengir dan berlalu. Gadis itu berjalan cepat menuruni tangga. Kemudian, ia melangkah biasa menuju ke mobil Danish. Dari jauh terlihat pria itu sudah berdiri dan menunggunya di samping mobil. Wajahnya yang tampan dan tersenyum ke arahnya benar-benar membuat Keyra terpesona. ‘Keyra! Hentikan, jangan sampai Kamu menyukainya! Sadarlah Keyra! Danish datang hanya karena butuh bantuan darimu! Bukan karena cinta!” batin Keyra menyadarkan dirinya sendiri. “Ayo masuk,” pinta Danish membuka pintu untuk Keyra lalu dia berjalan mengitari mobil. Duduk di belakang kemudi. Mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Musik pop Indonesia mengalun pelan memecah keheningan di antara mereka. “Kita mau ke mana Mas Danish?” tanya Keyra. “Hari ini Kamu ada kuliah tidak?” Danish balik bertanya. “Tidak ada,” jawab gadis itu jujur. “Baiklah aku akan mengajakmu makan bersama, sekaligus membahas perjanjian pernikahan kita,” jelas Danish. “Baik,” jawab Keyra. Mobil terus melaju, lalu berhenti di sebuah coffea house yaitu kafe untuk para pencinta kopi dengan desain dinding kaca berkonsep indoor yang berada di tepi jalan raya, saat berada di dalam kafe, pengunjung bisa melihat leluasa ke luar. Danish menepikan mobil lalu memarkirkannya. “Bukankah Mas Danish tidak menyukai kopi? Kenapa kita ke sini?” tanya Keyra keheranan. “Mulai hari ini aku akan belajar mencintai kopi,” sahut Danish datar. “Oh,” gumam Keyra pelan. Danish dan Keyra memasuki kafe tersebut. Kemudian, mereka memilih tempat duduk yang dekat dengan jalan. Sehingga tetap dapat melihat keadaan di luar. Keyra memesan capucino dan pasta, sedangkan Danish, memesan chocolate dan pastry yang berlapis - lapis, ringan, renyah dan memiliki tekstur yang berbeda dari roti, sudah lama Danish tidak makan di luar seperti ini. Apalagi ditemani seorang gadis. Pesanan sudah tiba. “Keyra,” panggil Danish. “Iya,” “Aku akan memperjelas mengenai kontrak pernikahan kita, agar Kamu tidak beranggapan buruk padaku atau hanya ingin memanfaatkanmu,” kata Danish sembari menyesap dan menikmati coklat hangatnya. “Baik, Mas,” jawab Keyra. “Kita harus tidur, di satu ruangan, tapi aku pastikan aku tidak akan macam-macam denganmu!” tegas Danish. “Siap!” jawabnya. “Selanjutnya, kita harus mesra saat di depan Papa, atau pun di tempat umum dan di hotel! Mengerti!” jelas Danish. “Iya, paham,” sahutnya. “Dan kontrak kita akan berakhir, setelah satu tahun pernikahan kita,” Danish mengucapkannya dengan jelas. “Iya, aku mengerti,” jawab Keyra. “Tepat satu tahun, kita akan bercerai dan kita akan kembali menjalani hidup masing-masing, aku akan membayarmu sesuai jumlah yang kamu inginkan, jelas!” kata Danish. “Jelas,” Keyra terus memakan pastanya, lapar tentunya. Terus mengunyah sampai makanannya habis. Sesekali ia melirik ke arah Danish. Pria yang tidak mudah di acuhkan begitu pikirnya. Seusai makan mereka ingin pulang. Namun, hujan tiba-tiba turun dengan begitu derasnya. “Kita tunggu hujan reda? Atau kita berlari ke mobil?” tanya Danish. “Kita tunggu dulu sebentar, tak apa kan?” tanya Keyra yang masih ingin berdua dengan pria tampan itu. “Baiklah, kita tunggu lima belas menit,” sahut Danish. Mereka berdua melihat air yang jatuh dengan begitu deras. Hari pun sudah mulai gelap karena mendung dan sudah mulai malam. Lima belas menit berlalu dan hanya ada keheningan di antara keduanya. Hujan pun tak ada tanda-tanda ingin berhenti. “Kita ke tempat parkir sekarang?” tanya Danish sembari melihat Keyra. “Okay, siapa takut!” jawabnya yakin. Danish berjalan terlebih dahulu, dan Keyra mengekor di belakangnya. Semua pengunjung melihat ke arah Danish, pria itu memang memiliki aura yang kuat tidak mudah di acuhkan, dan kali ini hal itu semakin nyata. Keyra melihat ke arah orang-orang yang tak berkedip menatap Danish. Sesaat dia merasa bangga, karena pria itu calon suaminya. Meski hanya dalam pernikahan sandiwara. Mereka berdua berdiri di depan pintu keluar. Keyra sudah siap untuk berlari. “Sebentar!” cegah Danish. Pria itu membuka jas yang ia kenakan. Kemudian, Danish membentangkan kain tebal itu dengan kedua tangannya. Keyra hanya mengamatinya saja. “Sini mendekat,” suruh Danish. Keyra mendekat, untuk pertama kalinya ia sedekat ini dengan seorang pria. “Lebih dekat lagi,” suruh Danish merengkuh Keyra agar berteduh di jasnya. Keyra, mengangguk. Jantungnya berdetak sangat kencang, berada sedekat itu dengan Danish. Pundaknya menempel pada d**a kekar milik Danish. “Dalam hitungan ketiga kita lari bersama!” perintah Danish. “Iya,” “Satu! Dua! Tiga! Lariii!” teriak Danish kemudian mereka berdua lari bersama. Detak jantung Keyra tidak berubah normal, dalam keadaan basah dan dekat dengan Danish seperti itu, detak jantungnya berpacu lebih cepat. Keyra masuk mobil terlebih dahulu baru Danish. Pria itu melempar jasnya ke kursi belakang begitu saja. Kemudian, dia menghidupkan mobil. Ingin mengantar Keyra ke kosnya. Keyra, yang merasa dingin memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangannya. Kaus putihnya yang basah menampakkan baju dalam yang berwarna gelap. Membuat Keyra tidak percaya diri duduk di sebelah Danish. “Apa kamu kedinginan?” tanya Danish. Keyra menyengir dan menggelengkan kepala. Suasana kembali hening, dan hanya suara nafas mereka yang terdengar. Sesekali, Danish mencuri pandang ke arah Keyra yang bersikap bungkam tak seperti biasnya. Sampailah Danish di gang tempat kos Keyra. Tepat di jalan masuk gang itu ada warung. Beberapa pemuda sedang nongkrong di sana. “Sampai, ketemu besok di pemotretan Mas Danish! Aku turun sekarang!” pamit Keyra. “Tunggu,” cegah Danish. Pria itu mengambil kembali jasnya di kursi belakang. Keyra diam dan berpikir. “Pakai ini, aku tidak ingin mereka melihatnya!” perintah Danish. Alis Keyra naik, menatap pria itu penuh tanya. “Warnanya hitamkan! Aku tidak ingin ada orang lain yang melihatnya!” ucap Danish datar. “Bukan hitam tapi navy!” jawab Keyra kesal sambil manyun. Tidak menyangka pria itu memperhatikan warna Branya. Ia mengenakan jas hitam Danish kemudian keluar dari mobil. Bersambung. =========== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dreams_dejavu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD