Mobil hitam milik Theodore meluncur lambat di sepanjang Lexington Avenue yang basah. Lampu jalan memantul di atas genangan air, menciptakan bayangan kuning keemasan yang berpendar di kaca mobil. Suasana di dalam kendaraan tetap senyap, hanya diiringi suara rintik hujan dan lagu jazz yang masih mengalun lembut dari radio. Ketika mobil berhenti tepat di depan gedung apartemen tempat Selena tinggal, hujan mulai turun lebih deras. Air mengguyur trotoar dan membasahi batu-batu di jalur pejalan kaki. Theodore mematikan mesin, tapi tak segera berbicara. Ia hanya menatap ke depan, kedua tangannya masih di setir. Selena menoleh padanya, membuka sabuk pengaman dengan pelan. “Terima kasih sudah mengantar. Ini… cukup menyelamatkan hariku.” Theodore menoleh, sorot matanya sulit dibaca. “Kau yakin, b

