2. Berita Buruk

1320 Words
Banyak yang hilang, entah itu diriku atau hati yang kuserahkan padamu. Ternyata kamu pun sudah hilang dari lingkup jangkauanku. ||| Eugene menghela nafas dan mengembangkan senyum lebarnya sebelum kemudian berbalik untuk menghadapi Oris yang baru terbangun. "Tidurmu nyenyak, hm?" tanya Eugene sembari mengelus puncak kepala Oris. Oris tersenyum kemudian meraih lengan Eugene dan menariknya ke arahnya. Oris memeluk Eugene erat. "O.. Oris?" Eugene jelas mempertanyakan perilaku Oris padanya, Oris tampak aneh di matanya. Namun, sensasi dingin dan lembab menyapa dadanya, membuat atensinya teralih. "Oris? Kau menangis?" Eugene menarik wajah Oris agar menjauh dari d**a bidangnya, dan benar saja, wajah Oris memerah dan sembab. Eugene menepuk pipi keponakannya pelan, "Kenapa nangis? Aku sudah di sini loh!" Tanpa terduga Oris memukuli d**a Eugene, "Oris kangen tahu! Kenapa pulangnya ga dari dulu?!" jerit Oris di tengah isakannya. Eugene menarik anak rambut Oris ke belakang telinga, ia tersenyum lembut kepada Oris. "Heh, aku ke sini juga curi-curi waktu loh, kalo aku dimarahin aku balik aja gimana?" goda Eugene. Oris menjerit kesal, ia mencakar lengan Eugene dan menangis lagi dalam pelukan pamannya. "Jangan, ih! Masih kangen!" Eugene terkekeh, lalu mengacak rambut Oris, "Ya udah, yuk turun." Oris menggeleng menolak, "Di sini aja dulu!" Eugene geram, ia menyelipkan kedua tangannya di ketiak Oris dan mengangkat tubuh Oris yang terasa amat ringan. Oris terpekik ringan dan mencengkram lengan Eugene. "Onkle!" protes Oris dengan wajah tertunduk, tatapan matanya terarah kepada Eugene, sebal dan malu. "Makan yang banyak dong, badanmu kaya kapas tau," ledek Eugene. Oris menarik leher sang paman dan bergelayut di sana, ia mengeratkan pelukannya, "Kalo turun, ya turun aja, Oris males jalan pokoknya," cetus Oris bodo amat. Eugene tersenyum serba salah, tangannya menahan p****t Oris. "Ga malu?" tanya Eugene, berusaha dalam diam untuk membuat Oris turun dengan sendirinya. Oris menggeleng, justru semakin mengeratkan pelukannya, membuat Eugene mendesis pelan, "s**t!" umpat Eugene. "Turun ya, berat lho, ga kasihan sama aku? Aku capek tahu," paksa Eugene, ia merasa hawa panas melingkupi tubuhnya. Tanpa aba-aba, Oris melepaskan tangannya yang melingkari leher Eugene, lalu menjauhkan tubuhnya hingga tubuhnya terbanting ke atas ranjang. Eugene terbelalak, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, tapi ekspresi Eugene berubah menjadi datar ketika sorot mata tajam Oris ia dapatkan. Eugene berbalik dan berjalan menuju pintu kamar, langkahnya berhenti sejenak ketika tangannya menggenggam gagang pintu, ia memutar kepalanya untuk menatap bagaimana ekspresi Oris. Namun, yang ia dapati adalah Oris yang tak berubah posisi sedari tadi. "Ayo turun," ajak Eugene. Oris bergeming. "Oris, aku datang kemari bukan hanya untuk mengunjungimu, ada banyak hal yang perlu aku bicarakan dengan kedua orang tuamu," jelas Eugene dengan suara berat dan tegas. Oris menanggapinya dengan kekehan sinis. "Tentu saja Oris mengerti, seorang konsultan keuangan profesional tidak akan mau membuang-buang waktu untuk datang ke kastil tua ini," ucap Oris retoris. Eugene merasa dadanya sesak, tidak pernah satu kali pun Oris berbicara dengan nada seperti itu padanya. Bahkan saat ia memutuskan untuk pergi jauh ke daratan lain 5 tahun yang lalu. "Oris, aku sungguh-sungguh. Aku juga ingin kau tahu kabar ini," paksa Eugene. Oris bangkit duduk dengan gerak kasar, ia melotot jengkel ke arah Eugene. "Kalau Oris benar-benar penting, ceritakan saja dulu di sini, anggap aja Oris ga punya kaki buat turun!" bentak Oris emosi. 5 tahun tidak bertemu, Oris merasa rindu yang ia tujukan pada Eugene sia-sia. Nyatanya, saat Eugene menatapnya sekarang, tak ada pelukan hangat seperti dulu atau basa-basi pembunuh rindu. Angan-angan indah itu hanya khayalan semata. Oris kecewa, sakit hatinya dalam. Ia menunggu Eugene selama ini hanya untuk hari ini, ia berharap Onkle-nya itu memeluknya tanpa banyak kata, tapi tidak. Seolah-olah Eugene telah menemukan gadis yang lebih cantik dan berharga untuknya. Seolah-olah, Eugene sedang menjaga hati perempuan lain. Oris menelan ludahnya pahit ketika mengingat hal terakhir, Eugene bahkan tak mau menggendongnya seperti yang lalu. Apakah karena dia sudah besar? "Pergilah, Oris menyusul nanti," putus Oris diikuti langkah kaki Eugene keluar dari kamarnya. Oris merangkak ke sisi ranjang dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai marmer yang dingin, tak akan ada yang peduli tentang sakitnya tulang langsung berbenturan dengan permukaan yang keras itu. Eugene telah pergi. "Oris, aku datang kemari bukan hanya untuk mengunjungimu, ada banyak hal yang perlu aku bicarakan dengan kedua orang tuamu." "Oris, aku sungguh-sungguh. Aku juga ingin kau tahu kabar ini." Ucapan Eugene kembali terngiang, membuat ribuan tanda tanya menyeruak dari otak Oris. "Hal yang perlu? Hal yang sangat penting 'kah?" gumam Oris. Ia memutuskan bangkit dan berjalan tertatih ke arah meja rias, merapikan pakaiannya dan rambutnya, memakai flat shoes yang senada dengan dress-nya, lalu menegakkan tubuhnya dan berjalan anggun keluar kamar. Bagaimanapun keadaan dan suasana hatinya, etika harus tetap digunakan. Langkah kaki Oris berhenti di ujung tangga, Onkle-nya memasang tampang serius sedang bercakap-cakap dengan kedua orang tuanya. Oris tau ini melanggar peraturan kesopanan, tapi apa lagi yang bisa ia lakukan selain menguping? Ia akan tahu sebelum Eugene memberitahu padanya, dan ia akan merasa bangga setelahnya. Dengan gerak pelan, Oris mengambil langkah ke arah salah satu tiang yang lebih dari mampu untuk menutupi tubuh mungilnya dari pandangan 3 orang yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu. Kini Oris mempertajam pendengarannya. "Tapi, apakah namamu masuk ke dalam daftar buronan internasional kelas dunia, Eugene?" tanya Tyaga. "Lalu, bagaimana kau bisa terbang kemari? Bandara akan diperiksa secara ketat, bukan?" Ekspresi khawatir tampak jelas di wajah Arsya. "Kasus kali ini berhubungan dengan orang-orang yang berkecimpung di dunia gelap tersebut, Kak. Dan yah, tentu saja namaku ada di daftar buronan kelas dunia, kalian bisa menengoknya jika kalian tidak percaya. Dan masalah bagaimana aku bisa terbang kemari, sudah jelas karena aku punya jaringan dan koneksi yang luas, salah satu staf milikku punya keluarga yang menjabat sebagai kepala imigrasi bandara, mudah saja melakukannya," terang Eugene dengan bahu terangkat santai. "Lalu, kau pasti punya alasan untuk menetap di hotel sekitar sini selama tiga malam kemarin 'kan?" tanya Arsya, "Alih-alih berlibur," lanjutnya ketus. Oris menghela nafas, jantungnya berdegup kencang ketakutan, kali ini ia menemukan fakta baru mengenai Eugene. Pamannya yang satu itu, tak sesederhana yang terlihat. "Aku menahan diri untuk memastikan mereka tak mengejarku hingga ke negara ini, sebelum aku menginjak rumah ini aku sudah memastikan diriku bersih dari jejak mereka. Aku hanya tidak ingin menimbulkan masalah baru untuk kalian, berurusan dengan mafia kelas kakap adalah salah satu yang paling aku hindari selama ini," jelas Eugene, berharap sang kakak tak lagi mempermasalahkannya. "Lalu, kabar baik apa yang akan kau katakan pada kami?" tagih Arsya. Eugene berdeham, ia menundukkan kepalanya takzim seolah akan mengatakan sesuatu hal yang akan membuat hidupnya menjadi lebih baik. Dan entah kenapa, hawa di sekeliling Oris terasa lebih dingin. Merasa jepit rambutnya agak kendor, Oris memutuskan untuk melepasnya dan menggenggamnya, sembari menunggu apa yang Eugene katakan. "Kak, aku meminta restumu, aku akan menikah," ucap Eugene dengan kesungguhan yang terpancar jelas di matanya. Oris blank, ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri, jepit rambut yang ia pegang terjatuh begitu saja ke lantai, membuatnya hancur tak berbentuk, sama seperti hatinya sekarang. Suara gaduh itu membuat atensi ketiga orang itu teralih pada lantai atas, di mana Oris berdiri dengan tatapan kosong. Wajah Arsya langsung pias, sedangkan Eugene spontan bangkit dan berlari ke arah tangga untuk mengejar Oris yang berjalan ke arah kamarnya. Eugene menarik tangan Oris tepat sebelum Oris masuk ke kamarnya, tapi Oris tetap berdiri membelakanginya, membuat Eugene merasa serba salah dalam sejenak. Ia mendekat ke arah Oris dan memeluknya erat. Oris memberontak sekuat tenaga, air matanya menetes deras dan mengenai tangan Eugene. "Oris, tenanglah! Ini hanya tentang pernikahan, okay? Aku tidak akan meninggalkanmu, aku selalu menjadi pelindung setiamu!" lirih Eugene berusaha menenangkan Oris. "Itu semua hanya janji-janji bodoh, Onkle! Oris yang bodoh, terlalu bergantung padamu, terlalu mengharapkanmu, Oris yang bodoh karena Oris menutup mata, mencoba lupa bahwa suatu saat nanti kau akan memiliki kehidupan sendiri! Ini semua karena Oris terlalu mencintaimu!" Pelukan Eugene longgar sejenak, ia terlalu kaget untuk menelan mentah-mentah ucapan Oris barusan. Dan situasi itu digunakan Oris untuk memberontak sekuat tenaga, membalik tubuhnya dan mendorong Eugene jauh-jauh dari ambang pintu kamarnya, lalu menutup pintu kamarnya dengan kasar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD