Menjelang sore, hujan mulai turun kembali. Di luar studio, suara rintik mulai terdengar dari balik kaca jendela. Selena sedang duduk sendirian di lorong menuju ruang wardrobe, tengah mengganti sepatunya. Tiba-tiba langkah kaki berhenti tepat di hadapannya. “Masih suka gerimis?” tanya Theodore. Selena menoleh. “Kenapa? Kau ingin bahas cuaca denganku sekarang?” Theodore mengangkat bahu. “Daripada membahas betapa dinginnya sushi yang tidak disentuh.” Selena menyembunyikan senyumnya. “Kau memang menyebalkan.” “Tapi kau tidak keberatan tadi malam aku datang.” Selena menatapnya. “Kau ingin kopi lagi malam ini?” Theodore menatapnya serius. “Boleh saja.” Selena berdiri perlahan. “Kau bisa mengetuk pintuku kapan pun, asal tidak membawa naskah atau sikap menyebalkanmu itu.” Theodore terdiam

