2. Awal Kesalahan

334 Words
3 tahun lalu.. "Prima, aku suka sama kamu." ucap gadis kepang dua dan berponi serta berkacamata bulat. Gadis itu berkata seraya menunduk, ia kagum tapi takut menatap mata hitam dihadapannya. Prima berdecih menatap gadis cupu yang selalu membuatnya naik darah. Ya bagaimana tidak, gadis itu selalu mengikuti dan memperhatikannya diam-diam. Ia selalu mengusik waktu berharga milik Prima. Jangan salahkan Prima, bila laki-laki itu mengusik gadis bodoh yang tidak tahu malu ini. "Lo serius suka sama gue?" tanya Prima pura-pura memastikan padahal ia sudah tahu jawabannya. Dilihatnya gadis itu mengangguk seraya mencuri tatap ke arahnya. "Jadi, kalo lo suka sama gue, kita harus apa?" tanya Prima mengintimidasi seraya maju mendekat ke arah Dona. "Emm,," Dona kebingungan menjawab pertanyaan yang Prima lontarkan, hal ini terlihat jelas dari gerak tubuhnya yang tiba-tiba gugup dan mencoba mengalihkan pandangan ke arah mana pun agar tak menatap lelaki di depannya. Jarak keduanya mulai terkikis karena Prima yang terus mendekat dan Dona yang perlahan memundurkan langkahnya hingga berakhir terhalang oleh tembok. Dona menjadi semakin gugup, ia menyadari bahwa gerak tubuhnya mulai terbatas, karena berada dalam kukungan Prima. Prima sedikit menunduk guna mensejajarkan wajah keduanya. Semakin lama wajah Prima semakin mendekat ke arah Dona, pandangan yang awalnya terpaku ke arah mata cantik gadis itu, perlahan turun menuju bibir ranum yang menggoda imannya. Tanpa pikir panjang Prima melepaskan kacamata gadis itu, mengunci tatapan dan menghipnotisnya agar mengikuti permainan kali ini. Ia mengecup lama seraya menyaksikan ekspresi terkejut milik gadis di depannya. Sangat lucu, pikirnya. Di sisi lain Dona merasa ini salah dan harus diakhiri, namun bukannya mendorong tubuh Prima, tangannya malah mengambang di udara. Dona merasa hati dan pikirannya tidak sinkron, dan ia bingung harus bagaimana. Melihat tidak ada penolakan dari lawan mainnya, akhirnya Prima melumat pelan bibir ranum itu sampai akhirnya menjadi lumatan tergesa yang mulai menerobos masuk mengabsen setiap inci ruang mulut yang kini ia rasa telah menjadi candunya. "Mulai sekarang lo adalah pacar gue!" ucap Prima tegas ketika ia melepaskan pagutan keduanya. Dan saat itulah kesalahan baru saja dimulai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD