AUTHOR POV Sean tersenyum sinis mendengar permintaan yang terlontar dari mulut Elang. Wanita muda itu mengumpat dalam hati. Punya hak apa dia meminta bicara berdua?? Kepala Sean menggeleng. Sepasang matanya masih terkunci oleh sepasang manik yang dulu pernah sangat ia sukai. Jika dulu, Sean sudah pasti akan luluh dan menganggukkan kepala, berbeda dengan saat ini. Wanita itu terlihat tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk menghabiskan waktu, sekedar bicara berdua dengan Elang. “Tidak ada yang perlu dibicarakan berdua.” Kening Sean mengernyit. “Seingat saya, kita tidak punya masalah,” tambah wanita itu. “Ada, Sean.” Sepasang rahang Sean yang terkatup—saling menekan semakin kuat. Dia benci mendengar pria itu memanggil namanya. Sean sungguh benci, karena cara pria itu memanggilnya—san

