“Lo kok Faiz bukannya namanya siapa itu Rafa, Rafa Rafa iz...?” Serobot bingung pak Hamdi.
“Izqian” lanjut spontan Salsa membenarkan “Rafa?” Tanya Salsa terkejut setelah saluran otaknya tersambung.
Faiz tersenyum lebar ke arahnya memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Akhirnya yang dibikin kaget bukan cuma dirinya sahabatnya pun juga kena.
Sesaat Salsa terbengong-bengong badannya lemas seketika jantungnya mogok berdetak “bagaimana ini bisa terjadi?.”
“Dunia ini memang sempit ya Sa?”
“Kamu katanya mau dijodohin ternyata dijodohinnya sama Aku.”
Faiz tertawa lepas seraya men*ampar bahu karibnya lupa jika harus menjaga sikap merasa konyol dunia mempermainkan dirinya dan juga sahabat wanitanya.
“Faiz!” Tegur pelan pak Wisnu ayah Faiz penuh penekanan seketika tawanya ngerem mendadak.
“Sa, perkenalkan ini istri Om.”
Keterkejutan tidak sampai di situ, yang dipanggilnya “kak” ternyata calon mertua refleks tangannya bergerilya di paha Faiz lalu memberikan cubitan yang sangat kecil.
Pria itu terkekeh kesakitan dan menampik tangan perempuan di sampingnya.
“Tidak papa kok Nak, sudah biasa risiko punya istri cantik.”
“Bukan cuma Salsa yang bilang istri Om pantas jadi kakaknya Faiz” jujur beliau diselingi tawanya yang khas.
Istri beliau di usianya yang tidak lagi muda masih sangat kelihatan cantik dan terlihat awet muda.
Banyak yang mengira jika ibunya Faiz itu juga anaknya pak Wisnu apalagi badan beliau di usia senjanya masih terlihat ideal dengan kulit putih ditambah berpakaian serba tertutup menambah aura kecantikan dan kesalehannya.
“Bagus jika Kalian sudah saling mengenal, o*******g itu. Jadi bagaimana, apa Kalian menerima perjodohan ini?.”
Pak Wisnu bertanya langsung pendapat keduanya tentang perjodohan yang dilakukan beliau dan sahabatnya kepada anak-anak mereka.
“Kalau Faiz terserah Salsa saja, mau dibawa ke mana hubungan Kita” jawab Faiz seraya melirik sahabatnya mengangkat dua kali alis tersenyum jail.
Gadis itu menyenggol balik pria di sampingnya kesal, bisa-bisanya langsung dilemparkan pertanyaan itu ke arahnya.
Mana bisa ia mengambil keputusan secepat itu jika yang dijodohkan ternyata sahabat karibnya sendiri.
Seandainya bukan dia pasti langsung diterima tapi masalahnya pria itu Faiz.
“Salsa ikut Ayah, Ibu saja.”
Meski hanya ibu sambung tapi beliau tetap menyayangi seperti putrinya sendiri, mendengar anak sambungnya berucap demikian hatinya tersentuh haru.
“Jangan seperti itu Nak, ini masa depan Kalian jadi Kalian yang putuskan” tutur pak Hamdi menasihati putrinya.
Salsa memandangi wajah kedua orang tuanya lantas beralih ke pak Wisnu sebelum menunduk dalam-dalam.
Tak kuasa hatinya menorehkan kesedihan di wajah orang-orang yang ia sayangi.
Mungkin ini yang terbaik menikah dengan orang terdekatnya tidak perlu lagi diragukan kebaikannya.
Orang tuanya pasti sudah memikirkan masak-masak menyerahkan anak gadisnya ke pria yang dipercayai.
Faiz juga selama ini baik kepadanya selalu ada saat dibutuhkan tidak pernah membuatnya kecewa apalagi menangis.
Tidak ada lagi alasan baginya menolak perjodohan ini.
“Insya Allah Salsa menerima perjodohan ini” ungkapnya dalam tundukkan mata.
“Alhamdulillah” ucap mereka serempak bahagia tidak terkecuali abangnya.
Salsa tersenyum kecil melihat kebahagiaan terpancar di wajah kedua orang tuanya.
Aris putra tertua pak Hamdi mengelus rambut panjang adiknya bahagia, tidak ada kesedihan sedikit pun di hati didahului sang adik menuju jenjang pernikahan.
“Mas bangga sama Kamu Dek.”
Gadis itu menoleh ke kiri mendengar kakak tertuanya yang selalu menjaga dan memanjakannya memberi pujian.
“Benar Sa Kamu mau nikah sama Aku? Jangan-jangan selama ini Kamu memendam rasa?” olok Faiz dan berakhir cubitan kecil di pahanya lagi.
***
Sejak pertemuan antar kedua belah pihak Faiz menyudikan diri mengantar jemput calon istri saat hendak pergi ke kampus meski Salsa sudah melarang tidak ingin dirinya dipecat dari pekerjaan.
Pertemuan kemarin disepakati lamaran akan dilangsungkan tiga minggu lagi dan pernikahan digelar setelah mereka selesai wisuda sekitar satu bulan lebih.
Usia mereka terpaut empat tahun, Faiz sesudah lulus SMA tidak langsung melanjutkan sekolahnya berhenti tiga tahun mewujudkan cita-cita menyalurkan hobi di dunia kuliner.
Hari ini, mereka baru selesai melakukan sidang skripsi dan keduanya dinyatakan boleh mengikuti wisuda bulan depan begitu pula dengan kakaknya Salsa, Fanya.
Sehabis Salsa menyelesaikan sidang ia berjalan kaki menuju kafe di mana calon suaminya bekerja tidak jauh dari kampus.
Faiz sudah lebih dulu menyelesaikan sidangnya selagi menunggu kepulangan calon tunangan pria itu lebih memilih kembali ke kafe.
Dia yang mengetahui kedatangan Salsa menghampiri dengan membawakan segelas jus alpukat di tangan.
“Setengah jam lagi ya gak papa kan? Mau makan apa? Aku traktir kali ini, jangan nolak!.”
Diserahkan buku menu yang ada di meja agar Salsa memilih sendiri makanan yang akan dia masak.
Namun, usahanya tidak dilirik sama sekali tidak ada niatan untuk membuka karena tahu harga di setiap menu terlalu mahal untuk kantong Salsa jika dimakan sendiri lebih baik dibelikan bakso sudah mendapatkan porsi jumbo.
“Masakanku enak lo Sa” bujuknya lagi seraya mendaratkan diri di kursi.
Capek berdiri menunggu wanita tersebut menyebutkan satu menu saja apalagi sampai dua, tiga aih senangnya jika itu terjadi.
“Nanti saja Kita makan di tempat lain, di sana itu dekat perempatan.”
“Aku ingin makan di sana Kita rayakan keberhasilan Kita.”
“Hah seblak lagi?” Tanya Faiz tidak percaya.
Tubuhnya langsung melorot di atas meja, dia hanya kepengen makan yang beda dari biasanya di hari spesial ini.
“Ya sudah kalau Kamu bosan, Kita makan apa? Bakso, mi ayam apa rujak cingur?” tawarnya sesuai isi dompet.
“Gak mau semua!” Tolak keras Faiz.
Dia ingin yang spesial jauh dari itu semua, sudah terlalu sering makan bakso dan teman-temannya apalagi seblak.
Hampir setiap Minggu pasti ada menu satu itu di lambungnya.
Faiz tahu kemampuan temannya hanya itu yang bisa Salsa berikan tapi kali ini dia memaksa akan bayar semua tagihannya tidak akan kalah lagi.
Kalau perlu jika Salsa mau belanja silahkan, bukannya selama ini ogah membayar tapi ya begitu selalu ditolak.
Sebagai lelaki sebenarnya malu tapi teman wanitanya sangat keras kepala tidak mau memakai uangnya sepeser pun.
Sering juga minta membayar sendiri-sendiri biar tidak terlalu memberatkan tapi juga ditolak, entahlah wanita susah ditebak.
“Ya yang bedalah masak itu-itu terus, ini merayakan keberhasilan Kita Salsa! Yang lebih berkesanlah.”
“Nanti Aku yang traktir Kamu boleh pesan ap...” sambungnya terputus oleh perintah Salsa.
“Ya. Sana-sana cepat kerja!.”
Usir Salsa karena melihat atasan temannya tersenyum ke arahnya jangan sampai Faiz dipecat karena mengobrol dengannya.
Setelah setengah jam menunggu mereka berdua mencari makan tapi belum sampai tujuan Salsa minta berhenti dan menepi.
“Sa, Aku sudah ngomong...” cicit tidak terimanya terputus kembali karena temannya sudah lebih dulu menarik kasar lengan.
“Kamu boleh ambil apa saja di sini sesuka Kamu! Kan Kamu tahu Aku belum bekerja jadi jangan aneh-aneh!” tawar Salsa.
Kalau di sini tabungannya cukup untuk mentraktir satu temannya itu.
“Kan Aku yang traktir Sa...”
Ucapan Faiz terputus untuk ke sekian kali setelah satu sendok penuh seblak super pedas punya Salsa masuk ke dalam mulut.
“Hah pedas! G*ila kuahnya cabai semua!.”
Selalu ini yang terjadi jika dia bilang ingin mentraktir padahal sudah ribuan kali dikasih tahu isi dompet tapi malah dikatain “jangan korupsi Kamu masuk penjara Aku yang repot” apa coba maksudnya?.
Saat enak-enaknya makan tidak menyangka akan bertemu lelaki yang sudah tiga minggu menghilang tanpa kabar.
“Sal...”
Gadis itu mendongak ke arah suara begitu pula Faiz yang tengah menyeruput mi yang berada di depannya.
“Mbak Fanya? Kok Kalian...?.”
“Sa mulai saat ini Kita putus.”