Bab 6

1622 Words
SEBELUMNYA, Lagas yakin dia sudah pernah bertemu dengan orang paling menyebalkan di muka bumi, namun sekarang ketika dia melihat Judy, Lagas salah besar. Belum pernah ada seorang pun yang bisa mengalahkan level menyebalkan seorang Raden Ajeng Judyrastika. Seperti saat ini. Lagas membawanya ke Ruang Kejujuran dan perempuan tak tahu aturan itu malah menumpangkan kakinya di sandaran sofa, sementara kedua tangannya sibuk memainkan ponsel. Mulutnya pun tak kalah sibuk, mengunyah permen karet dan kepalanya mengangguk-angguk sesuai irama lagu. Keterlaluan. “Dy…," panggilam temannya, Lema, tidak Judy hiraukan. Malah, Judy semakin giat menganggukan kepalanya, kini matanya terpejam seolah tidak ingin diganggu. Kesabaran Lagas habis. Lagas berdiri dari sofa dan mencabut earphone Judy. Lantas perempuan itu memekik kaget. Mata yang sama tajamnya dengan milik Lagas itu menatap tak suka. “Masalah lo apa, sih?” tanya Judy sewot. Lah? Harusnya gue yang nanya gitu, decak Lagas dalam hatinya. Sementara Lema syok menyaksikan hal ini, berharap segera pulang sekarang juga. Atau setidaknya, kembali ke kamar asramanya yang nyaman dan dingin. “Gue bawa lo ke sini bukan buat lo santai-santai,” ketus Lagas. “Kenapa pergi tanpa izin?” Judy semakin marah. “Emang enak menurut lo, kalo gue izin dengan alasan ‘panggilan alam’? Kalo lo jadi gue, lo bisa izin? Hah?!” Lagas sejenak membulatkan matanya, kemudian tawanya berderai. Judy dan Lema bengong melihat reaksi tak terduga dari lagas. Apalagi ketika Lagas tertawa, rasanya ada pribadi yang berbeda. Yang tidak mencerminkan Lagas. Dan tawa itu hilang secepat dia datang. “Tetap aja lo kabur dan menyalahkan aturan,” tegas laki-laki itu dengan tangan bersedekap. Oh, mau ngajak berantem lagi, ya? Siapa bilang Judy takut? Lagas mengantisipasi tindakan Judy selanjutnya. Benar saja, Judy langsung berdiri dan mengangkat dagunya untuk mengintimidasi Lagas. Sekarang, Lagas tahu tak-tik Judy membuat lawan bicaranya tidak berkutik. “Mau lo apa?” tantang Judy. “Mau gue apa?” kali ini, Lagas membentuk senyuman. Senyuman licik. “Lo harus minta maaf ke semua pengurus acara Pertukaran Pelajar. Dan sertakan alasan. Enggak boleh bohong.” Wajah Judy pias. Sesaat, dia hanya termenung, memikirkan sesuatu. Kemudian dia tersenyum sangat tipis. "Oke," ucapnya santai. Loh, kok perasaan Lagas jadi enggak enak? “SEMUA yang ada disini, gue MINTA MAAF karena KABUR ke TOILET untuk BERAAAK,” ucap Judy lantang di ruangan khusus panitia. Pasalnya, Judy mengucapkannya ketika mereka sedang makan. Dan ini momen yang sangat pas untuk ‘membalas’ Lagas dengan anggun. Lihat saja sekarang. Semua orang tampak ingin muntah dan tidak bernafsu makan lagi ketika Judy mengatakannya. Dan… final touch. “Udah gue bilang tuh, Biogas, gue balik ke kelas dulu, ya.” Yay. Semua orang melihat ke arah Lagas dengan tatapan benci. Judy tertawa dalam hati. Tentu saja kesenangan kecilnya lantas sirna ketika dia sampai di kelasnya dan Lema mulai mengomel betapa kacaunya cara bertahan hidup seorang Judy. "Ini tuh namanya siapa yang mengaum lebih keras, dia yang menang. Ya udah, dia maunya begitu, gue punya tak-tik," kata Judy dengan senyum cemerlangnya. "Sana balik ke kelas lo! Sebentar lagi bel." Dengan wajah masih tak terima, Lema pun kembali ke kelas. Meninggalkan Judy seorang diri. Judy langsung menarik earphone dan ponselnya, kemudian mengabaikan dunia begitu saja. Bukannya Judy tidak mau bergaul dengan teman di kelasnya. Dia hanya mau menghindari drama sekolah ini sampai enam bulan ke depan. Ya, enam bulan. Dia di sini selama enam bulan. Pikir Judy, Pertukaran Pelajar ini hanyalah sebuah permainan. Namun Judy salah. Banyak orang berlomba-lomba mendapat sertifikat sebagai siswa enam bulan bersekolah di SMA Impian Indonesia. Setelah Judy mencuri dengar pada percakapan siswi-siswi biang gosip, sekolah berasrama ini memang terkenal dengan prestise dan kehebatannya. Bagaimana tidak? Sekolah ini selalu menyabet piala juara di bidang akademik dan non akademik. Bahkan sampai ke jenjang internasional. Tidak hanya itu saja. Sekolah ini pun sangat elite, entah itu dari infrastrukturnya, atau cara mengajar guru-gurunya. Judy sampai tak habis pikir ketika kertas coret-coretan yang diberikan pun dibuat dari kertas bagus. Tentu saja masuk ke sekolah ini tidak mudah. Siswa yang diterima hanyalah siswa-siswa yang lolos tes masuk. Tidak perlu NEM SMP, karena memang kurikukulum sekolah pun berbeda. Selain itu pula, tidak diperbolehkan ada murid pindahan dari sekolah lain. Yang pindah dari sekolah ini malah banyak. Entah karena stress atau tidak memenuhi standar sekolah. Satu-satunya cara untuk mencecap sedikit kenikmatan di sekolah ini hanyalah jalur Pertukaran Pelajar. Dan Judy, entah beruntung atau tidak, lolos tes Pertukaran Pelajar yang memusingkan itu, dan sekarang duduk di salah satu bangku SMA Impian Indonesia. Wow. Ketika guru masuk, lamunan Judy buyar. Dia menarik earphonenya ke dalam laci meja, kemudian bersikap duduk sempurna. Mau bagaimana pun, pada orang tua, Judy masih tetap harus bersikap hormat. Dan pelajaran demi pelajaran melelahkan pun dimulai. LAGAS menghempaskan dirinya di kursi kelas. Helaan napas otomatis keluar, menandakan bahwa laki-laki berumur delapan belas itu penat akan sesuatu. Tentu saja penat. Tidak ada yang baik-baik saja bila sudah berurusan dengan makhluk semacam Judy. Baru pertama kali Lagas bertemu spesies seperti ini. Acara Pertukaran Pelajar untuk sementara diselingi dengan jam belajar mengajar. Maka dari itu baik peserta 2P dan pengurusnya, mereka kembali ke kelas masing-masing. Bagi peserta 2P, ini kesempatan untuk berkenalan dengan anak-anak lain di kelas. Bagi pengurus, ini menjadi waktu istirahat yang sangat berharga. Maka dari itu, Lagas hanya ingin sendiri. Namun, tentu saja, semua orang tidak membiarkan Lagas tenang sedikit pun. Guru kali ini terlambat datang. Dan memang jam ini selalu nyaris tidak pernah datang. Bagi Lagas itu musibah karena banyak pertanyaan dari teman sekelasnya. “Tadi ada insiden, kan? Ada cewek yang ngaku kalo dia kabur?” cecar Reyno langsung dengan cengiran di wajahnya. Tiap topik perempuan, laki-laki berambut cepak itu memang yang paling jagonya. “Dan lo dipanggil Biogas? Astaga, cewek macem apa yang berani manggil lo begitu?” “Cewek? Orang utan kali,” ungkap Lagas jengkel. Dia menarik tumbler dari tasnya dan menegak isinya penuh suka cita. Tak lama, Zidan, teman sebangku Lagas, datang dengan wajah sama penasarannya. Zidan selalu seperti itu. Penasaran dengan hal-hal berbau sensasi. “Gimana? Seru?” tanya Zidan super penasaran. “Ceweknya emang yang mana? Kelas berapa? Sejurusan sama kita?” “Sejurusan, dong!” cengir Reyno. “Cakep, lho.” “Seriusan?” tanya Zidan, kali ini matanya berbinar-binar seolah menemukan mangsa baru untuk tahun ini. Ah, Zidan, masih saja bermain perempuan. Tidak ada habisnya. Lagas mendengus. “Cakepan juga orang utan.” Reyno langsung curiga. “Jangan-jangan alasan lo enggak pacaran adalah karena lo sukanya orang utan, Gas? Lho, tadi lo bilang cewek itu orang utan. Artinya lo suka dia?” Zidan terbahak. “Wah, Lagas sudah besar.” “Gue enggak suka! Apaan, sih, enggak jelas,” kali ini Lagas semakin gahar. Maka dari itu, Zidan dan Reyno tidak mau mengganggu lagi. Mereka akhirnya mengajak Lagas mengobrol hal lain. Kalau bisa, Lagas ingin seperti Zidan dan Reyno yang tidak perlu repot-repot mengurus siswa-siswi Pertukaran Pelajar yang bodoh dan menyusahkan itu. Tapi, meskipun nilainya cemerlang dan sikapnya baik, tetap saja dia harus mengurus mereka. Terancam akan banyak hal? Tentu saja. Dan orang-orang merepotkan seperti Judy membuat Lagas ingin mencincang-cincang badannya. Karena untuk ada di sekolah ini, tidak hanya membutuhkan otak yang pintar. Namun uang yang bisa dibilang tidak sedikit. Zidan dan Reyno tidak perlu memikirkan itu. Mereka hanya butuh belajar. Lagas beda. Beasiswa yang harus ia pertahankan. Salah satu caranya adalah menjadi pengurus acara ini. Menyenangkan? Tentu saja. HARUS Judy akui, mental anak di sekolah ini jauh berbeda dengan sekolahnya. Segitu sekolah Judy sudah termasuk favorit. Dan menurut dirinya yang angkuh begini saja, Judy mengaku standar sekolah ini memang berbeda. Dari cara gurunya mengajar. Anak-anaknya. Semuanya... berbeda. Lebih kalem, terutama. Setelah ini adalah jam istirahat dan jam istirahat bagi siswa-siswi 2P adalah waktu yang paling ingin dihindari. Bagaimana tidak? Ketika lapangan mulai panas oleh matahari pukul sepuluh pagi, mereka diminta berkumpul untuk mendengarkan sepatah dua kata dari bapak kepala sekolah. Tadi siang saja, menurut teman seperjuangan yang merasakan apel, bapak kepala sekolah berpidato nyaris satu jam. Kalau jam belajar tidak dimulai, mungkin dia tidak akan berhenti mengoceh. Judy tidak tahu lagi bagaimana nasib perutnya bila harus menahan 'panggilan alam' hingga berjam-jam. Uh, menyebalkan. Tapi mau tidak mau, ya harus mau berkumpul di lapangan. "Dyyy," teriakan Lema dari ujung lapangan yang lain membuat Judy lantas melambaikan tangan. Setidaknya, di sini dia memiliki teman satu sekolah. Ah, bukan hanya teman. Mereka bahkan lebih dibanding sahabat. Sejak masih memakai popok, mungkin Judy dan Lema sudah mulai bersahabat. "Hai!" sapa Judy seraya berbaris mengikuti yang lain, begitupun Lema. Seperti biasa, Lema mulai bercerita. Tentu saja ceritanya tidak jauh-jauh dari laki-laki. Mungkin, dibanding karate, Lema lebih jago membicarakan spesies jantan. "Di kelas gue ada yang ganteng!" Tuh, kan. "Namanya?" tanya Judy dengan senyum geli. Mata Lema masih berbinar-binar. "Kalo gue kasih tau, enggak rame, dong!" "Udahlah, jangan pindah ke lain hati. Nanti Sergy ngamuk, gue yang kena." Lema cemberut. Ah, pasti berantem lagi dengan Sergy. Mereka ini sudah seperti orang yang pacaran saja. "Tapi–" "Berbaris yang benar." Sebelum sempat Lema menyelesaikan ucapannya, laki-laki berperawakan tinggi memotongnya. Kontan Judy dan Lema serempak menoleh asal suara. Reaksi berbeda. Lema menatap ngeri Lagas, sementara Judy menyipitkan mata dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Lagas ikut menyipitkan mata. "Baris, yang benar." "Iya, iya, bawel!" Setelah itu, Lagas meninggalkan Lema dan Judy, menghilang di antara barisan siswa Pertukaran Pelajar. Lema mengembuskan napas lega, sementara Judy mendengus melihat keangkuhan Lagas. Laki-laki itu maunya apa, sih? Tak lama kemudian, suasana mulai hening. Upacara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pidato kepala sekolah yang menurut Judy terlalu bertele-tele dan tidak penting. Kemudian dilanjutkan dengan do'a bersama. Judy tahu ini belum berakhir. Malah, ini hanyalah sebuah awal dari rentetan acara melelahkan bagi siswa Pertukaran Pelajar. Bagi pengurusnya, Pertukaran Pelajar adalah sebuah perpeloncoan yang terlambat. Dan siapa bilang Judy mau semudah itu mengikuti aturan yang mereka buat?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD