"Dalam awal dan akhir, selalu ada cerita di dalamnya. Aku hanya berharap, dalam ceritamu, aku muncul, meski hanya satu kata."
(Semoga Judy Enggak Bandel Lagi)
PAGI selalu menjadi waktu yang terbaik bagi Judy. Ah, bukan bagi Judy, tapi bagi orang-orang di sekitarnya. Karena hanya pada pagi hari, Judy jujur terhadap perasaannya sendiri.
Seperti pagi ini. Ketika bangun dari tidur, Judy langsung mendorong-dorong badan Lema.
"Le... maafin gue, Le! Iya, gue yang salah. Tapi, lo jangan diemin gue kayak gini. Gue janji, gue bakal ikutin tuh acara Pertukaran Pelajar, asalkan lo mau ngomong lagi sama gue," karena Lema masih saja diam, Judy langsung terisak, nangis. Padahal Lema diam karena dia masih di alam mimpi. "LEEE, MAAFIN GUE, HUHUHUHU."
Suara Judy yang menggelegar membuat mata Lema membuka, kaget. Lema menoleh ke arah Judy. Di sana, sahabat sejak kecilnya sudah duduk sila, nangis beneran. Kedua tangannya mencengkram selimut Lema. Pipi Judy memerah.
Ya ampun.
"Jud, kenapa, Jud?!" tanya Lema panik sendiri.
Judy masih saja terisak.
"Jud, lo enggak kenapa-kenapa, kan?!"
"Leeee."
"Iya, kenapa?"
"Leeee."
"WOI, ET DAH," Lema mulai tidak sabar. "Kenapa, Raden Ajeng Judyrastika-ku yang kusayang?"
"Leeee... gue jadi kebelet pup...."
Lema tepok jidat. Harusnya dia sudah menduga.
"Ya udah sana, pup dulu, terus ngomong," oceh Lema.
Judy menggeleng. Dia harus mengatakannya sekarang juga. "Gue m-m-min–"
"Kenapa sih?"
"Minthhha mhaaf!" seru Judy dengan wajah memerah. Dia jarang sekali meminta maaf, apalagi sama sahabatnya sendiri.
Lema mengerjap. Kemudian tawanya mengurai bebas. Dia menepuk-nepuk puncak kepala Judy seolah temannya itu adiknya.
"Iya, gue maafin. Sana, pup dulu," oceh Lema, membuat Judy mengangguk pelan dan beringsut menuju kamar mandi.
Lema tersenyum kecil melihat Judy. Entah kenapa, Lema tahu, kalau sekolah ini bisa mengubah perangai Judy. Bukan hanya perangai, tapi garis ceritanya.
LAGAS sedang mengeringkan rambutnya ketika Zidan bangun dari tidur dengan wajah senyum-senyum sendiri. Tentu saja melihat Zidan seperti itu adalah hal aneh bagi Lagas. Teman sekamarnya itu tidak pernah hiperaktif sepagi ini. Ya, paling, kalau sudah siang, hiperaktifnya baru kumat.
Lagas mengambil dasi dari nakas tempat tidurnya, kemudian bertanya sambil memasang dasi tersebut. "Kenapa lo?"
Zidan masih saja memandang langit-langit tempat tidur sambil tersenyum cemerlang. Lagas jadi takut. Jangan-jangan Zidan kerasukan?
"Enggak apa-apa... cuman," Zidan kini melirik ke arah Lagas. "Judy emang orangnya unik ya, Biogas?"
Kali ini Lagas melotot. "Enak aja lo manggil gue Biogas!"
Mendengar itu, Zidan malah cemberut. "Yah... jangan-jangan yang boleh manggil lo 'Biogas' cuma Judy. Yah, gue keduluan. Yah...."
"Cewek mulu pikiran lo," Lagas mendamprat wajah Zidan dengan handuk laki-laki itu. "Mandi sana. Hari ini lo kan ada ulangan harian di jam pertama. Jangan sampe telat sarapan."
Zidan terkekeh. "Udah kayak emak gue aja lo, Gas. Cekatan dan penuh perhatian."
"Geli!"
Zidan beringsut dari tempat tidurnya. Langkahnya terseret-seret saking malasnya. Sungguh, sifat Zidan sangat berbanding terbalik dengan Lagas. Tidak heran mereka bisa menjadi teman sekamar. Katanya yang berbeda sifat pertemanannya lebih klop.
Hari ini adalah hari terakhir penyiksaan–Pertukaran Pelajar, maksud Lagas. Setelah acara ini, peserta 2P nantinya akan belajar selama enam bulan di sini. Setelah ini, semuanya bukan lagi tanggungan Lagas. Yang dia perlukan hanyalah lebih dari 70% tanda BAIK dari para peserta, agar beasiswanya tetap terjaga. Mendapatnya 70% tidak sulit, kan? Semoga saja.
Dari dalam kamar mandi, Zidan berteriak, membuat fokus Lagas dari dasinya teralihkan.
"GAAAS, BAGI SAMPO LO YA. YANG PUNYA GUE HABIS."
Lagas geleng-geleng kepala mendengar teriakan Zidan yang menurutnya tidak penting itu. Setelah dasinya selesai dipasang, Lagas pun mengambil ranselnya dan bergegas keluar kamar asrama.
Tak kunjung mendapat jawaban, Zidan pun melongokkan kepalanya ke luar. Melihat kamar asramanya sepi, Zidan berdecak.
"Yah... ni bocah ninggalin gue lagi," Zidan mengedikkan kedua bahunya. "Ya udah! Gue juga maunya ketemu Judy, hehehe."
***
Hiruk pikuk acara pelepasan peserta Pertukaran Pelajar tampaknya tidak membuat Judy jadi anak baik-baik. Buktinya, saat orang lain sibuk berbaris, dia masih saja di pinggir lapangan, mengobrol dengan Pak Dopi, petugas kebersihan sekolah yang sedang menyiram tanaman.
"Pak, itu tanamannya berapa kali sehari disiram?" tanya Judy, satu kabel earphone menggantung di salah satu bahu, sementara satunya lagi terpasang di telinga. Lagu kesukaan Judy diputar di sana. Membuat kepalanya mengangguk-angguk sesuai irama lagu.
Pak Dopi menjawab dengan semangat. "Yah, paling juga dua kali sehari, Non. Kalo keseringan, yang ada malah mati ini bunga. Kasian, nanti keluarganya merasa kehilangan."
Judy mengangguk-angguk. Entah karena lagu atau penjelasan Pak Dopi. Judy hendak bertanya lagi, tapi dirinya keburu ditarik oleh Lema.
"Katanya mau berubah! Ayo, baris," desis Lema.
Judy merengek. "Ah, enggak mau! Panas! Kulit gue nanti makin gosong."
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Judy dengan pasrah mengikuti langkah Lema menuju barisan. Semua peserta menatap aneh ke arah Judy. Langsung saja Judy membalas tatapan mereka dengan garang, seolah mengatakan, 'apa lu, liat-liat?'.
Lema mulai berbisik. "Kalo mau jadi lebih baik, ya sapa mereka, dong, Jud."
Judy melihat ke arah Lema. "Iiih, siapa sih, yang mau berubah? Jadi power ranger, maksud lo?"
Judy tahu candaannya garing. Dan Judy juga tahu, Lema serius dengan ucapannya. Karena saat itu juga, Lema melotot ke arahnya, dengan tangan diam-diam mencubit lengan Judy.
"Sapa," perintah Lema penuh penekanan.
"Iya-iya, bawel banget, sih."
Akhirnya, Judy masuk ke dalam barisan. Menepuk salah satu bahu gerombolan tersebut dan memasang seringai, membuat mereka yang menoleh, ketakutan setengah mati.
"Hai," sapa Judy, keliatan banget, kepaksanya! Apalagi dengan suara penuh penekanan dan aura intimidasi. "Gue Judy yang kemarin kabur karena mau boker pas hari pertama itu. Nama lo siapa? Kita temenan, yuk. Kali aja lo orangnya enggak two faces."
Lema lagi-lagi tepok jidat. Gimana mau berteman dengan orang lain, kalau kelakuan Judy masih begini?
"Eeh, i-iya, kenapa?" tanya salah satu mereka, memberanikan diri.
Judy semakin menyeringai. "Nama lo siapa? Gue nanya nama lo siapa! Malah tanya balik."
"E-eh, kabur yuk, Guys," ucap yang lain sambil menarik kuat-kuat temannya, melipir dari tatapan super tajam Judy.
Ketika Judy melihat ke arah Lema dengan tatapan, 'tuh kan, gue bilang juga apa, enggak guna!', Lema pun menarik napas panjang. Kenapa ya, Lema bisa bersahabat dengan Judy? Misteri.
Saat Lema sedang melamun kapan tepatnya dia berteman dengan Judy, tiba-tiba Judy sudah berlari menuju satu arah. Lema terperangah melihat Judy menghampiri Lagas, menarik ujung sweater laki-laki itu, sehingga Lagas menoleh dengan kaget. Melihat wajah Judy, wajah kaget Lagas berubah masam.
"Hei, gue mau ngomong," ucap Judy.
Ucapannya sungguh biasa saja, seperti obrolan curi-curi antara dua teman di pagi hari ketika upacara berlangsung. Namun, semua orang langsung melihat ke arah mereka. Otomatis saja, begitu, karena yah, mungkin Lagas-Judy cukup menarik dibanding baris-berbaris.
Baik Lagas maupun Judy tidak menyadari sudah menjadi perhatian semua orang–kecuali kepala sekolah, karena, syukurlah dia belum datang!
Lagas menaikkan satu alisnya. "Ya?"
"Gue mau mh-mhin–"
Mendengar ucapan gagu perempuan berambut panjang di hadapannya ini, satu dalam pikiran Lagas, Judy sudah gila, ya?
"Mau apa?" tanya Lagas masih berusaha bersabar. Dia seperti menghadapi Panji versi perempuan, tapi tampaknya, lebih sangar versi perempuannya.
Judy menyeringai. Sungguh, menurut Lagas, Judy cukup manis. Tapi sifat uniknya itu menutupi semuanya. Hancur lebur begitu saja. Apalagi setelah insiden 'gue boker', Lagas tidak menganggapnya sebagai perempuan lagi.
"Gue mau mhin-mhinta...," sekarang, Judy menggigit bibirnya. Jangan-jangan dia nahan boker?
"Apa?" tanya Lagas, kantung kesabarannya untuk Judy satu persatu habis.
"Mha..."
"Ma?"
Wajah Judy memerah. Sangat merah hingga ke telinga. Dari kejauhan, Lema menepuk jidatnya lagi. Ah! Kenapa sih, Jud? Masa minta maaf harus ngeden dulu?
"MAU IZIN KE TOILET!" cetus Judy seraya berbalik, lalu berlari kecil dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Entah bagaimana caranya, Judy bisa selamat sampai ke koridor dengan mata tertutup seperti itu.
Lagas bengong. Lema bengong. Semua orang bengong. Situasi lapangan untuk sesaat hening, hingga akhirnya kembali ramai oleh percakapan peserta dan pengurus acara.
Dan dari balkon kelasnya, Zidan tidak kuasa menahan tawanya lagi. Sumpah, muka Judy bener-bener b**o! Zidan enggak sabar untuk menghinanya ketika mereka bertemu lagi.
Ini masih pagi. Bahkan upacara belum dimulai. Tapi kekacauan terjadi lagi dari seorang Judy yang katanya enggak mau bandel lagi.