Bab 8

1135 Words
[Nadia POV] Selesai sarapan kami berangkat kerumah sakit untuk memulai pemrograman bayi tabung. Berasa jadi obat nyamuk melihat Dev dan intan didepan duduk bersama sedangkan aku seorang diri di jok belakang. "Bisakah dia tidak bertingkah?" Tanyaku pelan melihat intan yang bergelayut manja. Intan terus memegangi lengan Dev yang menyetir mobil, "Dev lihat taman festival sepertinya lagi banyak dikunjungi ya? Aku lihat banyak teman-temanku memposting foto Difestival." Intan menunjukan smartphonenya yang berisi foto beberapa orang ditaman festival. Aku memanyunkan bibirku melihat mereka berdua. Kenapa aku bisa terjebak disini ya argh geram sekali melihat mereka berdua. "Dev selesai konsultasi bagaimana kalau kita ke taman festival pasti seru iya kan nad?" Aku menatap malas pada Intan bisa-bisanya dia tiba-tiba bertanya padaku, "Ah.. entahlah." Sekarang aja udah malas satu mobil apalagi kalau harus bermain bersama yang ada aku hanya jadi fotografer pribadi. Uhuhuhu nasib jomblo gini amat ya didepan mantan pula. "Ayo Dev ya ... Mau kan? Mau??..." Intan terus merengek manja pada Dev. Apa semua wanita seperti itu ya pada kekasihnya? Kenapa aku gak pernah melakukannya? hahahha sepertinya aku terlalu arogan untuk meminta sesuatu pada Dev. Dev tampak serius menyetir mobil sebelum dia menjawab, "Baiklah selesai dari rumah sakit kita akan ke taman festival." Dev membelokan setirnya menuju rumah sakit besar. Tertera tulisan pada bangunan itu RSUP Sanglah. Dev membawa kami kerumah sakit terbesar yang terkenal di daerah Denpasar Bali. Aku berjalan mengikuti Dev dari belakang. Ya berjalan menatap mesranya Intan memegangi lengan Dev. Aku berjalan agak jauh dari Dev yang sedang berbicara dengan salah satu suster. "Tunggu sebentar dokternya belum sampai," kata Dev seraya duduk dikursi tunggu. Aku dan Intan juga duduk bersama dikursi tunggu. Aku terkikik melihat anak laki-laki berlari padahal ibunya dari belakang terus memanggilnya agar tidak berlari. Jika saja dulu aku hamil dan melahirkan bagaimana nasib ku saat ini? Dev mendapatkan telpon dia berdiri seraya mengangkat panggilannya, "Ayo ikut dia udah datang." Dev mengajak kami berjalan beberapa langkah sampai masuk kedalam ruangan. "Selamat pagi pak Dev," sapa dokter sambil berjabat tangan dengan Dev. "Pagi juga dok," jawab Dev dengan senyuman. Aku dari duduk dibelakang sambil melihat Dev dan Intan berkonsultasi dengan dokter. "Jadi kalian ingin melaksanakan program bayi tabung?" Tanya dokter. Intan menganggukan kepalanya, "Iya dok." Dokter itu menganggukan kepalanya mengerti, "Tapi kalian sebelumnya tau prosedur hukumnya dan prosesnya kan? Karena tidak semua orang boleh melakukannya." Dev menjawab, "Iya dok kami sudah mempelajari semuanya." "Baiklah tapi sebelum itu kami butuh penelitian mengenai sel telur dan spermanya terlebih dahulu baru kami bisa melanjutkan prosesnya." Intan terlihat senang, "Baik dok saya tidak menyangka kalau prosesnya akan secepat itu." Dokter menganggukkan kepalanya, "Sebelum itu kami akan mengecek ibu yang siap memberikan rahimnya dan kami juga harus mengetahui data beliau terlebih dahulu." Dev menganggukan kepalanya mengerti, "Nad kemarilah." Suster yang ada disamping dokter tadi menyediakan kursi untukku. "Pagi dok," sapa ku sopan. "Pagi sebelumnya saya harus panggil apa ya? Ibu? Mbak atau kakak? Hehe." Dokter terkikik melihat ku. "Ah.. panggil siapa aja deh dok boleh Nadia nama saya." Aku juga bingung mau jawab apa. "Baik sebelum itu kami akan mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan dengan pemrogramannya ya.." Dokter menyiapkan dokumen yang sudah yang akan diisi olehnya. "Mbak umurnya berapa?" "26 tahun dok." "Masih muda ya mbak, mbak sendiri statusnya udah nikah atau belum?" "Belum dok." "Mbak sebelumnya pernah hamil atau melakukan hubungan intim?" Pertanyaan spontan itu membuatku kebingungan untuk menjawab bahkan Dev juga terkejut. Sementara Intan begitu antusias. Aku berpikir untuk menjawab, "Dok boleh bicaranya secara pribadi?" Intan pasti menganggap aku mengusirnya secara alus. Tapi aku tetap ingin menjaga privasiku sendiri. "Dev aku keluar dulu ya mau kekamar mandi." Intan yangemgerti maksudku dia melangkah keluar ruangan. "Mbak pernah mengalami keguguran atau belum pernah hamil?" Dev yang masih duduk ditempatnya menantikan jawaban dariku. "Dok bisa kita bicara secara pribadi? Berdua?" Tanyaku menekankan kata terakhir. Jantungku bergemuruh kencang tidak beraturan. Dev akhirnya melangkah keluar tanpa sepatah katapun. Suster yang tadi menemani dokter duduk disampingku. "Mbak saya cek tekanan darahnya?" Tanya suster itu seraya memegang lenganku untuk dipasangkan alat pengecek tekanan darah. Dokter mulai menatapku curiga jujur iya aku merasa takut untuk menjawab. "Mbak jangan takut ya gapapa cerita aja sama saya. Saya butuh data ini untuk meneliti sel telurnya mbak. Saya akan jaga baik-baik rahasianya." Dokter berusaha menenangkan diriku yang penuh ketakutan dan dalam keadaan tegang. "Tarik nafasnya mbak diatur tarik hembuskan," titah suster padaku untuk membuatku dalam keadaan tenang. "Baik saya mulai lagi ya pertanyaannya?" Tanah dokter saat aku sudah dalam keadaan lebih tenang. "Mbak sebelumnya pernah melakukan hubungan intim?" "Pernah dok." Dokter itu kemudian menulis didokumen yang dia pegang, ""Pernah hamil atau tidak?" "Pernah dok tapi keguguran." Dokter tersentak mendengar jawabanku, "Boleh diceritakan kronologisnya apakah ada penyebab khususnya?" Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak dok sepertinya itu bisa digolongkan kecelakaan." "Bagaimana kronologis kejadiannya mbak?" Aku menghembuskan nafas ku sesak, "Saat itu saya sedang olahraga lari. Keliling lapangan yang luas 2,25 kilometer persegi. Saya berlari tanpa istirahat hingga akhirnya saya kelelahan kemudian mata saya kunang-kunang terjatuh dan tidak sadarkan diri." Sejenak aku berhenti sebelum melanjutkan ceritanya, "Setelah itu saya dibawa ke klinik kebetulan saat itu saya bersama teman saya dan dia mengatakan pada saya bahwa saya mengalami keguguran." "Kurang lebih seperti itu ceritanya," sanbungku mengakhir cerita. Dokter menganggukkan kepalanya mengerti, "Setelah kejadian itu apa mbak mengalami sakit nyeri berkelanjutan pada bagian intim? Atau perut bagian bawah?" Aku menggelengkan kepalaku,"Tidak ada dok." "Suster berapa tekanan darahnya?" "Normal dok. Tekanan darah dan jantung semua dalam keadaan stabil." "Sebelumya mbak apa punya riwayat penyakit? Seperti jantung atau lainnya?" Aku lagi-lagi menggelengkan kepalaku, "Tidak dok tapi ibu saya punya riwayat penyakit jantung." Aku menjawab demikian siapa tau itu mempengaruhi diriku. Dokter menganggukkan kepalanya mengerti, "Data sudah kami simpan selanjutnya kami akan menyuntik mbak fungsinya untuk mempercepat pertumbuhan hormon dan sel telur ya mbak." Aku menganggukan kepalaku seraya berdiri mengikuti dokter. Untungnya dokter ini perempuan aku jadi nyaman dan aman berada didekatnya. "Posisinya kesamping ya mbak," kata dokter mengarahkan posisi tidurku. Dokter mulai menyuntik pada bagian bokongku. "Baik sudah selesai, setelah ini mbak akan dapat beberapa vitamin untuk menjaga kesehatan dan pola makan ya mbak agar semua tetap berjalan lancar dan normal. Jika mbak mengalami gejala mual tidak nyaman diperut atau lambung segera hubungi kami ya mbak takutnya ada komplikasi." Aku hanya menganggukan kepalaku padahal semua masuk kiri keluar kiri dari telinga tidak ada yang masuk omongan dokter. Dev beberapa saat kemudian masuk. "Mari pak ikut saya." Dokter menuntun Dev untuk pengambilan sel s****a untuk diteliti terlebih dahulu. "Setelah 2 sampai 3 hari saya akan menghubungi bapak untuk hasilnya." Kata dokter memberikan vitamin pada Dev. Dev menyelesaikan pembayarannya sebelum kami keluar. "Apa yang tadi kamu jawab?" Tanya Dev berbisik pelan didekat pintu. Ternyata Dev penasaran dengan jawabanku yang tadi. Aku menatap manik-manik Dev baru pertama kali aku berani menatap Dev langsung hanya untuk mencari sebuah kebenaran. Aku tersenyum kecil, "Lain kali aku akan cerita," jawabku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD